Mempertemukan Dua Kutub

Atlas penyebaran Islam di Indonesia perlu menilik kembali peran lembaga pendidikan yang satu ini. Sepanjang perjalanannya dari masa awal Islam di Indonesia, pesantren turut serta menjadi bagian penting dari persebaran Islam. Otonomi yang dimiliki pesantren dan prototipe yang terkandung di dalamnya turut membantu dalam proses pengenalan peserta didik (santri) ihwal masyarakat secara umum. Jamak orang-orang pesantren menyebut dirinya dan kurikulum di dalamnya sebagai miniatur kecil dari masyarakat yang lebih agam. Hal tersebut bukan pernyataan yang apologetik semata, tetapi berasas pada kontribusi pesantren sejak awal mula persebaran agama Islam.

Pesantren sendiri  diklaim sebagai sinkretisme antara Islam itu sendiri dan agama Nusantara sebelumnya—Hindu-Buddha serta Kapitayan. Formulasi yang dibangun oleh penyebar Islam awal dengan strategi ini bisa dibilang berhasil. Mempertemukan nilai dalam Islam dengan konsep-konsep lain yang cenderung profan dan datang dari luar Islam. Sehingga kurikulum tidak tertulis yang ada dalam tubuh pesantren, semisal tatakrama, hampir mirip atau bahkan senafas dengan gurubakti dalam silakrama. Dalam silakrama mencakup tiga guru (triguru); orang tua yang sudah melahirkan (guru rupaka), guru yang mengajarkan ruhani (guru pangajyan), dan raja (guru wisesa) [Agus Sunyoto, 2017: 422].

Meneropong iras pesantren mutakhir yang sudah betul-betul menyatu dengan masyarakat, meski pada mulanya pesantren bukan postulat dasar Islam. Tetapi karena jejak historis yang panjang, hal tersebut seolah melegitimasi bahwa pesantren adalah Islam itu sendiri. Sehingga konsep dalam tubuh pesantren mudah diterima tersebab berpadunya dengan corak Islam Indonesia sepanjang perjalanannya.

Titik tolak paling fundamental, yang tidak laik untuk dilupakan, pesantren dalam kacamata historis, ketika Wahid Hasyim memformasikan kurikulum ilmu umum di dalamnya. Dasawarsa awal, pesantren masih begitu tertutup sehingga pengajaran hanya berkelindan dengan ilmu-ilmu keagamaan. Mayoritas kiai waktu itu masih menaruh syak—untuk menghindari diksi alergi— pada pengetahuan sekuler. Sehingga gagasan Wahid Hasyim dengan keterbukaannya mengusulkan perombakan dalam kurikulum pesantren. Hal itu dimaksudkan agar santri tidak cukup hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga pengetahuan modern.

Baca Juga:  Peringatan 60 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Maroko Kuatkan Wasathiyatul Islam

Pemikiran dan usulan Wahid Hasyim ini adalah sebuah koreksi bagi kecenderungan orang-orang pesantren. Mula-mula yang hampir kesemuanya ingin menjadi pemuka agama atau orang yang pakar di bidang tersebut. Tetapi, dengan dimasukannya kurikulum umum ini diharapkan dapat menjadikan santri yang multipel. Penguasaan dan dominasi santri diharap untuk tidak hanya berpangku pada pelajaran keagamaan dan naskah-naskah berbahasa Arab semata.

Hal tersebut tidak lain adalah sebuah usaha bagaimana menjawab tantangan realitas. Santri adalah bagian dari realitas dan arus zaman yang semakin hari bertambah deras. Dengan demikian untuk bertahan dari serangan realitas dan gempuran tersebut tidak lain harus memahami ihwal sesuatu yang berkaitan dengannya. Realitas yang serba keras akan mengkonstruk akal mukawwan—meminjam bahasa Abid al-Jabiri—dalam diri manusia, atau santri dalam arti yang lebih sempit. Nalar santri sendiri sesungguhnya menjalani melewati fase indoktrinasi di pesantren yang pada akhirnya juga diharap menjawab problem dalam masyarakat.

Langkah baru dari Wahid Hasyim di atas perlu sekiranya untuk dikaji kembali bagaimana kelindan konsep tersebut dengan realitas. Meski, pada saat gagasan itu lahir justru mendapat banyak kritik dari ulama dengan tuduh mencampur domain agama yang sakral dengan ranah sekuler. Hal yang di luar agama (Islam) memang sejak awal dianggap hal tabu, apalagi saat itu yang masih dalam tahun sekitaran kolonialisme.

Simtom dikotomik dalam memandang ilmu—antara ilmu agama dan non agama—menjadi problem yang sejatinya sudah selesai. Meski, persoalan tersebut masih menarik untuk didekati kembali. Apalagi dari awal munculnya simtom dikotomik dituduh sebagai gejala yang menyerang seluruh lapisan umat Islam, termasuk pesantren. Era dikotomik tersebut ditandai dengan polarisasi Sunni-Syiah sampai fanatisme mazhab.

Baca Juga:  Ketika Islam di Andalusia (3)
Wasilah Hegel

Tidak akan terlalu jauh masuk dalam awal mula kemunculannya, tetapi di sini akan mengkaji formulasi yang ideal dalam problem tersebut. Dalam hal ini mencoba menggunakan teori dialetika filsuf idealis Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Pendekatan dialektika yang digunakan Hegel cukup ideal dengan iras pesantren non-dikotomik.

Dialektika sendiri merupakan sebuah pendekatan perpaduan dua hal yang kontradiktif. Ia diformulasikan sebagai The Teory of The Union of Opposites, paduan dua hal yang sama-sama antagonistis. Ihwal pertama yang merupakan konsepsi khusus(tesis) dan perihal kedua yang dicarikan-klaim kontradiksinya (antitesis). Dari kedua hal tersebut kemudian ditarik sebuah kesimpulan yang padu dan dialektif (sintesis).

Dari teori Hegel dapat dipinjam bagaimana sejatinya memformulasikan pesantren dalam menyumbang dinamika pendidikan Indonesia. Tidak cukup hanya mengklaim bahwa ilmu agama lebih komplit dari yang satunya, atau sebaliknya. Tetapi mencari perpaduan antara keduanya(sintesis) sangat dibutuhkan dalam memecahkan permasalahan ini. Dialektika antara keduanya adalah sebuah keharusan saat ini. Atau kalau dalam konsep Prof. Amin Abdullah, integerasi-interkoneksi keilmuan.

Untuk menghadapi problem yang tidak dibahas dalam agama, secara khusus teks teologis, maka peran ilmu non-agama sangat sentral. Sebaliknya, menghadapi problem yang sudah dibahas dalam teks teologis, hendaklah didorong oleh pendekatan yang lebih rasional. Timbal balik keduanya akan terus berlangung sepanjang jalan.

Konklusi dramatiknya, pesantren diharapkan menjadi sebuah wajah lembaga pendidikan yang mempunyai otoritas mutlak. Ia juga memiliki dualisme yang hendak dan akan terus mensinergikan ilmu agama dan non-agama. Pada puncaknya, juga kembali terhadap paradigma dan bangun pemikiran dari santri nanti. Santri-santri yang dihasilkan dipastikan mampu berdaptasi dengan gerak zaman. Bagaimanapun santri—dalam istilah Saifuddin Zuhri—yang sedang berada jauh dari kampungnya adalah rakyat dan akan kembali ke tanah rakyat. []

Moh. Rofqil Bazikh
Mahasiswa Perbandingan Mazhab UIN Sunan Kalijaga

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini