Petuah-petuah Bijak Menggugah Jiwa

Diakui atau tidak, Islam memuat risalah cinta. Ia mengajarkan pemeluknya hakikat cinta dan kebahagiaan. Karena memang, Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Welas Asih yang mengasihi segala-galanya. Karena cinta-Nya, Tuhan menciptakan manusia dan seluruh makhluk lainnya. Baik yang ada di bumi, maupun yang ada di langit. Dan, hanya dengan cinta lah manusia dan seluruh makhluk dapat kembali kepada Tuhan Yang Maha Cinta. Nabi bersabda, “Kasihilah mereka yang ada di bumi, maka mengasisi kalian siapa saja yang ada di langit” (HR. Thabrani).

Namun Demikian, pembumian Islam cinta dan kebahagian selalu menghadapi tantangan tersendiri. Seolah misi tersebut tidak sampai kepada manusia. Hal ini menyebabkan manusia belum mampu merepresentasikan dirinya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Entah, apakah karena mereka tidak mengetahui, atau memang sengaja tidak mau mendengarkan. Akibatnya, sifat-sifat Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tersebut menjadi kandas di tengah jalan; tidak lagi diparipurnakan dalam konteks kehidupan masyarakat secara luas.

Buku Tenangkan Pikiran dan Hatimu Setiap Saat Dengan Petuan-petuah Bijak berisi petuah-petuan daripada tiga ulama besar Islam, yaitu Hasan Bashri ra, Imam al-Ghazali dan Qutub al-Rabbani Syekh Abdul Qadir Jailani. Buku ini hadir untuk menyegarkan kembali hati yang sudah terlanjur terlena oleh kepentingan-kepentingan materialis sehingga menyebabkan hati kotor. Selain itu, buku ini berisikan kiat-kiat menyelamatkan diri dari belenggu-belenggu duniawi yang telah menutupi cara berfikir hingga berhasil menangkap kembali Tuhan dengan cinta dan kemesraannya.

Apabila di antara penyakit-penyakit hati tersebut tidak segera dibersihkan, maka ia akan terus mencemari hati seseorang. Penyakit-penyakit tersebut akan terus menyebar pada anggota tubuh yang lain, mengikuti peredaran darah, sehingga anggota tubuh yang lain pun ikut rusak diakibatkan oleh persebaran virus yang bersarang di hati seseorang itu. Nabi bersabda, “Ketahuilah sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging itu baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”

Baca Juga:  Resensi Buku Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas

Penyakit ini sangat samar sekali. Ia mudah menyebar, tidak terkecuali kepada orang yang paling taat beribadah sekalipun. Seseorang yang terkena persebaran virus yang demikian itu akan menyebabkan hatinya mati. Hati yang mati akan sulit menerima nasehat-nasehat bijak dari siapa saja. Selanjutnya, ia akan cenderung memusuhi siapa saja yang berani berlawanan dengannya, baik berlawanan dari sisi wacana maupun berlawanan dari segi politik. Kekerasan yang marak terjadi dalam komunitas umat beriman adalah bukti nyata dari virus yang masih bersarang dalam hatinya. Mereka tidak lagi meletakkan manusia bukan lagi sebagai manusia akibat dari pemikiran keagamaannya yang menganggap kekerasan bagian dari agama. Dengan demikian, ia bukan semakin dekat dengan Tuhannya. Sebaliknya, ia semakin jauh dari Allah dan cinta-Nya.

Buku Shalih Ahmad asy-Syami hadir mengajak kita agar merenungkan kembali petuah-petuah dari ketiga tokoh yang sarat makna ini. Pesan-pesan tersebut menuntun kita untuk menyelamatkan hati yang kering supaya disegarkan kembali. Cara menyegarkannya adalah dengan meraih cinta-Nya. Kasus kekerasan seperti disinggung tadi karena manusia tidak bisa membedakan antara cinta dan nafsu. Cinta terhadap Tuhan seringkali dipelintir oleh nafsu destruktif. Karena itu, tujuan Tuhan menciptakan manusia agar sifat-sifat Tuhan yang lembut dapat dikenal, sementara kekerasan justru menyebabkan alam semesta tercemar akibat dari perbuatan tercela tersebut (hlm: 152).

Buku yang diterjemahkan oleh Kaserun AS. Rahman dan Fuad Ibn Rusyd ini pada dasarnya mengajarkan kita arti penting menjadi hamba Allah yang beriman secara totalitas dan menaati-Nya secara sempurna. Banyak manusia mengaku beriman, tetapi ia tidak bisa memberikan rasa aman kepada orang lain. Bawaannya meresahkan. Sementara keimanan harusnya memberikan rasa aman terhadap sesamanya. Oleh karena itu, pada dasarnya perdamaian adalah sakral, dan sudah seharusnya disakralkan. Prinsip bahwa Islam harus dapat memberikan rasa aman dengan perdamaian, terekam jelas dalam doa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw:

Baca Juga:  Menghadang Jebakan Konsumerisme

Allahumma Antassalam, wa mingkassalam, wa ilaika ya’udussalam, fahayyina rabbana bissalam, wa adkhilnal jannata darassalam, tabarakta rabbana wata’alaita yadzal jalali wal ikram.

Ya Allah, Engkau lah Sang Maha Damai, dari-Mu perdamaian, kepada-Mu kami memohonkan perdamaian, hidupkanlah kami dengan kedamaian, masukkanlah kami ke negri damai (surga), terpujilah Engkau, Tuhan kami Yang Maha Tinggi, wahai pemilik kebesaran dan kemuliaan (HR Bukhari Muslim).

Di dalam buku ini, ada pesan-pesan penting, seseorang yang dapat dikatan telah berislam yang baik dan benar, tatkala setelah ia sudah tak ada bedanya ketika dalam kesendirian maupun di tengah keramaian. Jika hatinya telah pasrah kepada Allah, serta jika setiap muslim dan setiap orang yang memiliki perjanjian dengannya aman dari dirinya (hlm: 14). Dengan demikian, inti dari ajaran Islam adalah memberikan rasa aman terhadap sesama. Selanjutnya, tidak dikatan beriman seseorang yang tidak bisa memberikan rasa aman terhadap sesama. Allah Swt. menciptakan manusia tersebut pada dasarnya adalah agar program kekhalifahan-Nya dapat terejawantahkan secara sempurna di muka bumi.

Pesan-pesan ketiga ulama besar ini benar-benar menuntun dan menyelamatkan hati kita yang gersang karena kering spiritualitas. Kehadirannya benar-benar memberikan motivasi terhadap diri sendiri. Segala hal yang berkaitan dengan hati menjadi terang diulas dalam buku ini. Di samping karena ditulis berdasarkan nasehat-nasehat atau berbentuk petuah-petuah dari ketiga ulama besar ini, bagi masyarakat awam menjadi lebih mudah memahamaminya. Ulasan-ulasannya tidak terlalu akademik, yang terkadang terkesan membingungkan bagi pembacanya. Buku ini disusun menggunakan adonan bahasa yang relatif mudah, yang dikolaborasikan dengan resep terjemah yang tidak membingungkan, menjadikan buku enak dikonsumsi oleh siapapun. Selamat membaca. (*)

Buku: Tenangkan Pikiran dan Hatimu Setiap Saat Dengan Petuan-petuah Bijak

Baca Juga:  Sikap Tokoh Agama Soal Pernikahan Anak di Masa Pandemi

Penulis: Shalih Ahmad asy-Syami

Penerbit: Wali Pustaka

Tebal: 392

ISBN: 978-623-7325-24-6

Peresensi: Ashimuddin Musa*

(* Ashimuddin Musa merupakan penikmat nasi warjok UIN Jakarta, alumnus Ponpes Nurul Jali Pakamban Daya dan Ponpes Annuqayah Latee Guluk-guluk Sumenep Jawa Timur.

Ashimuddin Musa
Santri PP. Annuqayah dan Pengurus PAC. GP Ansor Pragaan

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Pustaka