spiritualitas pendidikan di era normal baru

Cendikiawan dan Wabah

Ada seorang cendikiawan muslim yang terlahir dan menjadi hebat di tengah pandemi melanda negerinya pada tahun 749H/ 1348M. Beliau bernama Abdurrahman ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn al-Hasan ibn Jabir ibn Muhammad ibn Ibrahim ibn Abdurrahman ibn Khalid ibn Usman ibn Hani ibn al-Khattab ibn Kuraib ibn Ma’dikarib ibn Harish ibn Al-Wailibn Hujr atau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Khaldun. Beliau merupakan ahli historiografi, filsafat peradaban, dan peletak dasar ilmu-ilmu sosiologi modern. Ketenaran beliau bukan hanya masyhur di zamannya saja, tetapi teori-teori beliau tentang peradaban, sosiologi dan ilmu sejarah masih relevan hingga saat ini.

Tetapi sudahkah anda tahu, bahwa Ibnu Khaldun terlahir di era yang hampir mirip seperti yang kita alami saat ini, -yaitu pernah mengalami masa di mana pandemi menyerang negerinya-. Pada usia 18  tahun, Ibnu Khaldun telah ditinggal oleh ayahnya pada tahun 749H/1348 M akibat wabah penyakit Pes. Wabah penyakit Pes juga menyebabkan Ibnu Khaldun gagal melanjutkan  studi ke pusat ulama dan sastrawan besar kota-kota di Mesir dan kota-kota di Timur pusat peradaban Islam (seperti Samarkand dan Bagdhad) kala itu.

Bahkan sebagian guru Ibnu Khaldun juga meninggal dunia ketika wabah Penyakit ini melanda negeri yang ia singgahi. Tak pernah putus asa, Ibnu Khaldun harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari ilmu dan mencari tempat aman dari wabah. Singkat cerita, dari berbagai kunjungannya ke berbagai tempat yang terkena wabah, beliau berhasil menuliskan sejarah serta menemukan solusi cara mengatasi wabah tersebut, lebih efektif dibandingkan dari sekian banyak solusi yang diajukan oleh cendikiawan lainnya.

Baca Juga:  KH Bisri Syansuri; Inisiator Pendidikan Pesantren Putri

Mencari Akar Kerapuhan Sistem Pendidikan Kita

Dalam bagian awal Kitabul Ibar, Ibnu Khaldun menggambarkan kesamaan wabah covid-19 dengan wabah penyakit Pes yang mewabah telah merasuki peradaban manusia abad pertengahan baik di timur dan barat. Hal ini telah membinasakan berbagai bangsa secara perlahan. Penyakit ini  melenyapkan generasi-generasi, menutup banyak keindahan peradaban dan menghapusnya.

Penyebab wabah penyakit Pes menurutnya karena pembangunan yang merusak sirkulasi dan kualitas udara. Area kota menjadi lebih lembab dan menjadi tempat bakteri dan segala penyakit berkembang. Dampaknya kondisi udara yang demikian mengakibatkan orang-orang yang hidup di dalamnya mengindap penyakit (Muqaddimah Kitabul Ibar halaman 320).  Udara yang semakin rusak menyebabkan organ pernafasan manusia diserang penyakit. Inilah wabah dan penyakit yang menimpa paru-paru. Dalam kondisi yang parah para penderita wabah ini banyak mengalami kematian.

Lantas kemudian apa yang menyebabkan Ibnu Khaldun begitu hebat meskipun hidup ditengah pandemi? apablia kita membaca kitab magnum opus-nya -Al-Muqadimmah– kita akan menemukan jawabannya adalah passion. Memang hal inilah yang hilang dari sistem pendidikan yang ada di negeri kita, pendidikan kita selama ini sering bergonta-ganti kurikulum dan metode demi mewujudkan cita-cita leluhur kita, “mencerdaskan kehidupan bangsa” –cenderung diartikan sebagai kecerdasan kognitif (IQ) dan afektif (EQ) saja-. Akan tetapi yang kita dapati adalah arah destruktif laten di mana sistem pendidikan kita terlihat rentan ketika menghadapi situasi pandemi seperti saat ini –miskin spiritualitas dan kehilangan passion dalam belajar-.

Pendidikan kita yang cenderung “transfer of knowledge” memang terlihat mudah digantikan oleh kecanggihan teknologi di era 4.0, dimana pengetahuan “Google” lebih besar pengaruhnya dibanding yang dimiliki oleh seorang guru. Di mana ketika pandemi melanda negeri ini, dengan mudahnya kita berpikir bahwa pembelajaran di kelas dapat digantikan dengan pembelajaran daring –dengan segala ketidaksiapan infrastruktur hingga user education terhadap teknologi pendidikan yang ada, baik guru maupun orang tuanya-.

Baca Juga:  Belajar Welas Asih Kepada Imam Al Gazali di Tengah Pandemi Corona

Ketika situasi demikian yang kita dapati adalah terlihat begitu jelas betapa rapuhnya sistem dan proses  pendidikan kita di mata masyarakat selama  ini. Masyarakat menjadi terlihat  keberatan dipaksa membayar uang sekolah dan memacu anaknya untuk saling berkompetisi demi memperoleh angka-angka fiktif demi masa depan yang terjamin- hidup sukses, menjadi kebanggaan orang tua untuk dipamerkan kepada kolega atas prestasi anaknya- yang ternyata rapuh ketika dihadapkan oleh pandemi seperti saat ini.  Mereka sadar selama ini pendidikan anak-anak telah mengabaikan spiritualitas anaknya, dan mereka lupa mempersiapkan kehidupan setelah dewasa dan setelah mati nanti jika menghadapi situasi yang sama.

Membangun  Spiritualitas Pendidikan Kita

Hal pertama sebagai syarat untuk membangun spiritualitas pendidikan anak kita adalah memperbaiki hubungan guru, ilmu dan murid sesuai proposinya. Dengan program Mendikbud yang menggagas “merdeka belajar” inilah momentum untuk memulai perbaikan tersebut. Mari kita tempatkan guru pada posisi “mulia” seperti yang dahulu.

Jadikan guru sebagai “mata air” pengetahuan dalam membangun IQ (intelegency Question), EQ (Emotional Question) dan SQ (Spiritual Question).  Mulailah dari hal-hal  kecil dengan lebih memperhatikan guru dari hal-hal yang kecil, ajari anak-anak kita setiap hari menghubungi gurunya, meskipun sekedar  menanyakan kabar gurunya, keluarganya serta meminta doa dari guru. Bagaimanapun guru adalah seseorang yang mengajari anak-anak kita mengetahui segalanya, dan segala  kebaikan yang ada pada anak-anak kita sedikit banyak adalah kontribusi guru-guru mereka.

Untuk para guru, mulailah membiasakan mendoakan para murid-muridnya dari setiap ibadah yang kita lakukan setiap hari, momentum ini kita gunakan memperbaiki “marwah” guru yang mengalami dekadensi akhir-akhir ini yang disebabkan oleh beberapa kasus “kekerasan di sekolah” di Indonesia.  Dengan ikatan spiritual yang kuat, saya yakin kita akan lebih kuat menghadapi era transisi “normal baru” untuk menuju kehidupan “normal lama” yang lebih baik.

Baca Juga:  Ki Hadjar Dewantara dan Pesantren

Hal kedua untuk membangun spiritualitas dalam pendidikan kita, yaitu memuliakan ilmu sebagai suatu anugerah yang diberikan Allah kepada manusia. Bukan hanya sekedar untuk mengetahui suatu pengetahuan, tetapi hendaknya ilmu harus menjadikan manusia selayaknya manusia. Ilmu harus ditempatkan sebagai konstruksi peradaban manusia, bukan justru mengantarnya ke arah destruktif.

Dengan era “keterlimpahan pengetahuan” seperti saat ini, di mana dengan mudahnya sumber pengetahuan untuk didapatkan, fondasi yang harus dibangun untuk menghadapinya yaitu menyiapkan “nalar Islam” yang mampu menyaring semua informasi yang datang untuk diverifikasi dan difalsifikasi. Pendidikan kita harus menyiapkan generasi yang hidup dengan diskursus ilmu pengetahuan tanpa meninggalkan kehidupan spiritualitasnya. [HW]

Mubaidi Sulaeman
Alumni Ponpes Salafiyah Bandar Kidul Kota Kediri, Peneliti Studi Islam IAIN Kediri-UIN Sunan Ampel Surabaya

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini