Berbicara Sanad Al-Qur’an di Indonesia tidak bisa terlepas pada salah satu sosok Ulama’ Nusantara yakni KH. Munawwir Bin Abdullah Rosyad, Pendiri Pondok Pesantren Krapyak, Jogjakarta. Sosoknya telah banyak berjasa dalam Syiar Al-Qur’an, tidak ada hanya satu riwayat saja namun juga Tujuh Qira’at dan Empat Belas Riwayat bacaan Al-Qur’an. Dari sekian banyak muridnya, tersebut satu nama yang begitu istimewa yang karenanya Ilmu Qira’at Al-Qur’an semakin membumi di Nusantara dan dikenal di penjuru Arab sampai Al-Azhar Mesir, beliaulah KH. Muhammad Arwani Amin Kudus.

Adalah DR. KH. Muhammad Agus Salim, Lc, MA, Alumni Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus, Jawa Tengah (2001-2006) yang mengangkat Masterpiece Kyai Arwani ini dalam Kajian Tesisnya di Pascasarjana Universitas Al-Azhar Kairo Mesir dengan judul فَيْضُ الْبَرَكَات فِي سَبْع القِرَاءَت للشيخ مُحَمَِد أَرْوَانِي أمين مِن بِدَايَة سورة الفاتحة إلى أخر سورة الأنعام دِرَاسَةً وَتَحْقِيْقًا (Kajian dan Penelitian Kitab Faidhul Barokat Dalam Membahas Tujuh Qira’at Karya Syaikh Muhammad Arwani bin Amin Said dari Indonesia dari awal Surat Al-Fatihah sampai akhir Surat Al-An’am, ).

“Tesis ini saya tulis selama empat tahun tersebut mengundang decak kagum dari pengujinya seperti Prof. DR. Abdul Hamid Muhammad Abu Sikin, Prof. DR. Ahmad Thoha Hasanain Sulthan (Promotor). Saat itu yang menjadi penguji adalah Syaikh DR. Usamah Muhyidin Muhammad Abduh dan DR. Abdul Fattah Abul Futuh Ibrahim yang sangat mengapresiasi karya Kyai Arwani yang luar biasa. Meski beliau tidak pernah sekalipun bukan orang Arab dan tidak belajar ke Arab tetapi tulisannya seperti orang arab dan beliau kagum pada Kyai Arwani yang mana Faidhul Barokat adalah kitab pertama yang menjama’ bil Ayat Qira’at Sab’ah” Ungkap DR. KH. Muhammad Agus Salim, Lulusan Doktoral Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dan Pengurus Wilayah Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz Nahdlatul Ulama (PW-JQH NU) Jawa Tengah

“Saat saya mengajukan tesis tentang Faidhul Barakat-nya Mbah Arwani ini, langsung diterima oleh para dosen, padahal pengajuan judul tesis di Al Azhar itu terkenal sangat sulit. Dan kitab ini betul-betul memberkahi, sebab setelah saya, yang meneliti mulai Fatihah sampai Al An’am, ada beberapa mahasiswa Al Azhar yang melakukan penelitian lanjutan pada Faidhul Barakat, satu dari Jombang, dua dari Mesir sendiri.” Tambah Dr. KH. Muhammad Agus Salim, sebagaimana yang tertuang dalam catatan DR. Sahal Mahfudz, Dosen Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an Kudus dalam Acara Studium General Bedah Tesis Faidhul Barokat di Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus, 03 November 2022 silam.

Sebelumnya KH. Sya’roni Ahmadi, murid sekaligus Besan Kyai Arwani juga pernah mengalami hal serupa, saat beliau menunjukkan Faidhul Barokat kepada seorang Pakar Qiro’at di Makkah al-Mukarramah. Lantas ulama tersebut berkomentar: “Tidak sembarang orang bisa menulis kitab ini kecuali seorang Muqri’ Kabir. (Ahli Qur’an yang Agung)”.

Setelah itu pada giliran seorang ulama Mesir Syaikh Ahmad Yasin Muhammad Abdul Mutholib. Ketika ditunjukkan kitab Faidul Barokat ini beliau spontan bersyair untuk memuji kealiman Kyai Arwani:

بُشْرَاكَ ﻳَﺎطَالِبًا لِلْعِلْمِ ﻣِﻦْ قُدْسٍ # فُزْتُمْ بِقُرْبٍ ﺇِﻟَﻰ الرَّحْمٰنِ ﺑِﺎلْأَرْوَانِ

. “Betapa bahagianya para pencari ilmu dari Kudus, beruntung bisa dekat Sang Rahman dengan Kyai Arwani”

ﻣَﻦْ يُضْحِى ﻓِﻲ ﻗُﺮْﺑِﻬِﻢ زَمَنًا وَلَوْ ﻳَﻮْﻣًﺎ # يَرْجِعُ إِلَى أَهْلِهِ بِالْقَلْبِ رَيَّانِ

“Siapa saja yang berada sezaman didekatnya meski hanya sehari, akan pulang ke keluarganya dengan hati berseri-seri” .

ﺍلمَعِيْشُ ﻓِﻲ حَيِّهِمْ فَضْلٌ وَتَكَرُّمُهُ # ﻣِﻦْ ذِﻱْ ﺍلجَلَاﻝِ الَّذِي بِالْفَضْلِ أَوْلاَنِ

. “Hidup bersama mereka adalah anugerah dan kemuliaan dari Sang Pemilik Keagungan yang telah memberiku anugerah tiada terperi (sebab jumpa dengan Kiai Arwani)” .

الأَجْرُ بِقَدْرِ التَّعَبِ

“Hasil tergantung dari tingkat kepayahan” Begitulah pepatah Arab mengatakan. Tiada mungkin Kyai Arwani mendapatkan keberkahan ilmu dan pujian yang luar biasa dari ulama dunia jika tidak melalui perjuangan lahir dan bathin yang luar biasa. Maka marilah kita sejenak mengenang kisah singkat perjalanan panjang Kyai Arwani dalam mengaji hingga mampu melahirkan Faidhul Barokat fi Sab’i al-Qira’at yang legendaris dan penuh keberkahan ini.

Rosihan Anwar, dalam Biografi KH. Muhammad Arwani Amin Said menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada hari Selasa Kliwon pukul 11.00 siang tanggal 15 Rajab 1323 Hijriyah. bertepatan dengan 5 September 1905 Masehi. di Desa Madureksan Kampung Kerjasan Kota Kudus Provinsi Jawa Tengah. Beliau merupakan putra dari pasangan Haji Amin Said bin KH. Imam Haramain dan Hajjah Wanifah yang masih bersambung nasabnya dengan Pahlawan Nasional, Pangeran Diponegoro.

Nama asli beliau sebenarnya adalah Arwan. Sejak kepulangannya dari Haji yang pertama pada 1927 M. di belakang namanya menjadi “Arwani”. Sementara Amin bukanlah nama gelar yang berarti “orang yang bisa dipercaya”. Tetapi nama depan ayahnya; Amin Sa’id. Kyai Arwani Amin adalah putra kedua dari 12 bersaudara. Saudara-saudara beliau secara berurutan adalah Muzainah, Arwani Amin, Farkhan, Sholikhah, H. Abdul Muqsith, Khafidz, Ahmad Da’in, Ahmad Malikh, I’anah, Ni’mah, Muflikhah dan Ulya.

Baca Juga:  Hubungan Tradisi Keilmuan Pesantren NU di Indonesia dan Al-Azhar Mesir

Dari sekian saudara Kyai Arwani, yang dikenal sama-sama menekuni al-Qur’an adalah Farkhan dan Ahmad Da’in, adiknya Kyai Arwani ini bahkan terkenal jenius. Karena beliau sudah hafal al-Qur’an terlebih dahulu daripada Mbah Arwani. Yakni pada umur sembilan tahun. Beliau bahkan hafal hadits Bukhori Muslim dan menguasai Bahasa Arab dan Inggris. Kecerdasan dan kejeniusan Mas Da’in inilah yang menggugah Kyai Arwani dan adiknya Farkhan, terpacu lebih tekun belajar.

Konon, menurut KH. Sya’roni Ahmadi, kelebihan dari Kyai Arwani dan saudara-saudaranya adalah berkat orangtuanya yang senang membaca al-Qur’an. Di mana orangtuanya selalu mengkhatamkan membaca al-Qur’an meski tidak hafal. Selain barokah, orang tuanya yang cinta kepada al-Qur’an, Kyai Arwani Amin sendiri adalah sosok yang sangat haus akan ilmu. Ini dibuktikan dengan perjalanan panjang beliau berkelana ke berbagai daerah untuk mondok, berguru kepada ulama-ulama selama tak kurang 39 tahun lamanya.

Di masa mudanya Kyai Arwani Amin muda berkelana menempuh pendidikan di berbagai tempat, diantaranya Madrasah Mu’awwanatul Muslimin, Kenepan dekat Masjid Menara Kudus pimpinan KH. Abdullah Sajad dari usia 7 tahun. Selanjutnya beliau belajar di Pondok Pesantren Jamsaren, Surakarta dan belajar di Madrasah Mambaul Ulum dibawah asuhan KH. Idris Jamsaren selama 7 tahun. Di pesantren tersebut beliau juga mulai mengenal ilmu Qira’at bahkan mendapatkan sanad Al-Qur’an Qira’at Imam Ashim Riwayat Hafs dari gurunya, Kyai Mas Haji Abu Su’ud bin Syaikh Yusuf as-Samarani (Semarang) al-Makki.

Selanjutnya Kyai Arwani melanjutkan belajar kepada Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Selama empat tahun (1926-1929) beliau belajar kepada Pendiri Jam’iyyah Nahdatul Ulama ini. Selama berada di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang beliau kembali mendalami ilmu Qira’at Sab’ah dengan merujuk kitab Sirajul Qari’ al-Mubtadi’ wa Tidzkar al-Muqri’ al-Muntahi karya Imam Ali Usman Ibnu al-Qosih yang merupakan Syarah dari kitab Syatibiyyah. Kitab tersebut diajarkan langsung oleh KH. Hasyim Asy’ari setiap jam tujuh pagi hari. KH. Hasyim Asy’ari juga termasuk sebagai Qurra’ Makkah sebagaimana yang tertulis dalam kitab al-‘Inayah bil Qur’an al-Karim fi Makkah al-Qur’an al-Mukarramah.

Imam Muhammad Ibnul Jazari dalam An-Nasyr fi Qira’at Asyr menyebutkan bahwa Qira’at Sab’ah adalah ilmu yang mempelajari mengenai tatacara pengucapan lafadz-lafadz Al-Quran dan perbedaannya dengan menisbatkan bacaannya kepada para Imam Qira’at yang jalur periwayatannya bersambung sanadnya sampai kepada Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Salam. Dimana Rasulullah pernah bersabda:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ (رواه البخاري)

Sesungguhnya Al-Quran diturunkan dalam 7 huruf, maka bacalah apa yang mudah bagi kalian darinya” (HR Al Bukhari)

Pengetahuan KH. Arwani tentang Qira’ah Sab’ah semakin berkembang pesat ketika beliau belajar kepada KH. Munawwir bin Abdullah Rosyad, Krapyak, Jogjakarta. Saat itu sepulang dari menunaikan ibadah haji, beliau diminta oleh ayahandanya, Haji Amin Said untuk mengantarkan adiknya, Ahmad Dain untuk mondok di Krapyak, karena saat itu adiknya sudah selesai menghafalkan Al-Qur’an dan ingin disambungkan sanadnya. Maka berangkatlah beliau ke Krapyak pada sekitar tahun 1929. Informasi terkait keberangkatan Kyai Arwani mulai mondok di Krapyak kami dapatkan dari KH. Hamid Abdul Qodir, cucu KH. Munawwir yang saat ini mengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.

Sesampai disana, KH. Arwani terkagum pada pola pengajaran KH. Munawwir yang juga mengajarkan Qira’at Sab’ah dengan menekankan pada praktek sementara pada tataran kajian teoritis, KH. Arwani sudah menguasainya semenjak empat tahun belajar kepada KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, yang merupakan kawan KH. Munawwir saat belajar kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Maka timbullah hasrat dari KH. Arwani untuk kembali belajar Sab’ah, maka ketika beliau menghaturkan keinginanannya tersebut maka sang guru yang sudah 21 tahun (1888-1909) mengaji di Haramain ini mengatakan
“Jika engkau ingin mengaji Sab’ah, maka engkau harus hafal Al-Qur’an dulu”, ungkap KH. Munawwir.

Maka disinilah perjalanan Kyai Arwani yang saat itu telah berusia sekitar 25 tahun. Menurut penuturan KH. Asmawi Abdul Qohar, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Nurul Abrar, Kranggan, Kebumen, Jawa Tengah salah seorang muridnya Kyai Arwani, bahwa gurunya menyelesaikan hafalan Al-Qur’an Riwayat Imam Hafs Qiraat Imam Ashim dalam tempo sekitar satu setengah tahun.

Selesai Menyetorkan hafalan Al-Qur’an Riwayat Hafs, maka Kyai Arwani mulai membaca Qira’at Sab’ah kepada KH. Munawwir. Dikisahkan bahwa saat itu Kyai Arwani setor hafalan pada jam dua malam. Namun dua jam sebelumnya beliau sudah menyiapkan bahan untuk setoran hafalan Qira’at Sab’ah yang terbilang cukup rumit. Saat itulah beliau menulis catatan pengajiannya yang sebelumnya pernah beliau pelajari saat mengaji kitab Hirzul Amani Wa Wajhu at-Tahani atau dikenal dengan Syatibiyyah karya Imam Abu Muhammad Al-Qasim bin Firruh Asy-Syatibi, Ahli Qira’at dari Andalusia (Spanyol) yang makamnya berada di Muqattam, Mesir kepada Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, kawan seperguruan dengan KH. Munawwir ketika masih belajar kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Kelak dari catatan tersebut akan menjadi embrio dari sebuah kitab yang fenomenal dalam pengkajian Qira’at Sab’ah di Indonesia, kitab tersebut bernama Faidhul Barokat fi Sab’i al-Qira’at yang menurut KH. Muhammad Ulil Albab Arwani, kitab ini ditulis ayahnya pada tahun 1936.

Baca Juga:  Setelah 86 Tahun, Karya KH. Machfudz Shiddiq tentang Puasa ini Diterbitkan Kembali

Dalam muqaddimah Kitab Faidhul Barokat, Kyai Arwani menuliskan tentang kisah guru dan kitab yang menjadi rujukannya dalam menuliskan kitab ini.

فيقول العبد الفقير إلى عناية ربه القدير محمد أرواني بن محمد أمين القدسي عاملهما الله بلطفه الخفي والجلي. لما قرأت القرأن الكريم من أوله إلى أخره ختمة كاملة بالقراءت السبع من طريق حرز الأماني على اجل الشيوخ وحيد دهره وزمانه وفريد عصره وأوانه قدوة القراء الكرام شيخنا محمد منور بن عبد الله الرشاد الجكجاوي

“Berkata hamba yang fakir yang mengharap pertolongan Tuhan Yang Maha kuasa yakni Muhammad Arwani bin Muhammad Amin Kudus, Semoga Allah memberikan kelembutan baik samar maupun tampak. Ketika saya membaca Al-Qur’an Al-Karim dari Awal hingga akhir dengan sempurna dengan Qira’at Sab’ah dari Thariq Hirz Amany kepada guru yang agung pada zamannya dan di masanya sebagai teladan para Ahli Qur’an yang mulia, guru kita KH. Muhammad Munawwir bin Abdullah Ar-Rosyad Jogjakarta.”

Motivasi Kyai Arwani menyusun Faidhul Barokat ini adalah merujuk pada Nasehat dari al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafii sebagai berikut:

العِلْمُ صَيْدٌ وَاْلكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِاْلحِبَالِ اْلوَاثِقَةِ
فَمِنَ اْلحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَة وَ تَتْرُكُهَا بَيْنَ اْلخَلاَئِقِ طَالِقَةً

“Ilmu bagaikan hewan buruan, dan tulisan/pena adalah ibarat tali pengikatnya. Oleh karena itu ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat, Adalah tindakan bodoh ketika berburu rusa kemudian setelah rusa itu berhasil ditangkap, kamu biarkan saja dia tanpa diikat dikeramaian.”

وهذه السطور مشتملة على ما يحتاج إليه من الوجوه المشهورة وتوضيح كيفية أدائها وتلاوتها في الترتيب مع رعاية الوقوف غالبا على رأس كل اية لكونها عن النبي عليه الصلاة والسلام مروية وحررتها على هذا السياق ليكون أسهل للمبتدئين الصغار روما للإختصار.

“Tulisan ini mencakup hal penting berupa wujuh (model-model) bacaan yang masyhur disertai penjelasan tentang bagaimana cara membaca dan bertilawah secara berurutan dengan memperhatikan waqaf pada sebagian besarnya di akhir ayat, sebagaimana hal ini merupakan yang diriwayatkan dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam, dan saya berusaha menyusunnya dengan urutan seperti ini agar mudah bagi para pemula”

وإن علم القراءات السبع المشهورة أعلى العلوم وأعظمها وقبلة الإسلام وأدام التفسير. وإحاطة جميعها من فروض الكفاية ولا تحصى المؤلفات فيه فهو فن اهتم به أسلاف العلماء ولا يزيد الحوض فيه إلا شرفا وهذا العلم أحب العلوم والذها إلى النفوس المؤمنة يعرفه من ذاقة

“Dan Sesungguhnya ilmu Qira’at Sab’ah Yang Terkenal itu adalah ilmu yang agung dan menjadi rujukan umat Islam dan mengandung banyak penafsiran. Dan mempelajari ilmu ini adalah bagian dari fardu kifayah yang tak terhitung kitab yang dikarang darinya. Karena Qira’at Sab’ah ini adalah sebuah ilmu yang sangat penting dan menjadi warisan para ulama, namun sedikit yang mendalaminya kecuali orang-orang yang mulia. Dan ilmu ini adalah yang paling aku cintai yang memberikan kenikmatan di jiwa orang mukmin bagi mereka yang merasakannya

لكن أفاضل زماننا في أمثال ديارنا الجاوية لم يمدوا أيديهم إلى كتبه ولم يدارسوه فاسقطوه عن سلك المذاكرة ونسوه استنكفوا منه أم استصعبوه فمن اتقن كتابي هذا فهو القارئ الماهر ومن ظفر بما فيه فيقول بملء فيه “كم ترك الأول للأخر” ومن حصله فقد حصل له الحظ الوافر.

Namun di zaman ini terutama di Bumi Nusantara (Jawa), mereka tidak mengkaji dan mempelajari kitabnya. Kemudian mereka melupakan dan berhenti memahaminya karena merasa berat akan ilmu ini. Maka siapa saja yang mendalami kitab ini dia pantas disebut Ahli Qira’at. Barangsiapa yang paham dengan apa yang ada di dalamnya maka akan sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair “berapa banyak orang yang di generasi awal meninggalkan karya untuk generasi selanjutnya!”. Dan barangsiapa yang menguasainya, maka ia mendapatkan keuntungan yang melimpah”

Setelah melalui proses yang begitu panjang akhirnya Kyai Arwani mampu menyelesaikan Hafalan Qira’at Sab’ah kepada KH. Munawwir. Sebagaimana tertulis dalam ijazahnya Kyai Arwani khatam pada tanggal 7 Jumadil Ula 1335 Hijriyah bertepatan 19 Juli 1936 Masehi. Khataman ini terlaksana setahun setelah beliau menikah dengan Ibu Nyai Naqiyyul Khod binti H. Abdul Hamid, cucu dari gurunya, KH. Abdullah Sajjad pada tahun 1935. Jadi butuh waktu sekitar 7 tahun, Kyai Arwani menyelesaikan setoran hafalan Qira’at Sab’ah. Meski sudah khatam Kyai Arwani bertahan di Krapyak sampai sekitar tahun 1941.

Baca Juga:  Padepokan Sufi di Mesir

Dikutip dari Biografi KH. Moeunawir Almarhum, Pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta bahwa setelah belajar sekitar 11 tahun lamanya di Krapyak, maka pada Kyai Arwani memohon pamit kepada gurunya, KH. Munawwir untuk boyong. Maka saat itu gurunya pun menyampaikan wasiatnya di hadapan santri-santrinya
“Kalau kamu tidak mengaji Qiro’at Sab’ah kepadaku, mengajilah kepada Arwani Amin Kudus”
Wasiat ini disampaikan Kyai Munawwir setahun sebelum beliau berpulang ke Rahmatullah pada tahun pada 11 Jumadil Akhir 1361 Hijriyyah bertepatan 25 Juni 1942 Masehi dan dimakamkan di Pemakaman Dongkelan, Bantul, Jogjajakarta.

Selanjutnya Kyai Arwani pulang ke kampung halamannya. Namun rasa hausnya akan ilmu membuat ingin terus belajar, maka beliau melanjutkan mengaji ilmu tasawuf dengan bergabung dalam Thariqah Naqsabandiyyah kepada KH. Sirojuddin di Unda’an, Kudus. Meskipun sudah menikah, namun tak membuat Kyai Arwani meninggalkan mengaji, maka sepeninggalnya KH. Sirojuddin beliau melanjutkan mengaji kepada KH. Manshur di Popongan, Klaten, Jawa Tengah selama 10 tahun. Melihat kesungguhan dari Kyai Arwani dalam belajar Thariqah, maka KH. Manshur membai’at Kyai Arwani menjadi Mursyid Thariqah Naqsabandiyyah. Jadilah Kyai Arwani menjadi “Kyai Ngabehi” sebagaimana yang dikatakan Waliyullah KH. Abdul Hamid Pasuruan, karena beliau menguasai Ilmu Syari’at, Qira’at dan Tarekat.

Maka setelah menyelesaikan perjalanan panjang dalam menuntut ilmu, pada tahun 1942 Kyai Arwani mulai mengamalkan ilmunya dengan mengajar mengaji kepada orang-orang sekitar Kudus. Berita terkait Kealiman Kyai Arwani tersebar luas sehingga mengundang santri dari berbagai daerah untuk mengaji kepadanya. Awalnya beliau mengajar di daerah Kenepan, dekat Masjid Menara Kudus. Namun melihat santri yang datang begitu banyak, maka beliau berinisiatif mendirikan Pondok Pesantren yang diberi nama Yanbu’ul Qur’an yang didirikan pada tahun 1970. Nama pesantren ini mengambil penggalan ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

وَقَالُوۡا لَنۡ نُّـؤۡمِنَ لَـكَ حَتّٰى تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ الۡاَرۡضِ يَنۡۢبُوۡعًا ۙ‏ (الإسراء: ٩٠)

Dan mereka berkata, “Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami, (QS. Al-Isra’ 90)

Tak hanya belajar mengaji Al-Qur’an, banyak diantara santri yang menghafal Al-Qur’an dari Riwayat Hafs Qiraat Ashim hingga Qira’at Sab’ah. Santri generasi awal yang mengaji Qira’at’ Sab’ah langsung kepada yaitu Arwani adalah KH. Abdullah Salam, KH. Sya’roni Ahmadi, KH. Nawawi Abdul Aziz, KH. Hisyam Hayat, KH. Muhammad Marwan, KH. Manshur Maskan, KH. Muharror Ali termasuk kedua putranya, KH. Muhammad Ulin Nuha Arwani dan KH. Muhammad Ulil Albab Arwani. Mereka diharuskan menyalin dan menulis ulang Faidhul Barokat sebagai pedoman mereka dalam mempelajari Qira’at Sab’ah.

Seiring berjalannya waktu, maka Faidhul Barokat ini mulai dicetak dalam tiga jilid sebelum sekarang menjadi dua jilid . Saat ini Faidhul Barokat saat ini sudah tersedia dalam bentuk Mushaf Al-Quddus, dan mushaf ini menjadi mushaf pertama Qira’at Sab’ah Pertama di Indonesia. Dengan terbitnya mushaf ini menjadi pelengkap mushaf Qira’at yang telah banyak ditulis oleh Qurra’ dari Timur Tengah. Sebenarnya Faidhul Barokat sudah direkomendasikan untuk dicetak di Mesir dan akan disebarluaskan disana. Namun karena belum mendapatkan izin keluarga, maka Faidhul Barokat dicetak oleh Mubarokatan Thoyyibah, milik Yayasan Arwaniyyah.

Tiada yang abadi yang abadi di dunia ini, kecuali hanyalah Allah. Pada tanggal 25 Rabi’ul Akhir 1415 H bertepatan 1 Oktober 1994 M, Kyai Arwani berpulang ke Rahmatullah dengan meninggalan istri dan dua anak tercintanya, yang meneruskan perjuangannya dalam syiar Al-Qur’an di Bumi Indonesia.

Akhir Kalam, Semoga kita bisa banyak mengambil pelajaran dari KH. Muhammad Arwani Amin, seorang ulama Nusantara yang sederhana namun karyanya mendunia. Dan besar harapan kita semua mendapatkan keberkahan ilmu yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala curahkan kepada Kyai Arwani beserta guru-gurunya yang bersambung sanadnya sampai kepada Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam. Terlebih di bulan diturunkannya Al-Qur’an di Ramadhan Karim ini.

Dengan membaca, meneliti biografi ulama’ serta meneladani kisah hidup mereka, maka akan kita akan mendapatkan pelajaran berharga, meskipun kita tidak mungkin bisa menyamai prestasi yang telah mereka torehkan. Maka petuah lain dari Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i ini bisa menjadi pegangan bagi kita semua.

أُحِبُّ الصالِحينَ وَلَستُ مِنهُم. لَعَلّي أَن أَنالَ بِهِم شَفاعَه

Aku mencintai orang-orang sholeh meski aku bukan termasuk di antara mereka. Semoga bersama mereka aku bisa meraih syafa’at kelak.

Untuk Kyai Arwani Amin dan guru-gurunya. Al-Fatihah…

Kairo, 3 Ramadhan 1445 H/ 13 Maret 2024 M
Al-Faqir Muhammad Abid Muaffan
Khadim Sanad Al-Qur’an Nusantara

Muhammad Abid Muaffan
Santri Backpaker Nusantara, S1 Pendidikan Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Manuskrip