Nasehat Luqman Al Hakim

Luqman Al Hakim adalah orang yang disebut dalam Al-Qur’an pada Surat Luqman. Beliau terkenal karena nasihat yang diberikan pada anaknya. Menurut Imam Qatadah rahimahullah, Luqman Al Hakim bukanlah nabi dan dia tidak diberi wahyu. Riwayat lain menyebutkan bahwa beliau berasal dari Nubah dan ada yang berpendapat dari Sudan. Di samping ada macam-macam sebutan untuk Luqman Al Hakim.

Banyak orang pada saat itu penasaran, mengapa Luqman Al Hakim sangat terkenal nasehat-nasehatnya. Luqman al-Hakim menjawab, “Wahai anak saudaraku, bila kamu melakukan apa-apa yang aku sarankan, kamu juga akan mendapatkan kedudukan yang aku dapat”. “Apa sajakah itu?” Luqman berkata, “Aku menundukkan mataku, menjaga lisanku, berlaku iffah dalam hal makananku (hanya mengonsumsi yang halal). Aku juga menjaga kemaluanku, memenuhi janjiku, dan memuliakan tamuku. Aku pun menjaga hubunganku dengan tetanggaku. Aku tinggalkan semua yang tidak berguna bagiku. Itulah semua yang telah menjadikanku bermartabat seperti yang kamu lihat.”

Demikianlah delapan hal yang menjadi alasan, mengapa Luqman al-Hakim disenangi banyak orang dan sangat bijak. Sebab, semua hal tersebut merupakan sifat-sifat inti yang diperintahkan agama Islam dan mengandung sifat terpuji dan jauh dari sifat-sifat tercela.

Di dalam Qur’an Surat Luqman ada 34 ayat. Di antaranya terdapat 8 nasihat terkenal Luqman Al Hakim untuk anaknya. Pertama, Jangan mempersekutukan Allah. Nasehat ini mengandung ajaran Tauhid Yang sangat penting bagi ummat Islam. Yang menentukan Iman dan tidaknya seseorang. Adapun ayat Yang mendadari nasehat pertama ada di QS Luqman: 13, yang artinya; ”Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Kedua, Berbuat baik kepada kedua orang tua. Orangtua adalah manusia terpilih dan diamanati oleh Allah swt untuk membuat keturunan dan menghadirkan kita di bumi. Karena Allah menerintahkan dengan kuat untuk berbakti Dean mempergauli dengan baik. Hal ini ditegaskan dalam QS Luqman:14, Yang artinya “Dan Kami perintahkan kepada insan (berbuat baik) kepada kedua orangtuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun…”

Baca Juga:  Tingkatan Orang dalam Membaca al-Qur'an

Ketiga, Bersyukur kepada Allah swt dan orangtua”. Allah swt berfirman dalam QS Luqman:14, yang artinya “… Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” Jika kita menghitung nikmat Allah swt, maka kita tidak akan mampu melakukannya. Termasuk wujud diri kita yang merupakan ciptaan Allah swt dan hasil asuhan dan didikan orangtua, sehingga kita menjadi sosok seorang yang pandai bersyukur. Wujud syukur anak kepada Allah swt dengan menjaga Iman dan taqwa kepada-Nya. Demikian wujud syukur anak kepada orangtu dapat dilakukan dengan taat dan berdedikasi kepada kedua orangtua.

Keempat, Sadar bahwa manusia berada dalam pengawasan Allah SWT. Sebagai insan beridentitas diri dan memiliki prinsip yang kuat serta berhati bersih. Karena itu anak perlu dididik Iman yang benar dan semangat beramal dengan senang. Dalam QS Luqman : 15 dan 16). Jika iman seorang hamba Allah benar, maka dia bersikap benar terhadap ajakan orang lain, termasuk orangtua untuk melakukan murtad. Demikian juga, jika hamba Allah hatinya bersamah, maka dia beramal dengan benar juga dan berhati ikhlas walau diliputi tantangan.

Kelima, Mendirikan salat. Nasehat mendirikan sholat bagi anak sangatlah penting. Hal ini ditekankan dalam QS Luqman:17, yang artinya “Laksanakanlah salat …”. Sholat merupakan nasehat penting, karena sholat itu tiang agama. Jika disiplin dan terjaga sholatnya dengan baik, Insya Allah beragamanya juga kuat dan kokoh. Sebaliknya jika sholatnya tidak terjaga dengan baik, maka agamanya lemah dan goyah. Apalagi sholat juga merupakan amalan yang dihisab pertama kali di hari Qiyamat, sebagaimana sabda Rasulullah saw, yang artinya. “Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi).

Baca Juga:  Menalar Sehat Ziarah Kubur Melalui Konsep Tauhid

Keenam, Berbuat kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Nasehat keenam ini secara lengkap tercantum pada QS Luqman:17, yang artinya: “… suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar ..,”. Nasehat ini meneguhkan betapa pentingnya beramar ma’ruf nahi munkar. Bahkan amar ma’ruf dan nahi munkar itu merupakan indikator penting sebagai ummat terbaik. Sebagaimana yang dicantumkan dalam QS Ali Imran:110, yaitu:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ

Artinya:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

Ketujuh, Sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Nasehat ini juga ditekankan oleh Luqman yang disebutkan dalam QS Luqman:17, yang artinya “… bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.., Sabar mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu adalah sesuatu yang bisa menenangkan diri dan menyelamatkan diri dari berbagai mushibah. Bagaimana anjuran Allah swt untuk sabar dalam mushibah juga dimuat dalam QS Al Baqarah:155:

وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ

Artinya:
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar…”

Kedelapan, Janganlah menyombongkan diri. Nasehat Luqman penting terakhir kepada anaknya yang diabadikan dalam QS Luqman : 18-19 yang artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” Setinggi apapun status sosial dan ekonomi kita, tidak boleh merasa tinggi, merasa hebat dan bertindak takabbur. Apalagi mengabaikan dan melupakan sang Pencipta. Sebaliknya kita harus rendah hati atau tawadlu’.

Baca Juga:  Pandangan Al-Qur’an tentang Prinsip Etika Berkomunikasi dalam Islam

Delapan nasehat tersebut patut menjadi renungan, bahkan panduan bagi semua orangtua, sehingga dapat mengantarkan anak-anaknya menjadi sholeh dan sholehah. Untuk menyempurnakan nasehat tersebut, maka dapat disempurnakan dengan nasehat Luqman lainnya kepada anaknya, yaitu “Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal agar kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tidak ada satu pun orang fakir itu kecuali mereka mengalami tiga perkara, yaitu tipis keimanan terhadap agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu), dan hilang kepribadiannya.

Demikianlah beberapa point penting nasehat Luqman Al Hakim bagi anak-anaknya. Yang kita yakini bisa memjadi pelajaran berharga bagi setiap orangtua yang merindukan suatu bangunan keluarga sakinah mawaddah warahmah wamaslahah. Walaupun kita menghadapi era Desrupsi dan Pandemi C-19, Nasehat Luqman Al Hakim tetap masih relevan. Tinggal bagaimana kita menkontekstualisasikan dengan situasi dan kondisi yang ada. []

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah