45 Thariqah NU yang mu'tabarah (berstandar)

Tidak semua aliran Thariqah diakui keabsahannya oleh Nahdlatul Ulama (NU). Setidaknya ada 45 Thariqah NU yang mu’tabarah, yakni Thariqah yang berstandar. Hanya mereka yang memenuhi standar saja yang diperkenankan masuk menjadi Banom NU dalam JATMAN, Jamiyyah Ahluth Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyyah. Seperti apa standar Thariqah versi NU? KH Aziz Masyhuri, pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah Denanyar pernah melakukan penelitian tentang aliran Thariqah di Indonesia. Kesimpulan yang didapat; keberadaan Thariqah di tanah air ini ada sekitar ribuan. Jumlah itu dianggap wajar seiring dengan dinamika yang mengelilinginya.

Salah satu contoh, ada sebuah aliran Thariqah yang demikian berpengaruh dan memiliki massa besar di salah satu kota di Jawa Timur, namun dalam perkembangan berikutnya terjadi perpecahan dan masing-masing berdiri sendiri. Kondisi itu masih diperparah lagi dengan campur tangan pemerintah yang berkuasa kala itu. Jadilah berkeping-keping. Dunia Thariqah memang rentan terpecah-pecah dan ingin berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing menjadi seorang Mursyid.

Di Indonesia, tercatat ada bermacam-macam Thariqah dan organisasi yang mirip Thariqah. Beberapa di antaranya hanya sebagai Thariqah lokal yang berdasarkan pada ajaran-ajaran dan amalan-amalan guru tertentu. Thariqah lainnya, biasanya yang lebih besar, sebetulnya merupakan cabang-cabang dari gerakan Sufi internasional, misalnya Khalwatiyah (Sulawesi Selatan), Syattariyah (Sumatera Barat dan Jawa), Qadiriyah, Rifa’iyah, Idrisiyah atau Ahmadiyah, Tijaniyah dan yang paling besar adalah Naqsyabandiyah.

Apa yang telah dilakukan Kiai Aziz adalah mencoba menampilkan profil Thariqah yang telah berstandar dan sesuai dengan pakem Nahdlatul Ulama, yakni Thariqah yang Mu’tabarah. Pada Muktamar ketiga yang berlangsung di Surabaya (1928), kala itu ada sejumlah kalangan yang mempersoalkan keberadaan Thariqah Tijaniyah; apakah memiliki sanad yang muttashil kepada Rasulullah? Para Ulama telah menetapkan bahwa Tijaniyah adalah termasuk yang dibenarkan lantaran sanadnya muttashil (tersambung).

Baca Juga:  Dunia Santri Community Gandeng PDNU Sukses Gelar Kajian Isu Transgender

Secara singkat, Kiai Aziz mengemukakan bahwa kriteria kemu’tabaran sebuah Thariqah adalah dapat dilihat dari sanad para Mursyidnya yang muttashil sampai kepada Rasulullah SAW. Demikian pula yang tidak bisa ditawar adalah ajaran yang disampaikan harus berpedoman pada pakem NU; yakni dalam fiqh mengikuti salah satu imam empat. Dalam aqidah mengikuti Imam Asy’ari dan Maturidi.

Dari terselenggaranya pertemuan para ahli Thariqah dan Sufi di Jakarta beberapa waktu yang lalu, ada beberapa manfaat yang bisa diambil oleh Indonesia sebagai tuan rumah. Paling tidak, hal ini akan menstimulus ahli Thariqah untuk bisa bersatu. Bila persatuan Thariqah bisa digagas, akan berdampak positif bagi Indonesia. Dan kalau pertemuan dan persatuan ini bisa diselenggarakan secara berkesinambungan, manfaat berikutnya adalah akan terjadi saling komunikasi antar pengikut dan Mursyid Thariqah yang ada.Pertemuan seperti itu dapat dijadikan sebagai wahana untuk melakukan koreksi sekaligus klarifikasi atas beberapa informasi yang beredar.

Seperti dalam kasus Thariqah Naqsyabandiyah Haqqaniyah. Di sebagian negara seperti Syria, ada beberapa Mursyid yang mempertanyakan kemu’tabaran Thariqah ini. Karenanya, di pertemuan yang diselenggarakan oleh PBNU yang menghadirkan banyak ahli thariqah dan Sufi, akhirnya dapat dijadikan sarana untuk menjelaskan keberadaan thariqah yang dimaksud.

Prakarsa PBNU sepertinya disambut positif berbagai kalangan khususnya ahli thariqah dan Sufi dunia. Tidak salah kalau kemudian peserta berharap, Indonesia menjadi harapan bagi keberlangsungan pertemuan ini di kemudian hari. Dan hal ini tentunya bukannya tanpa tanggung jawab. PBNU dan Thariqah di tanah air harus menjaga kepercayaan ini demi kelangsungan dan masa depan Thariqah di belahan dunia. Tanpa itu, harapan dunia akan sia-sia.

Berikut ini 45 Thariqah yang mu’tabarah dan berstandar di Lingkungan Nahdlatul Ulama (NU):

Baca Juga:  Cinta Ilmu dan Ulama Bersatu, Prof KH Ali Maschan Ingatkan Dua Pesan Pendiri NU

1  Abbasiyah

2  Ahmadiyah

3  Akbariyah

4  Alawiyah

5  Baerumiyah

6  Bakdasyiyah

7  Bakriyah

8  Bayumiyah

9  Buhuriyah

10 Dasuqiyah

11 Ghozaliyah

12 Ghoibiyah

13 Haddadiyah

14 Hamzawiyah

15 Idrisiyah

16 Idrusiyah

17 Isawiyah

18 Jalwatiyah

19 Junaidiyah

20 Justiyah

21 Khodliriyah

22 Kholidiyah Wan Naqsyabandiyah

23 Kholwatiyah

24  Kubrowiyah

25  Madbuliyah

26  Malamiyah

27  Maulawiyah

28  Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah

29  Rifa’iyah

30  Rumiyah

31  Sa’diyah

32 Samaniyah

33 Sumbuliyah

34 Syadzaliyah

35 Sya’baniyah

36 Syathoriyah

37 Syuhrowiyah

38 Tijaniyah

39 Umariyah

40 Usyaqiyah

41 Usmaniyah

42 Uwaisiyah

43 Zainiyah

44 Mulazamatu Qira’atul Qur’an

45 Mulazamatu Qira’atul Kutub

Itulah 45 Thariqah NU yang mu’tabarah (berstandar). Semoga dapat dijadikan rujukan dan pegangan untuk berthariqah dengan mursyid yang jelas sanadnya. []

Artikel ini sudah pernah dimuat di https://www.muslimoderat.net/2019/04/inilah-45-thariqah-mutabarah-nahdlatul.html

Redaksi
Redaksi PesantrenID

Rekomendasi

2 Comments

  1. Kepada siapa bila saya talqin thoriqoh kodiriyah wanaqsabandiyah

  2. […] diketahui, Tarekat Syattariyah dibumikan oleh Syekh Abdurrauf Assinkili (1615-1693), mutfi Kesultanan Aceh, yang mendapatkan sanad […]

Tinggalkan Komentar

More in Pustaka