Sunan Bonang: Sifat Tuhan dari Dua Sisi Keilmuan (Tasawuf dan Kalam)

Mengenai sketsa riwayat Sunan Bonang, ia mempunyai nama asli Makhdum Ibrahim. Seorang wali terkemuka yang selalu lajang semasa hidupnya, yang terlahir putra ke empat dari Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, dan beliau seorang guru dari Sunan Kalijaga. Beliau juga merupakan seorang wali sekaligus sufi sunni yang intelektual, berfikir tentang dakwah, ilmu dan tasawuf.

Sunan Bonang dalam merumuskan ajaranya perihal sifat tuhan itu memaknainya dari dua sisi kelimuan (ilmu tasawuf dan ilmu kalam). Pemikiran tasawuf Sunan Bonang mengenai sifat-sifat Tuhan dalam ilmu kalam itu sepertihalnya pada aliran Ash‘arīyah yang meyakini dengan tegas adanya sifat bagi Tuhan. Pendapat ini bertolak belakang dengan ajaran Muktazilah.

Yang mana ajaran Muktazilah ini mengatakan bahwa Tuhan tidak memiliki dzat/sifat. Bagi kaum ini Tuhan tetap berkuasa dan mengetahui, akan tetapi tidak dengan sifat aslinya. Tuhan memiliki pengetahuan untuk mengetahui, yang mana pengetahuan tersebut adalah Tuhan sendiri.

Dalam ajaran Ash‘arīyah berpendapat bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat karena tindakan-tindakannya yang tidak dapat diingkari. Sifat Tuhan itu wujud, unik dan kekal. Dengan sifat Tuhan yang unik dan tidak dapat dibandingkan dengan sifat manusia yang tampak mirip. Sifatnya itu bahkan berbeda dengan Tuhan itu sendiri tetapi tidak terpisah dari esensi-Nya.

Pendapat Sunan Makhdum Ibrahim perihal ilustrasi sifat Tuhan itu ada pada tulisan karyanya “Kitab Bonang”. Yang mana beliau menyifatkan Tuhan dengan sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh-Nya untuk diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasulallah tanpa ta’wīl (simbolik), tamsīl (umpama), taqyīd (membatasi), ataupun tashbih (menyamakan).

Sunan Makhdum Ibrahim mengemukakan sifat Tuhan sebagai sifat yang “sampurna, purba, dan qadīm”. Kesempurnaan sifat Tuhan yang ia maksudkan adalah “pandudoning kawulo-gusti; sifatining pangeran tan dadi sifatining makhluk, sifatining makhluk tan dadi sifatining gusti” yang artinya sifat Tuhan bukan makhluk, dan sifat makhluk bukan sifat Tuhan.

Baca Juga:  Tahapan Beribadah Atau Amaliyah Kepada Tuhan: Syariat, Thariqah, dan Haqiqah dalam Pandangan Sufi (Tasawuf)

Konsep tersebut menekankan bahwa manusia dan tuhan merupakan dua wujud yang berbeda. Setip individu berdiri sendiri tidak melebur jadi satu, meskipun starta tertingginya dalam maqam fana’.

Sementara sifat purba dan qadīm yang dimaksud adalah “Ingsoen anakseni, kahananing pangeran kang anama Allah, kang asifat sadja suksma, langgeng kekel wiboeh sampoerna poerba qadīm sifatira mahasuci, orana pangeran sabenere anging Allah oega, pangeran kang sinembah sabenere kang Agoeng” yang artinya saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang memiliki sifat kekal, sempurna, qadīm, Yang Maha Suci. Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Tuhan yang Disembah dan Yang Agung.

Konsep tersebut menekankan dan memberi pengertian bahwa sifat Tuhan bukanlah sifat yang diciptakan, sifat Tuhan bukanlah sifat yang baru dan tercipta dari ketiadaan, sifat Tuhan adalah kekal dan abadi pada esensinya.

Hal ini tampak jelas dalam tulisannya di Kitab Bonang: “Sira Pangeran anakseni ing mahasoetjining piambekira agoengaken ing sifat kahananira poerba ing dewekira toenggal ing katoenggalanira agoeng ing kagoenganira ratoe ing karatonira langgeng amuedji-pinoedji ing piambekira”. Kamu bersaksi atas Tuhan yang Maha Suci, sifat-Nya Agung dalam keberadaan-Nya, dan Dia berkuasa. Dia Satu dalam keesaan-Nya, Agung dalam keagungan-Nya, Raja dalam kerajaan-Nya dan Dia yang terpuji Abadi. []

Sumber bacaan:

Akmal, Tauhid Ilmu Kalam. Bandung: Cv Pustaka Setia, 2000.
Irfan Riyadi, Fatwa Sunan Bonang: Membedah Otentitas Ajaran Tasawuf Wali Sanga Dalam Suluk Syeh Bari. Yogyakarta: Stain Po Press, 2015
Nur Kholis Dan Ahmad Mundzir, Menapak Jejak Shultanul Auliya: Sunan Bonang. Tuban: Mulia Abadi, 2013.

Durriyatun Ni’mah
Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Ulama