Kitab Tafsir Hidayatul Qur’an karangan Dr. KH. M. Afifudin Dimyathi, atau yang lebih dikenal dengan Gus Awis, pengasuh Ribath Hidayatul Qur’an PP Darul Ulum “Pondok Rejoso”, Jombang, telah terbit di akhir tahun 2023 ini. Tafsir yang mempunyai judul lengkap “Hidâyat al-Qur’ân fî Tafsîr al-Qur’ân bi al-Qur’ân” itu ditulis dengan cara menafsirkan ayat al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an lainnya. Kitab tafsir ini diterbitkan oleh Dar al-Nibras Kairo dalam empat jilid dengan total 1.988 halaman. Bagi saya, ada beberapa aspek menarik dengan kemunculan kitab tafsir ini, terutama ketika kita menilik latar belakang penulisan dan dampak yang dapat diberikannya.

Penulisan tafsir ini bermula ketika pada awal 2022 PBNU berencana menyelenggarakan “Fiqih Peradaban”. Sejak itu, Gus Awis berniat untuk memulai menulis tafsir yang sudah diimpikan beliau jauh sebelumnya. Sebagian semangat Fiqih Peradaban adalah untuk memperkokoh ukhuwwah basyariyah terutama pada hubungan antar manusia dalam membangun dan memakmurkan peradaban dunia, sehingga itu mempengaruhi penyajian tafsir yang ingin ditulis nantinya. Tafsir Hidayatul Qur’an sendiri mulai ditulis sejak Maret 2022 hingga akhirnya selesai pada Agustus 2023.

Ketika membincangkan tentang peradaban, saya teringat dengan asumsi bahwa Islam di Indonesia oleh sebagian kalangan dianggap sebagai “Islam pinggiran”. Konteks Islam pinggiran ini awalnya memang dalam ranah kebudayaan, namun menurut saya, juga berimbas pada konteks khazanah pengetahuan. Kajian Islam yang bersumber dari Nusantara seakan tidak diperhitungkan daripada sumber-sumber literatur yang berasal dari Arab.

Stigma Islam pinggiran ini diyakini tidak hanya oleh kalangan luar saja, tetapi dipercayai oleh orang Indonesia juga, imbas dari inferiority complex/ketidakpercayaan diri yang selama ini hinggap di alam bawah sadar masyarakat Indonesia ketika membandingkan dengan luar. Padahal, dahulu banyak ulama kita yang tersohor melalui karya-karya mereka yang diterbitkan dan dikaji di Timur Tengah sana.

Baca Juga:  Paradigma Hermeneutika Quraish Shihab dan Relevansinya Dalam Perkembangan Penafsiran Al-Qur’an

Beruntungnya, belakangan ini ada semacam gairah dari kalangan santri terutama nahdliyyin di Indonesia untuk membangkitkan kajian turats Nusantara. Hal itu disertai dengan meningkatnya minat pada kajian kitab-kitab karya ulama Indonesia. Meningkatnya perhatian pada turats Nusantara tersebut bisa dilihat dari menjamurnya penelitian yang mengkaji tentang kitab-kitab ulama Nusantara dalam karya akhir studi seperti skripsi, tesis, dan disertasi di universitas-universitas dan perguruan tinggi lainnya di dalam negeri. Kajian tersebut melihat turats Nusantara dari sisi ilmu tafsir, hadis, fiqh, dan lain-lain.

Begitu pula ketika sekarang banyak para kyai dan gawagis yang menaruh perhatiannya pada naskah-naskah kitab dari ulama Nusantara. Sebagian dari mereka kemudian membentuk Nahdlatut Turats yang terfokus pada pendataan, perawatan, dan penerbitan ulang kitab-kitab karya ulama Nusantara yang mungkin sebagian darinya sudah terlupakan. Lewat lembaga tersebut, ajaran-ajaran ulama Nusantara yang terdapat pada kitab-kitab tersebut diharapkan dapat disebarkan dan dikembangkan.

Tak hanya itu, gairah kebangkitan turats Nusantara juga tidak hanya terbatas dalam hal pengkajian dan publikasi, tetapi juga penulisan. Apalagi dengan adanya kitab-kitab karya Gus Awis yang telah diterbitkan dapat memicu minat penulisan kitab bagi yang lain. Seperti ketika beberapa guru dan rekan yang saya kenal telah menerbitkan karya mereka dalam Bahasa Arab. Tidak lagi hanya sekadar menjadi “konsumen”, tetapi juga sebagai “produsen” keilmuan. Dengan begitu, turats Nusantara tidak lagi kemudian menjadi “pajangan” saja, tetapi juga dikaji dan ditelaah oleh para santri.

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi yang mewadahi kyai dan santri -para pengkaji dan penjaga turats- tepat berumur 100 tahun pada 2023 ini. Oleh karenanya, keberadaan Tafsir Hidayatul Qur’an yang juga terbit di tahun yang sama menjadi sebuah kado manis bagi 1 Abad NU. Apalagi, kitab ini ditulis Gus Awis yang notabene merupakan Katib PBNU.

Baca Juga:  Mempertanyakan Kebenaran

Jika KH Yahya Cholil Staquf dalam buku Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama mengatakan bahwa cita-cita pendirian NU adalah cita-cita peradaban, maka Tafsir Hidayatul Qur’an menjadi kado 1 Abad NU yang spesial karena selaras dengan cita-cita tersebut, yaitu untuk memperkenalkan al-Qur’an yang penuh dengan nilai-nilai dalam membangun peradaban. Selain itu, Tafsir Hidayatul Qur’an juga turut memperkaya khazanah peradaban (keilmuan) Islam terutamanya di Nusantara.

Gus Yahya dalam bukunya lagi juga menulis bahwa kebesaran NU itu karena buah keistiqamahan para ulama yang senantiasa berkhidmat pada ilmu dan ummat. Begitu pula ketika KH Miftahul Akhyar yang menulis dalam muqaddimah Tafsir Hidayatul Qur’an menyebut bahwa keberlangsungan agama itu bukan karena senjata, tetapi melalui pena-pena para ulama yang menghidupkannya.

Kehadiran Tafsir Hidayatul Qur’an tak lain merupakan bentuk pengabdian pada ilmu dan ummat khususnya bagi warga NU itu sendiri. Dengan keberadaan Tafsir Hidayatul Qur’an ini, Gus Awis juga mengikuti jejak tokoh-tokoh NU sebelumnya dalam menulis tafsir seperti KH Bisri Mustofa dengan kitab Al-Ibriz dan KH. Misbah Mustofa dengan kitab Al-Iklil karangannya.

Selain itu, oleh Gus Yahya, NU dalam memasuki Abad kedua ini diharapkan lebih berperan dalam skala internasional. dengan kata lain, NU didorong untuk bisa lebih go international. Jika kemudian penyelenggaraan NU dalam Muktamar Fiqih Peradaban dalam skala internasional menjadi “ikhtiar pergerakan” dalam mewujudkan misi di abad kedua ini, maka Tafsir Hidayatul Qur’an yang dicetak oleh penerbit internasional ini merupakan “ikhtiar keilmuan” dari ulama NU itu sendiri. Bahkan langkah go international itu sudah dilakukan semenjak kitab Ilmu al-Tafsir: Ushuluhu wa Manahijuhu dan diikuti kitab-kitab beliau lainnya yang diterbitkan di Mesir.

Baca Juga:  Tafsīr Al-Ijāz Fi Taisīr Al-I’jāz Al-Anbiya: 34-35

Keberadaan Tafsir Hidayatul Qur’an dapat meningkatkan kepercayaan diri ulama Nusantara, bahwa ada lho, kitab karangan ulama dari Indonesia yang diterbitkan di Mesir dan melengkapi referensi-referensi kitab tafsir yang sudah ada selama ini. Diterbitkannya Tafsir Hidayatul Qur’an oleh Dar al-Nibras di Kairo juga dapat mendekatkan kitab ini dengan pusat studi keislaman dunia yaitu al-Azhar.

Sudah saatnya kita perkenalkan khazanah keilmuan ulama Indonesia ke Timur Tengah. Masyarakat Indonesia sebagai muslim terbesar di dunia harusnya bisa lebih didengar suaranya. Keberadaan Tafsir Hidayatul Qur’an bisa dikatakan dapat mengangkat harkat umat Islam Indonesia terutama kaum santrinya.

Marwah Islam Nusantara sebagai peradaban yang luhur jangan hanya terbatas lewat jargon semata, namun juga harus dibuktikan dan disebarkan tidak hanya ke dalam saja tetapi juga ke luar dengan aksi gerakan dan intelektual oleh para agen yang ada di dalamnya. Tidak hanya berorientasi inward looking saja, tetapi harus outward looking juga. Tafsir Hidayatul Qur’an mendukung peradaban yang luhur dengan nilai-nilai moderasi, toleransi, dan perdamaian yang terkandung di dalamnya. Hal itulah yang sekarang dibutuhkan oleh dunia di tengah kecenderungan meningkatnya gejolak turbulensi saat ini. []

 

Kepustakaan

Azra, Azyumardi. “Islam Periferi?”, Harian Republika, 24  November 2005.

Dimyathi, Muhammad Afifuddin. Hidâyat al-Qur’ân fî Tafsîr al-Qur’ân bi al-Qur’ân, Vol. 1. Kairo: Dâr an-Nibrâs, 2023.

Staquf, Yahya Cholil. Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama. T.tp: Mata Air Indonesia, 2020.

Muchammad Chasif Ascha
Lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (S1) dan Universitas Indonesia (S2), alumni Pondok Darul Ulum Jombang dan Darus-Sunnah Ciputat. Dosen Program Studi Hubungan Internasional UPN Veteran Jawa Timur.

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Kitab