Shalat

β€œπ΅π‘’π‘Ÿπ‘€π‘’π‘‘β„Žπ‘’β€™π‘™π‘Žβ„Ž π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› πΆπ‘–π‘›π‘‘π‘Ž, π‘ π‘’π‘π‘’π‘™π‘’π‘š π‘π‘’π‘Ÿπ‘€π‘’π‘‘β„Žπ‘’β€™ π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π΄π‘–π‘Ÿ. π‘€π‘Žπ‘˜π‘Ž, π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘π‘œπ‘™π‘’β„Ž π‘ β„Žπ‘Žπ‘™π‘Žπ‘‘ π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› β„Žπ‘Žπ‘‘π‘– π‘π‘’π‘›π‘’β„Ž ; π‘˜π‘’π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘˜π‘–π‘Žπ‘›, π‘‘π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘š, π‘˜π‘’π‘π‘’π‘›π‘π‘–π‘Žπ‘›β€
Jalaluddin Ar-Rumi

Beriman, berislam dan bertaqwa seharusnya berbanding lurus dengan insaniyyah. Memanusiakan manusia. Berbuat baik pada lingkungan, dan makhluk lainnya, hatta makhluk ghaib.

Ajaran-ajaran Islam selalu memprioritaskan manusia dan makhluk lainnya. Walau seakan-akan untuk Tuhan, tapi tataran implementasinya adalah untuk makhluk Allah lainnya. Ke-langit, tapi membumi.

Kita mulai dari yang paling asasi. Setelah syahadat yaitu shalat. Setelah mulut, hati dan tubuh berikrar hanya Allah Sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Nabi, maka segala aturan dan ajaran yang berasal dari syariah harus tunduk kepadanya, jika tidak, maka ia ingkar.

Ajaran shalat, misalnya. Seakan-akan untuk Allah saja, tapi pada hakekatnya ia kembali kepada diri, mushalli dan manusia. Sebagaimana dalam Ayat, β€œSesungguhnya shalat, dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar”. Berbuat keji dan mungkar kepada siapa, tentunya kepada manusia, lingkungan dan lainnya. Output orang yang shalat dapat selalu berbuat baik kepada orang lain, tidak boleh sombong, karena setiap geraknya hanya Allah yang Maha Besar, tidak boleh terlalu membudak pada siapa pun, karena hanya Allah tempat sujud, A’la wabihamdih.

Selalu menebar salam, kedamaian, kebaikan dan penghormatan kepada alam semesta, ajaran tahiyyat dalam salam terakhir. Makna filosofi shalat ini sangat luas, baca: (Belajar Hidup dari Gerakan Shalat, Halimi Zuhdy).

Berikutnya adalah Zakat, zakat mensucikan, dan ini jelas-jelas bagaimana ajaran Allah untuk manusiakan manusia, membantu, berkhidmah dan tolong-menolong. Hidup tidak boleh egois, dengan harta sendiri, ia harus berbagi. Tidak boleh menumpuk kekayaan dan lupa daratan, karena harta yang dimilikinya hanyalak milik Allah, dan harus berbagi pada hambaNya yang lain.

Demikian juga puasa, bagaimana seorang muslim merasakan dahaga, lapar, kekurangan, dan bagaimana ia dalam kondisi terpuruk, maka puasa adalah ajaran terdahsyat.

Manusia adalah makhluk yang harus dihormati, sampai-sampai tidak hanya harus melatih diri untuk lapar, bagaimana ia harus mendekat kepada Allah melalui Faqir Miskin. Bagaimana Rasulullah yang sangat dekat dengan fakir miskin, dhua’fa’, dan Yatim.

Dan segala hukuman (diyat, kaffarat dll) bagi yang tidak berpuasa, seperti; berjima’, hamil, menyusui, dan lainnya, kembalinya juga untuk manusia dan memanusiakan mereka, seperti memerdekakan budak dan memberi 60 makan fakir miskin. Sangat jelas, bagaimana manusia, berbuat atas nama kemanusiaan dengan ajaran Islam melalui puasa.

Sedangkan ibadah haji, walau terkesan ibadah elit, tapi kalau kita perhatikan dari awal sampai akhir manasik haji, bagaimana hubungan manusia dengan manusia lainnya, harus baik, tidak mencaci maki, dan lainnya.

Haji pertemuan puncak dengan seluruh umat Islam, menjalin kerjasama, bersilaturahim, berta’aruf melakukan gerak bersama, menuju titik yang sama, dan menuju penghambaan pada Tuhan yang sama.

Ketika membayar Dam: menyembelih kambing atau unta, kemudian dibagikan kepada manusia, faqir miskin. Ketika bertahallul, menghilangkan pikiran yang tidak baik, kepada Allah dan kepada manusia, pikiran kotor untuk sesama dan lainnya. Mahsyar, berkumpul di satu titik, bersilaturahim, dan menuju pada Tuhan, selain mengajarkan, titik kumpul untuk dihisab atas pekerjaan yang diperbuat.

Ketika β€œIhram” tidak boleh mencabut rumput, memotong pepohonan, berburu, membunuh apa pun, apakah ini bukan untuk kebaikan manusia dan makhluk disekitarnya? Dan hal ini untuk kebaikan manusia dan lingkungannya, sungguh luar biasa ajaran Allah, dan sangat manusiawi sekali.

Semakin spiritual manusia, semakin mendekat kepada Allah, semakin Abid (menghamba, membudak) kepada Allah, maka semakin baik kepada manusia dan makhluk lainnya. Sampai-sampai tidak boleh beristinja’ dengan tulang, karena ia makanan jin, karena mereka juga saudara kita, Sabda Nabi, β€œMaka, janganlah kamu sekalian beristinja’ dengan tulang dan tahi binatang, karena keduanya adalah makanan saudara kalian”.

Dalam banyak hadis Nabi, bagaimana kita berbuat baik tidak hanya kepada siapa pun manusia, tapi juga kepada makhluk lainnya, sebagaimana pelacur yang masuk surga, karena membantu anjing yang kehausan, tapi ada pula perempuan baik, namun mengurung kucing dan menyiksanya, ia masuk neraka.

Agama sungguh untuk kebaikan manusia dan kemanusiaan, bukan untuk menghinanya. Maka, kalau ada yang mengaku beragama dan agamis, tapi masih suka mencaci maki, membully, menghina, apakah ia masih beragama dengan benar.

Allah β€˜alam bishawab.[BA]

Halimi Zuhdy
Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Pengasuh Pondok Literasi PP. Darun Nun Malang, Jawa Timur.

Rekomendasi

1 Comment

Tinggalkan Komentar

More in Opini