Banyak orang di muka bumi yang terlahir dan dilahirkan sebagai orang alim. Berkarakter, cerdik, pandai, dan bijak. Kehadirannya menyenangkan dan mencerahkan. Bermanfaat bagi umat dan alam semesta. Takut kepada Allah Yang Maha Pandai dan Maha Pencipta. Dalam sejarah kemanusiaan dan peradaban, tidak sedikit kita bisa temukan orang Alim. Salah satunya adalah Imam Syafi’i. Yang nama aslinya Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Muththalibi al-Qurasyi. Adalah mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi’i. Banyak kalimat bijak dan nasehat baik yang telah disampaikan untuk umat Islam, yang diharapkan sangat bermanfaat.

Selanjutnya perkenankan pada kesempatan yang baik ini untuk sharing sembilan nasehat dari Imam Syafi’i bagi umat Islam, semoga bermanfaat bagi kehidupan kita.

1. “Jangan cintai orang yang tidak mencintai Allah, kalau Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu,” (Imam Syafi’i). Ini suatu tuntunan bagi kehidupan yang baik, bagaimana kita mencintai hamba Allah yang benar. Kita hendaknya mencintai seseorang karena Allah dan bercerai dari seseorang juga karena Allah.

2. “Barang siapa yang menginginkan husnul khatimah, hendaklah ia selalu berprasangka baik dengan manusia,” (Imam Syafi’i). Kita harus biasakan berprasangka baik terhadap orang lain, positive thinking atau husnuzhon. Kita harus menghargai dan respek kepada orang lain. Berusaha menjauhkan dari prasangka jelek untuk hindari dosa. Dengan tiada dosa diharapkan wafat dengan husnul khatimah. Ingat firman Allah swt, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa” (QS Al Hujurat:12),

3. “Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat,” (Imam Syafi’i). Ini menegaskan bahwa kita perlu mengukuhkan ilmu amaliah, artinya ilmu itu memiliki sifat utama, yaitu amaliah, sesuatu yang harus diamalkan. Ingat suatu Mahfudzat, bahwa “Ilmu yang tidak diamalkan adalah bagaikan pohon yang tak berbuah”. Mafhum mukhakafah-nya, bahwa “seseorang itu baru berilmu jika sudah diamalkan”. Karenanya budayakan diri kita dengan mengamalkan ilmu.

Baca Juga:  Imam Syafi’i dan Seorang Pemuda yang Sedang Jatuh Cinta

4. “Jika kamu tak mau merasakan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung pahitnya kebodohan,” (Imam Syafi’i). Bekerja keras, belajar sungguh-sungguh itu sarat penting untuk pandai, sebaliknya jika bermalas-malasan, maka akhirnya memetik kebodohan. Ingat suatu peribahasa “rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh”. Jika kita suka lelah dan malas belajar, jangan berharap kita bisa menjadi pandai.

5. “Siapa yang menasehatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasehatimu. Siapa yang menasehatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu,” (Imam Syafi’i). Dalam konteks ini keikhlasan dan ketulusan menjadi faktor penting dalam pemberian nasihat. Tidak dibutuhkan sikap ria. Seiring dengan rambu-rambu Allah dalam beramal yang perlu dirahasiakan, yaitu “seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya”. Untuk supaya nasehat berarti, maka perlu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tidak demonstratif sekalian untuk melindungi harkat yang dinasihati.

6. “Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu,” (Imam Syafi’i). Jadikan akhirat selalu di hatimu, agar kau senantiasa lalui kehidupan ini merujuk pada Allah. Senang melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya serta merasa dekat Allah. Genggamlah dunia di tanganmu, agar kau bisa senantiasa mengendalikan kehidupanmu. Menjadikan dunia sebagai batu lompatan dan bersifat sementara. Ingatlah kematian di pelupuk matamu, agar kau tidak lengah dalam beramar makruf dan bernahi munkar. Maut akan menjemput kita sewaktu-waktu, sehingga kita bersemangat untuk beramar makruf dan bernahi munkar.

7. “Amalan yang paling berat diamalkan Ada 3 (tiga). (1) Dermawan saat yang dimiliki sedikit. (2) Menghindari maksiat saat sunyi tiada siapa-siapa. (3) Menyampaikan kata-kata yang benar di hadapan orang diharap atau ditakuti,” (Imam Syafi’i). Salah satu sifat orang bertakwa adalah berinfak di kala longgar dan sempit. Ketika ditawari berzina orang wanita yang cantik, berani katakan “aku cinta kepada Allah”. Selanjutnya memiliki keberanian moral dengan mengatakan yang hak itu hak dan yang batil itu batil di hadapan musuh.

Baca Juga:  Akidah Imam Syafi’i dan Pendapatnya

8. “Orang yang hebat adalah orang yang memiliki kemampuan menyembunyikan kemelaratannya, sehingga orang lain menyangka bahwa dia berkecukupan karena dia tidak pernah meminta,” (Imam Syafi’i). Ketika dalam kesulitan dalam kondisi apapun tidak pernah mengeluh dan menyulitkan orang lain. Lebih baik bekerja sekeras apapun sesuai kondisinya daripada minta belas keadilan orang lain. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

9. “Belajarlah sebelum kamu menjadi pemimpin, sebab ketika kamu telah memimpin, tidak ada lagi waktu untuk belajar. – Imam Syafi’i. Senyampang masih muda, upayakan belajar sungguh-sungguh, sebagai investasi peradaban untuk mempersiapkan diri sebagai khalifah di atas. Ketika menjadi pemimpin, yang bisa dilakukan adalah mengeksplorasi pengetahuan dan pengalaman yang relevan dengan adaptasikan semua yang dimiliki untuk bisa menjawab persoalan pada zamannya.

Demikianlah sembilan nasehat Imam Syafi’i yang patut direnungkan diimplementasikan untuk perbaikan hidup kita masing-masing. Dengan begitu diharapkan bahwa kita bisa menjalani hidup ini dengan bahagia dan sejahtera yang mudah-mudahnya bisa menjadi ladang kita untuk meraih kebahagiaan yang hakiki di akhirat. Utamanya dewasa ini kita merasakan kehidupan sulit sebagai akibat dari pandemi Covid-19. [HW]

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    post power syndrome
    Opini

    Post-Power Syndrome

    Pada hakekatnya manusia bermula dari lahir, tumbuh dan berkembang mencapai puncak, menurun dan ...

    2 Comments

    1. […] dalam Qur’an Surat Luqman ada 34 ayat. Di antaranya terdapat 8 nasihat terkenal Luqman Al Hakim untuk anaknya. Pertama, Jangan mempersekutukan Allah. Nasehat ini […]

    2. […] Ketekunan Imam Syafi’i dalam belajar membuat keilmuannya terus berkembang. Keilmuannya bak hamparan laut luas. Namanya pun semakin masyhur dan murid-muridnya kian bertambah. Murid beliau juga bukan murid sembarangan, melainkan orang-orang yang memiliki keilmuan tingkat tinggi. Mereka sangat senang dan merasa tercerahkan dengan menghadiri majelis ilmu Imam Syafi’i. Bahkan, tak ada satu pun dari mereka yang menyangkal akan keunggulan keilmuan Imam Syafi’i. […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah