Ilmu Perbandingan Agama (II): Memasuki Zaman Renaissance

Setelah awal munculnya untuk pertama kali pada masa Yunani dan Romawi kuno, ilmu perbandingan agama lambat laun mengalami perkembangan. Dalam konteks sejarah, setelah masa Yunani dan Romawi kuno, ilmu sepuar comparative religioan sampai pada tangan-tangan dan pemikiran ilmuwan Barat. Kali ini, terdapat sisi pembeda antara sebelumnya, yaitu di masa pencerahan (renaissance).

Zakiah Daradjat dalam bukunya dengan tajuk “Perbandingan Agama II”, tentang histories of religion muncullah karya yang ditulis oleh seorang berasal dari Ordo Teutonik Bernama Jean Boem berbentuk buku untuk pertama kalinya di tahun 1520 M, dengan judul “The Customs, Laws and a Rites of All Peoples”.Karya tulis tersebut mengkaji tentang kepercayaan masyarakat Asia-Afrika bahkan Eropa. Ketika memasuki masa reformasi dan pencerahan (renaissance), walau agama lain juga diperhatikan oleh para penulis, namun ketika itu juga pada abad 15 sampai 16 M mulai ditemukannya benua baru. Ketika itu pula para penulis kerap memuat suatu cerita-cerita perjalanan agung sebagai eksplorasi keislmuan.

Selama dua ratus tahun berlangsungnya perang salib pada (1096-1297), merupakan salah satu faktor yang membuat para ilmuwan dan misionaris Kristen untuk mengadakan penyelidikan-penyelidikan ke negeri Timur tentang agama, adat istiadat dan kebudayaan. Orang-orang Barat mengetahui dengan mata kepala sendiri, baik sewaktu perang atau sesudahnya, bahwa waktu itu budaya dan peradaban dunia Timur lebih mengalami kemajuan terlebih dahulu dibandingkan peradaban dan kebudayaan Barat.

Roger Bacok (1214-1294), dalam riwayat hidupnya ia mencetak tulisan dalam bentuk buku yang begitu tebal mengenai Islam dan agama-agama yang digolongkan kafir. Marco Polo (1254-1324) juga mempelajari kawasan Tiongkok dan Asia Tengah, bahkan dalam rekam jejaknya ia mengamati-mempelajari agama-agama yang ada di Timur dalam kurun waktu 17 tahun lamanya. Giovvani Boccacio (1313-1375) juga menulis hal demikian dengan tajuk “Genealogy or The Goda”,  isi dari tulisan tersebut mengkaji tentang sistematika mitologi klasik dunia Timur, yang pada waktu itu dikenal dengan Dewa-Dewa.

Baca Juga:  Bagaimana Berilmu yang Rendah Hati?

Sedangkan tokoh lain bernama Lord Herbert (1583-1648), yang merupakan seorang pengkritik agama penting pada waktu itu dan memiliki sifat rasionalisme. Ia berpendapat sevata sistematis mengenai prinsip Dewa-Dewa dalam berbagai kepercayaan. Ia mencoba membuat lima pokok tentang Dewa secara garis besar:

Pertama, yaitu Supreme Human (manusia yang ditinggikan)/yang disebut Dewa: yang memiliki 11 sifat, diantanyanya: memberi anugerah, ada dengan sendinya, sebab pertama, tenaga dan tujuan semua denda, abadi, baik, adil, bijaksana, tak terbatas, berada di mana-mana, dan merdeka. Kedua, yaitu merupakan kewajiban seseorang untuk menyembah Dzat Yang Maha Agung.

Ketiga, adalah keutamaan dan kesalehan seseorang membentuk bagian yang pokok dari penyembahan-penyembahan. Keempat, yaitu dosa terhadap Super Human (Dewa) ini harus ditobati, dan harus diperbaiki. Kelima, dunia diperintahkan secara moral. Pada kehidupan yang akan datang dari pernyataan di atas, manusia akan menerima balasan yang semestinya dari perbuatannya.

Perlu juga dipahami secara mendalam, bahwa terdapat dua tokoh besar berkebangsaan Asia Bernama Sultan Akbar dari Mongolia (1542-1605), dan Mangu Khan dari India (1207-1259), waktu itu menghadirkan tokoh-tokoh Buddha, Kristen, Yahudi dan Islam pada kongres akbar agama.  Dalam kongres tersebut memutuskan bahwa Monotheisme adalah bentuk agama yang benar. Giambatista Vico juga memaparkan secara ringkas dalam karya tulisnya yang berjudul “New Science”, bahwa ia mensekularisasikan histori agama dan histori kehidupan manusia.

Sedangkan dalam buku “Natural History if Religion” karangan David Hume, ia mengajukan secara lengkap tentang teori perkembangan agama Monoteisme dan asal-usulnya. Ia beranggapan bahwa hadirnya Human Supreme itu asalnya ditimbulkan dan dibuat dalam hubungan kejadian-kejadian/peristiwa kehidupan. Seperti contoh: Adanya kelahiran dan kematian manusia. Oleh Hume dijelaskan sebab-sebabnya yang muncul dalam alam khayalan para manusia dahulu. Maka dari itu, Hume mengangap Dewa adalah ciptaan dalam pikiran manusia yang dikaitkan dengan fenomena alam. Bisa dikatakan juga lahirnya hukum (sebab-akibat).

Baca Juga:  Islam Agama Ilmu

Kemudian tokoh selanjutnya Bernama Charles de Broses yang juga merupakan sahabat Hume (1707-1777), ia dalam rekam jejaknya pernah meneliti agama di Afrika Barat. Dari hasil penelitiannya, ia berhasil menemukan bentuk-bentuk kepercayaan (agama) yang bisa dikatakan paling natural yakni menyembah terhadap binatang. Brosses menyebutnya dengan istilah Fetish, begitu lah kiranya. Fetish sendiri adalah bentu kepercayaan (agama) paling awal dan orisinil. Kemudian Auguste Comte (1798-1857) yang mengemukakan prinsip pengaturan dari perkembangan masyarakat dijumpai dalam rumusan terkenal yaitu hukum 3 tingkatan kemajuan intelektual, yaitu dari teologi, metafisika, dan positifistik.

Lalu dalam riset Ilim Abdul Halim bertajuk “Perbandingan Agama dan Dialog Keberagamaan”, pada tahun 1873, di benua Eropa ilmu perbandingan agama (comparative religion) mulai dipublikasikan kepada para akademisi. Berkat peran Fredisch Max Muller, seorang yang berasal dari Jerman dan ahli filologi. Ketika membicarakan tentang ilmu agama di Royal Institution (London), ia menuliskan apa yang ia utarakan dengan bahasa inggris dengan tajuk Intruduction to the Science of Religion.

Pada intinya, dalam buku tersebut menjelaskan bahwasanya religion science didasarkan pada perbandingan dari agama lain, dengan sifatnya yang benar-benar ilmiah serta tidak berat sebelah. Bahkan ia juga memaparkan sikap yang harus dimiliki pengkaji maupun peneliti bahwa agar mereka menghargai agama apa saja dalam mengekspresikan identitasnya. Dengan begitu, fokus kajian comparative religion menjadi pengkajian baru dalam bidang keilmuan akademisi. Hal ini sudah mulai  memasuki paruh pertama abad modern. []

Ali Mursyid Azisi
Mahasiswa Studi Agama-Agama - UIN Sunan Ampel, Surabaya dan Santri Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini