Pendidikan

Pendidikan pada hakekatnya merupakan sesuatu proses yang memungkinkan kita memperoleh pengetahuan yang dapat membuat hidup kita lebih baik di masa-masa mendatang, sementara kekuasaan memungkinkan adanya pengaruh terhadap lain, yang bisa membantu menjadi lebih baik atau lebih jelak. Dengan begitu pendidikan diharapkan mampu memberikan pengetahuan yang mampu mempengaruhi orang lain menjadi lebih baik.

Pendidikan memberikan kita pengetahuan tentang dunia sekitar kita dan mampu mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih baik. Karena itu pendidikan tidak hanya berhenti sampai individu memiliki pengetahuan saja melainkan juga sampai pada penguasaan pengetahuan bermakna untuk bisa mengelola lingkungan yang akhirnya dapat memperbaiki kehidupan di masa-masa mendatang.

Bahkan pengetahuan merupakan suatu kekuatan yang mampu membebaskan dan bisa menjadi kunci kemajuan suatu masyarakat. Sebagaimana pandangan Kofi Amman, yaitu “Knowledge is power. Information is liberating. Education is the premise of progress, in every society, in every family”. Dalam konteks ini pendidikan memiliki misi memberikan bekal dalam menghadapi perubahan untuk hidup lebih baik.

Berkenaan dengan perubahan, Nelson Mandela says, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Pendidikan adakah kunci penting yang dapat mengeliminir perbedaan gender, mengurangi kemiskinan, menciptakan kelestarian planet, mencegah sakit atau kematian yang tidak perlu, dan menjaga perdamaian. Di sini semakin tegas bahwa pendidikan bisa menjadi senjata ampuh untuk melakukan perubahan, tanpa merugikan diri, orang lain dan lingkungan.

Menyadari akan pentingnya pengetahuan Benjamin Franklin berpendapat bahwa, “An investment in knowledge pays the best interest.” Pengetahuan merupakan sesuatu hal penting yang kita lakukan. Pengetahuan bisa membuat kita memperoleh uang lebih banyak, membuat keputusan yang baik, menjadi lebih baik dalam berolahraga, menjadi lebih peduli terhadap kesehatan, dan sebagainya. Bahkan bisa dikatakan bahwa orang yang sukses itu bisa diindikasikan dengan kebiasaan membaca dan mendidik dirinya secara konsisten dalam kesehariannya.

Baca Juga:  Peran Pesantren dalam Menangkal Radikalisme

Terkait dengan peran pendidikan formal, Jim Rohn, the great self development speaker, berpendapat bahwa “Formal education will make you a living. Self-education will make you a fortune.” Ini memperjelas bahwa pendidikan formal itu bagian kecil daripada rentangan waktu hidup. Yang jauh lebih penting adalah mendidik diri sendiri sepanjang hidup. Karena itu yang perlu kita lakukan, bagaimana kita memiliki keterampilan belajar sepanjang hidup.

Albert Einstein, berpendapat , “Once you stop learning, you start dying.” Joe Paterno, the very successful football coach, said, “If you’re not getting better, you’re getting worse.” Begitu penting belajar, karena semakin terbukti nilai sabda Rasulullah saw yang artinya, “Diwajibkan menuntut ilmu bagi orang mukmin laki-laki dan mukmin pria”. Juga “Tuntutlah ilmu dari buaian ibu hingga masuk liang lahat”.

Karena sangat pentingnya pendidikan dalam membangun kualitas dan martabat warga dan bangsa, maka pemerintah harus merevitalisasi pembangunan pendidikan nasional menjadi sektor yang paling diprioritaskan. Misi pendidikan seharusnya tidak hanya dimandatkan kepada kementerian sektor pendidikan saja, melainkan juga sektor lain, setidak-tidaknya kebijakannya tidak bertentangan, melainkan sejalan dan mendukung.

Pendidikan memberdayakan individu dan warga negara serta bangsa. Untuk bisa memberdayakan, maka institusi pendidikan itu juga harus diberdayakan.

Memberdayakan tidak hanya difokuskan pada hal-hal yang sifatnya teknis, melainkan juga yang bersifat substansial. Karena itu pendidikan bukan diorientasikan kepada teaching what to learn, but teaching how to learn.

Pendidikan mendorong individu dan warga bangsa berpartisipasi dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa. Warga negara yang tak terdidik dalam pengalaman di berbagai negara menjadi obyek penjajahan politik dan kepandaian, apalagi tidak bisa bersuara dan berpendapat.

Dengan pendidikan, membuat warga negara bisa mengkritisi kebijakan pemerintah dan ikut serta dalam pembuatan keputusan yang penting. Kehadiran warga negara terdidik sangat diperhitungkan, terutama di negara yang demokratis.

Baca Juga:  Kiai Kalah Yakin dengan Santri

Berdasarkan uraian di atas semakin jelas, pendidikan membuat warga negara menjadi ada, demikian juga menjadikan bangsa menjadi eksis dan diperhitungkan. Tentu tidak sekedar praktek pendidikan formal saja, melainkan juga seluruh aktivitas pendidikan selama hayat di kandung badan. Pendidikan tidak hanya menjangkau pikiran (mind), melainkan juga hati (heart). Karena itu kecakapan learning how to learn merupakan suatu kebutuhan bagi kita semua, sehingga kita memiliki kekuasaan untuk merubah lingkungan menjadi bermanfat bagi kita semua.

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Berita