Sebagaimana dilansir dari berbagai media, marak beredar berita hoax vaksin Covid-19 Sinovac. Di antaranya seperti yang diberitakan oleh health.detik.com (3/1/2021) bahwa vaksin tersebut mengandung Vero Cell (jaringan kera hijau Afrika) dan beberapa komponen lainnya yang tidak teruji kehalalannya. Dalam informasi yang beredar tersebut juga disebutkan bahwa Vaksin Covid-19 Sinovac yang akan disuntikkan menggunakan vaksin untuk uji coba. Informasi ini jelas-jelas hoax.

Masih banyak lagi berita hoax terkait vaksin Covid-19 Sinovac, seperti video ratusan santri terpapar usai disuntik dengan vaksin Covid-19 dan Ulama Aceh haramkan Vaksin Covid-19 (liputan6.com, 17/1/2021). Berita hoax tersebut tentu sangat meresahkan masyarakat sehingga banyak masyarakat yang takut untuk disuntik vaksin Covid-19. Seakan-akan ada agenda terselubung dibalik proyek vaksin Covid-19 ini. Padahal, pemerintah selama ini telah berupaya keras memulihkan kesehatan rakyat, di antaranya dengan pengadaan vaksin Covid-19.

Merespon berbagai berita hoax meresahkan yang beredar, apalagi sebagian juga menyinggung pondok pesantren, sudah saatnya pesantren menjadi pilar penting untuk menangkis berbagai hoax tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa pondok pesantren memiliki peran yang sangat besar, baik bagi pengembangan pendidikan Islam maupun pembangunan bangsa pada umumnya.

Bahkan kalau kita kuliti sejarah nasional, pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua yang masih eksis hingga saat ini. Catatan Howard M. Federspiel dalam The Oxford Encyclopedia of the Islamic World (2009) menyebutkan bahwa pusat studi Islam sudah mulai menanamkan pengaruh di Aceh, Palembang, Jawa Timur dan Gowa pada kisaran abad ke-12. Kegiatan pendidikan agama Islam inilah yang kemudian dikenal dengan nama pondok pesantren (ponpes).

Seiring dengan bergulirnya masa, jumlah pesantren mejadi sangat banyak. Berdasarkan Pangkalan Data Pondok Pesantren Sub Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, jumlah pesantren di Indonesia mencapai 25.938 dengan 3.962.700 santri yang belajar di sana. Jumlah ini belum termasuk para alumninya yang tersebar se-antero Nusantara tentunya.

Baca Juga:  Fundamentalis ke Kejumudan

Begitu banyaknya luasan entitas pesantren, santri, dan alumni tentunya sangat potensial dalam berkontribusi membangun bangsa, termasuk memerangi berita hoax yang beredar di ruang-ruang virtual. Apalagi dalam konteks media sosial (medsos), para alumni pesantren mempunyai potensi menjadi follower atau pengikut, penyuka atau pembagi konten-konten yang diunggah oleh media sosial milik pondok pesantren.

Tentu saja, konten yang diproduksi, direproduksi dan didistribusikan merupakan pesan-pesan positif untuk membendung hoax. Oleh karenanya, pentingnya optimalisasi media sosial di pondok pesantren. Salah satu karakteristik media sosial adalah kemampuan untuk membawa perubahan sosial. Sementara, pondok pesantren memiliki kemampuan menyentuh masyarakat.

Selanjutnya yang tak kalah penting ialah literasi digital pesantren juga perlu dioptimalkan. Literasi digital ini merupakan bagian dari proses transformasi, pengembangan, pengayaan, dan diversivikasi literatur terutama yang beredar di dunia maya. Perlu diketahui bahwa literasi digital ini adalah literasi untuk memahami kontestasi wacana yang ada dalam dunia maya. Artinya, kemampuan dalam literasi digital tidak terhenti pada kemampuan menguasai media, melainkan bagaimana memahami dan mewacanakan ide ke dalam konteks yang lebih luas. Penguasaan ini kemudian diarahkan kedalam penyebaran wacana-wacana yang konstruktif dan inklusif (Ali Ja’far, 2019).

Oleh karena itu, sudah semestinya bagi pesantren untuk senantiasa berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat di sekitarnya di era media 4.0 ini dimana tantangan cukup keras, khususnya dalam ilmu dan teknologi sehingga para santri serta alumni pesantren tetap dapat diharapkan sebagai kader-kader dan generasi Islam yang akuntabel dan mampu tampil sebagai yang terdepan membangun bangsa, termasuk dalam memerangi berita hoax terkait vaksin Covid-19 Sinovac yang beredar. Sedari dulu santri terkenal tak hanya sebagai entitas yang mempunyai kedalaman ilmu, akan tetapi juga sebagai pilar penting pembangunan bangsa.

Suwanto
Marbot Masjid Kagungan Dalem Lempuyangan Yogyakarta dan Pengajar di Ponpes Dompet Dhuafa Yogyakarta

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini