Menjadi mahasiswa merupakan kebanggaan generasi muda, menjadi impian para remaja. Dengan menjadi mahasiswa banyak privallege yang bisa dipetik dan dirasakan. Karena itu menjadi mahasiswa suatu keistimewaan. Dengan menjadi mahasiswa dapat perlakuan khusus dari banyak pihak. Tentu status menjadi mahasiswa yang benar-benar patut merupakan kebahagiaan tersendiri, manakala bisa menjadi mahasiswa produktif.

Ada mahasiswa yang baru terdaftar, ternyata tidak berlanjut ikuti aktivitas akademik, inilah yang disebut mahasiswa mati suri. Ada mahasiswa drop out di tahun ketiga yang seharusnya 4 tahun. Ada mahasiswa yang memperpanjang waktunya hingga habis masa studi tidak bisa diselamatkan. Ada mahasiswa yang bisa selesaikan studinya mendekati masa studinya. Ada mahasiswa yang tepat waktu dengan IPK tertinggi dalam waktu masa idealnya. Tentu yang paling ideal adalah menjadi mahasiswa produktif, dengan selesai tepat waktu (4 tahun untuk S1), melonjak sedikit waktu ideal, dan lebih cepat sedikit dari waktu idealnya.

Menurut Wabisabi Learning (2019) bagi mahasiswa produktif adalah “students who are creating solutions and projects that have meaning and purpose. They gladly take initiatives and assume responsible ownership of class time. Above all, it means students are loving their learning.”

Berdasarkan definisi tersebut di atas bahwa mahasiswa produktif adalah mahasiswa yang menggunakan waktu selama masa studi dengan kegiatan yang bermakna, menciptakan berbagai solusi dan mampu mencapai tujuan studi, serta mengakhiri studi dengan kompetensi yang bisa menjadi bekal terjun ke masyarakat secara produktif.

Untuk menjadi mahasiswa produktif, ada beberapa usaha yang seharusnya dilakukan, (1) mengorganisasikan waktu dengan baik, (2) mengikuti perkuliahan secara treater dan aktif berpartisipasi, (3) mengetahui cara belajar yang efektif, (4) menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif, (5) mengikuti kegiatan pengembangan bakat dan minta, (6) mengikuti kegiatan latihan dan aktif dalam kepemimpinan, (7) Membuat agenda bebas dari kagiatan belajar secara rutin, (8) Membuat dateline dan mematuhinya dalam prakteknya, (9) Membiasakan makan sehat dan menjaga kesehatan, (10) menggunakan dana yang secukupnya selama studi, tidak konsumtif, dan (11) menjaga iman dan mengamalkan ajaran agama secara ikhlas.

Baca Juga:  Stafsus Menag Abdul Rochman: UM PTKIN Jadi Best Practice Seleksi Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri

Menjadi mahasiswa produktif tidaklah mudah bisa dicapai oleh setiap mahasiswa, karena banyak halangan dan tantangan. Adapun halangan dan tantangan itu di antaranya: (1) motif berprestasi mahasiswa belum sepenuhnya membanggakan, (2) kebiasaan membaca mahasiswa relatif rendah, (3) kemampuan bahasa internasional mahasiswa cenderung rata-rata, (4) pengaruh kehidupan kapitalisme dan pragmatisme semakin kuat, (5) belum adanya filter dari pemerintah atau institusi yang kuat terhadap masuknya budaya asing yang bertemtangsn dengan budaya Nasional.

Akhirnya, bahwa menjadi mahasiswa produktif menjadi dambaan dan kebanggaan. Tapi tidak semua mahasiswa bisa produktif. Karena itu perlu amalkan dan usahakan serius wujudkan tip-tip menjadi mahasiswa produktif. Semoga setiap mahasiswa mengetahui kondisi potensi dan frofilnya, memiliki moralitas, memiliki kompetensi dasar, memiliki keterampilan menulis, mempunyai spirit dan kemampuan enterprenership, dan kecakapan leadership.

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini