Mendidik Buah Hati

Tulisan yang baik ditulis oleh mereka yang berpengalaman atau mereka yang benar ahli dalam bidangnya. Buku ini ditulis sebagus dan seapik mungkin. Di dalamnya terdapat banyak refrensi yang bersumber al-qur’an, hadits dan cerita pendidikan ulama terdahulu.

Islam adalah agama yang komprehensif, memuat segala hal untuk kemaslahatan umat manusia dunia akhirat. Islam adalah ibadah dan kepemimpinan, jihad dan dakwah. Demikian pula tentang pendidikan yang ruh dan tiangnya bersumber dari syariat islam. Masing dari individu adalah pemimpin, dan masing pemimpin akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya. Pemerintah terhadap rakyatnya, pempimpin terhadap bawahannya. Hingga skala keluarga, suami akan dipertanggung jawabkan terhadap keluarganya. Anak istrinya berada di bawah naungan suami.

Dalam keluarga, peran perempuan (istri) sangat krusial. Segala kegiatan dalam rumah tangga bertumpu pada perempuan. Baik dari melayani, menjaga, mendidik dan melindungi adalah peran perempuan. Pendidikan dalam keluarga sebenarnya tugas seorang suami, namun untuk buah hati, maka yang sangat berpengaruh terhadap karakter, pendidikan dan pola pikir buah hati yang lebih dominan adalah peran ibu.

Sosok ibu sangatlah berperan dalam mendidik buah hati. Bahkan, pendidikan pertama kali adalah dari seorang ibu. Selain mengandung, sifat perasa seorang perempuan lebih disukai buah hati daripada sosok ayah. Sehingga, seringkali sosok ibu menjadi tempat ternyaman buah hati dalam mencritakan segala rasa yang dialami.

Meski sosok ibu lebih dekat dengan buah hati, bukan berarti sosok ayah hilang dan tak berperan sama sekali. Kepribadian Ayah juga berperan dalam mencetak kepribadian buah hati. Bagaimana dia berbicara, bergaul dan berteman lambat laun akan menjadi figur. Sosok yang akan meningkatkan mental buah hati.

Dr. Nayif memulai tulisannya dengan hal yang sangat mengesankan. Hal yang diajukan pertama kali dalam memulai tulisannya adalah bagaimana para orang tua menanam keimanan pada buah hati. Tentu dengan berbagai pendekatan. Sejauh ini, banyak para orang tua lebih bangga dan senang bila buah hati mengalami perkembangan yang sangat pesat dan seringkali lupa menanamkan keimanan dalam buah hati.

Baca Juga:  Parenting dalam Al-Quran: Pentingnya Peran Ayah dalam Mendidik Anak

Anak kecil seperti tanah yang subur, jika ditanami benh yang unggul, maka ia akan mengahasilkan tanaman dan buah-buahan yang berkwalitas tinggi. Namun, jika tanah itu dibiarkan dan ditelantarkan, maka akan tumbuh duri dan pepohonan yang tidak bermanfaat.(17)

Orang tua harus persikap proporsional dalam mengajarkan konsep keimanan. Mengajarkan sesuatu yang belum mampu, atau memaksa mereka untuk memahami yang belum dibebankan syariat kepada mereka harus sesuai takarannya. Al-ghazali menyebutkan bahwa anak adalah amanah bagi orang tua, hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal dan masih bersih dari segala goresan dan coretan. Jiwanya mudah menerima setiap goresan, akan menyukai apa saja yang didekatkan.

Biarkan buah hati berekspresi dengan ruang khayal, membangun kemandirian dan membekal mereka dengan rasa percaya diri. Jangan terlalu banyak mengatur dan membatasi ruang gerak buah hati selama tidak menyalahi aturan syariat. bahkan jika menyalahi, bimbing dan tegur dengan bahasa yang lalus, penuh dengan kasih sayang. Jangan menegur dengan bahasa yang kasar, penuh celaan dan hinaan.(57)

Celaan dan hinaan adalah pengaruh, dan respon yang paling utama menghadapi buah hati adalah bersabar, bersikap lemah lembuh. Seringkali terjadi, orang tua terlalu cepat merespon kesalahan yang dilakukan buah hati, karena pandangan dan wawasan yang sempit atau pikiran yang pendek.

Allah menciptakan manusia dilengkapi dengan potensi, kemampuan dan bakat. Tugas dari orang tua adalah memumbuh dan mengembangkan potensi yang dimiliki buah hati. kemampuan menemukan dan menggali bakat juga merupakan sebuah bakat. jangan paksa buah hati meniru segalanya yang ada pada orang tua; karena mereka diciptakan di zaman yang berbeda dan akan hidup di zaman yang berbeda pula, begitu kira-kira yang pernah dikatakan Ali bin Abu Thalib.

Baca Juga:  Resensi Buku: Menjadi Generasi Optimis dan Nasionalis

Sangat disayangkan banyak sekali seseorang memiliki potensi, namun potensi yang ada pada diri tependam, bahkan berakhir mati. Potensi itu pudar dan sirna, karena tidak ada yang memotivasinya dengan kalimat posetif. Mari gali potensi dan bakat yang tersembunyi dalam diri buah hati kita. Belajar memberi pujian, sanjungan dan apresiasi di hadapan khalayak.

Keharusan orang tua mendidik buah hati dari bayi sampai baligh. Jika sudah baligh, maka beban dosa yang dilakukan anak ditanggung sendiri. Agar anak tidak terjerumus ke jalan yang salah. Semua orang tua ingin menjadi contoh yang terbaik bagi anak-anaknya. Jadilah pribadi yang baik dan sopan terhapan apapun, siapapun dimanapun. Karena itu akan menjadi contoh bagi buah hati dalam membentuk kesehariannya.

Jika buah hati hidup di keluarga yang kasar, berbicara kotor dan suka mengumpat, maka buah hati akan terbentuk pribadi yang kasar, suka mengumpat, berkata kotor. Karena, segala sesuatu yang berada di sekitar buah hati adalah gambar dan akan disimpan di memori otak mereka.

Buku ini disajikan dengan gaya bahasa yang lugas, sederhana, mudah dimengerti. Segala rujukan dan contoh yang diambil penulis semuanya bersumber dari kitab suci, hadits, qaul ulama. Bisa dipastikan buku ini adalah buku pendidikan buah hati selaras dengan syari’at islam.

Buku ini mengajak para pembaca untuk lebih jeli lagi segala sesuatu yang terjadi pada buah hati. apa dan bagaimana cara mendidik buah hati dengan baik semuanya ada dalam buku ini. []

Buku               : Creative Islamic Parenting
Penulis           : Syekh Dr. Nayif al-Qurasy
Penerjemah   : M. Zaini
Penerbit         : Zaduna
Terbitan         : Juni, 2021
ISBN               : 978-623-96441-4-8
Tebal Buku    : 180
Peresensi       : Musyfiqur Rozi

Musyfiqur Rozi
Alumnus Institut Ilmu Keislaman Annuqayah dan Santri Annuqayah Lubangsa Utara

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Pustaka