Pandangan dan manfaat wisata menurut al-quran

Alam raya dan segala isinya -demikian juga teks-teks redaksi Al-Quran- dinamai oleh Allah swt sebagai “Ayat-ayat Allah”. Sementara ulama dalam rangka membedakannya, menamai yang pertama sebagai “Ayat Kauniyyah” dan yang kedua sebagai “Ayat Qur’aniyyah”.

Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul “Membumikan Al-Quran”: Secara harfiah; “ayat” berarti “tanda”, dalam arti; rambu-rambu perjalanan menuju Allah swt, atau bukti-bukti ke-Esaan dan Ke-Kuasaan Allah swt. “Tanda” tersebut tidak dapat difungsikan dengan baik sebagai “tanda”, kecuali apabila didengar dan atau dipandang -baik dengan mata hati maupun dengan mata kepala-. Oleh karena itu, dalam Al-Quran ditemukan sekian banyak perintah Allah yang berkaitan dengan pem-fungsian tanda-tanda tersebut. Khusus yang menyangkut dengan pandangan, tidak kurang dari tujuh ayat yang mengaitkan langsung perintah memandang itu dengan perjalanan, seperti misalnya ayat; “Berjalanlah di bumi dan lihatlah..”. Bahkan as-Saihun (wisatawan) yang melakukan perjalanan dalam rangka memperoleh ‘ibarat (pelajaran dan pengajaran), dipuji oleh Allah swt berbarengan dengan pujian-Nya kepada orang-orang yang bertobat, mengabdi, memuji Allah, ruku’ dan sujud, memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran serta memelihara ketetapan-ketetapan Allah swt (QS. At-Taubah:112)

ٱلتَّٰٓئِبُونَ ٱلْعَٰبِدُونَ ٱلْحَٰمِدُونَ ٱلسَّٰٓئِحُونَ ٱلرَّٰكِعُونَ ٱلسَّٰجِدُونَ ٱلْءَامِرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱلنَّاهُونَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱلْحَٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِ ۗوَبَشِّرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu“.

Kata “as-Saihun” terambil dari kata “Siyahah” yang secara populer diartikan sebagai wisata. Kata ini mengandung arti penyebaran. Oleh karena itu, dari kata tersebut dibentuk kata “Sahat” yang berarti “lapangan yang luas”. Sementara ulama ingin membatasi pengertian kata tersebut, bahkan mengaitkannya dalam ayat diatas dengan pengertian metafor, seperti “puasa”. Tetapi, apa yang mereka lakukan itu, dinilai tidak mempunyai dasar yang kuat.

Baca Juga:  Perbedaan Kata رحمة dan رحمت dalam Al-Qur'an, dan beberapa Variannya (Keunikan Simbol dalam Al-Qur'an)

Muhammad Jamaluddin Al-Qasimy (1866-1914) menguraikan dalam tafsir-nya bahwa arti “siyahah” adalah perjalanan wisata; karena menurutnya, cukup banyak bukti dan indikasi dari ayat Al-Quran yang mendukung artikel tersebut. Pakar Al-Quran tersebut menjelaskan sebagai berikut; “Saya telah menemukan sekian banyak pakar yang berpendapat bahwa; Kitab Suci memerintahkan manusia agar mengorbankan sebagian dari (masa) hidupnya untuk melakukan wisata dan perjalanan, agar ia dapat menemukan peninggalan-peninggalan lama, mengetahui kabar berita umat-umat terdahulu, agar semua itu dapat menjadi pelajaran dan ‘ibarat, yang dengan-nya dapat di ketuk dengan keras otak-otak yang beku“.

Perlu digarisbawahi bahwa pendapat diatas menekankan perlunya wisata walaupun dalam bentuk pengorbanan. Ini berarti bahwa perjalanan yang tidak mengandung pengorbanan lebih dianjurkan lagi, dan bahwa tujuan wisata -antara lain- adalah untuk memperluas wawasan, atau apa yang diistilahkan oleh Al-Qasimy; “di ketuk dengan keras otak-otak yang membeku”. Memang sah saja, jika kata “saih” diatas diterjemahkan dengan “wisatawan”, karena kata itu juga berarti; “air yang terus-menerus mengalir ditempat yang luas dan tidak pernah membeku”.

Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935) menulis: “Kelompok sufi mengkhususkan arti “as-saihun” yang dipuji itu adalah mereka yang melakukan perjalanan dimuka bumi dalam rangka mendidik kehendak dan memperhalus jiwa mereka”.

Mufassir terkenal, Fakhruddin ar-Razi (1149-1209), menulis; “Perjalanan wisata mempunyai dampak yang sangat besar dalam rangka menyempurnakan jiwa manusia. Karena, dalam perjalanan itu, ia mungkin memperoleh kesulitan dan kesukaran, dan ketika itu, ia mendidik jiwanya untuk bersabar. Mungkin juga menemui orang-orang terkemuka, sehingga ia dapat memperoleh dari mereka hal-hal yang tidak dimilikinya. Selain itu, ia juga dapat menyaksikan aneka ragam perbedaan ciptaan Allah. Walhasil, perjalanan wisata mempunyai dampak yang kuat dalam kehidupan beragama seseorang”.

Baca Juga:  Pandangan Al-Qur’an tentang Prinsip Etika Berkomunikasi dalam Islam

Al-Thabatha’i, Ulama Syiah kontemporer, juga memahami kata “saihun” pada Surah At-Taubah ayat 112 itu dengan perjalanan wisata. Dengan demikian, kita tidak mengemukakan suatu pendapat baru jika menyatakan bahwa Al-Quran menganjurkan perjalanan wisata. [HW]

M Ryan Romadon
Mahasantri Ma'had Aly Ponpes Al-Iman Bulus Purworejo Jawa Tengah

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah