Mendidik Anak dalam Kandungan

رَبِّ هَبۡ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً۬ طَيِّبَةً‌ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik (shalih). Sesungguhnya Engkaulah Maha pendengar doa.” (QS Ali Imran [3]: 38).

Setiap insan pada dasarnya keberadaannya berproses dari tidak ada menjadi ada. Untuk menjadi ada seharusnya tidaklah berlangsung alamiah, melainkan perlu sekali diawali dengan niat yang benar dan dijaga dengan baik, serta distimulasi dengan hal-hal yang baik. Atas dasar itulah bahwa mendidik anak dalam kandungan menjadi kebutuhan.

Mendidik anak dalam kandungan, bukanlah mengupayakan janin menjadi pintar, melainkan mengikhtiarkan perlakuan edukatif dengan memberikan rangsangan positif, sehingga janin dalam kondisi sehat fisik dan psikisnya yang terhindar dari kesalahan pertumbuhan dan perkembangannya. Dengan begitu janin tetap terjaga normal hingga saat kelahirannya.

Untuk mendidik anak dalam kandungan, orangtua, utamanya Ibu perlu menjaga dengan makanan yang memenuhi gizi yang baik, mengusahakan berdoa tiada henti kepada Allah swt, menyeringkan membaca Al Qur-an dan membaca shalawat, mendengar musik-musik klasik, menjaga keharmonisan dalam relasi sosial, menghindari penggunaan obat secara berlebihan, menjadi diri dari konflik, marah dan bertengkar, dan menghindari dari kecelakaan dan tindakan kekerasan.

Kesempatan yang baik selama 9 bulan 10 hari (280 hari) janin dalam kandungan memang menuntut pengorbanan yang tidak sedikit. Calon Ibu dan ayah tidak bisa abaikan waktu itu dengan tindakan yang sia-sia dan merugikan, karena pertaruhannya adalah kondisi anak yang akan dilahirkan. Begitu ada tanda positif akan ke datang anak Adam, maka harus diyakini bahwa amanah telah diberikan kepada calon ibu dan ayah. Dengan begitu calon ibu dan ayah harus berhati-hati dan bertekad menjaga, melindungi dan mengawal kehadiran anak Adam dengan sebaik-baiknya, tidak ada sikap menolak dan mengabaikan sedikitpun. Menerima kehadiran janin dengan senang, tanpa beban yang dilandasi dengan mengharapkan ridlo-Nya.

Baca Juga:  Coba Perhatikan, Putraku (Kisah Nabi dengan Anak yang Masih Kecil)

Akhirnya bahwa sikap positif suami dan isteri, sebagai calon ibu dan ayah terhadap kehadiran anak Adam sangatlah penting, baik bagi pembentukan fisik, kecerdasan, emosi, sosial, maupun spiritual anak. Tindakan yang terpuji kedua orangtua merupakan modal utama dan wujud sikap tanggung jawab terhadap pemberian amanah dari Allah swt. Dengan mendidik anak secara benar selama dalam kandungan, Insya Allah banyak keuntungan yang bisa petik, tidak hanya bagi anak sendiri (menjadi anak sholeh/sholehah), melainkan juga bagi orangtua.

Mari kita perhatikan benar Firman Allah swt berikut ini:

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al-A’raf: [7]: 172). []

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini