Muhammad Tamim Sufyan: Penguatan Shalawat Nariyah

Salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Sumber Bunga, Seletreng, Kapongan Situbondo, Kiai Tamim Supyan Miftahul Arifin, ajak Jamaah untuk mendawamkan shalawat nariyah, agar memperoleh cahanya shalawat,  acara ini dimulai Pukul, 01:00 WIB. Di Halaman rumah Bapak Maskur Dusun Cangkreng, Desa Moncek Timur, Kec. Lenteng, Kamis, 29 Februari 2024.

Ribuan jamaah  menghadiri kegiatan tersebut,  yang terdiri dari berbagai kelompok shalawat nariyah di Desa setempat, maupun luar Desa, Seperti Moncek Tengah, Moncek Barat,  dan Desa Bluto. Sementara tokoh masyarakat yang hadir lebih dari 15 Orang, antara lain; Kiai Mawardi, Kiai Habibullah, Kiai Jauzi.

Rentetan acara Safari Dakwah ini di awali dengan  pembacaan tawwasulan, yang dipimpin Kiai Habibullah Syamsul Arifin, kemudian di susul dengan lantunan shalawat Nariyah secara  berjamaah. Kemudian dilanjutkan dengan tausiyah “Penguatan Shalawat Nariyah”oleh KH. Muhammad Tamim Sufyan.

Beliau menyampaikan, bahwa kebahagiaan sejati ketika seseorang mempunyai kepercayaan penuh kepada Allah atau istilah ulama  Tsiqah Fillah. Beliau mengajak seluruh jamaah pengajian agar selalu  meningkatkan pembacaan shalawat tidak hanya dalam taraf  lisan, namun masuk dalam relung hatinya, dengan mentadabburi makna, sehingga cahayanya shalawat mencerap dalam kalbu.

Salah satu amalan yang dianggap mujarab adalah Sholawat Tafrijiyah Qurthubiyah. Di Maroko, sholawat ini dikenal sebagai Sholawat Nariyah dan biasanya dibaca ketika seseorang memiliki keinginan atau berharap dapat menolak sesuatu yang tidak diinginkan.

Tidak hanya itu, sholawat ini juga dipraktikkan saat umat muslim berkumpul dalam sebuah majelis, di mana mereka membaca Sholawat Nariyah sebanyak 4.444 kali. Dengan izin Allah SWT, diharapkan keinginan mereka dapat terwujud.

Beliau menjabarkan kalimat “ tanhallu bihil uqadu”. Maksud dari kalimat tersebut. Ketika ikatan-ikatan dalam dirinya manusia terlepas. Segala hajat yang ia butuhkan akan terkabul. Namun marilah kita tingkatkan lagi, bahwa tujuan membaca shalawat ini bukan semata-mata keduniawian belaka.

Baca Juga:  Bermain Saham dalam Perspektif Ulama Kontemporer

Lebih lanjut, beliau menyampaikan, bahwa tanda-tanda orang yang telah mendapatkan cahaya shalawat, maka akan sirna sifat kedengkian, kesombongan, kecongkakan, di  dalam dirinya, dan akan tertanam sifat keikhlasan, kedermawanan dan Qonaah.

Beliau juga mengajak para hadirin, agar selalu berkumpul dengan orang-orang shaleh (Mushahabatur rijal). Menurutnya tempat yang pernah didiami orang shaleh. Lebih baik cepat pengaruhnya terhadap perbaikan akhlak.

Dekatilah orang yang cinta kepada orang wali. Karena atsarnya akan membekas dalam dirinya. Ketika engkau memandangnya hatimu akan bangkit untuk beribadah kepada Allah. Inilah salah satu tanda orang yang baik.

Beliau mengisahkan salah satu kiai Sepuh di Situbondo, Kiai Hafidz Thahir, Murid Kiai Mun’im Zaini, Ketika saya bertanya tentang cerita Guru beliau, secara sepontan beliau bercucuran air mata. Beliau termasuk salah satu yang telah teraliri cahaya shalawat.

Semoga kita hari ini termasuk orang-orang yang dicintai Nabi, marilah kita jangan bosan-bosan membaca shalawat kepada Nabi tanpa mengharap keduniawian. [hw]

Hamdi
Abdi Di PP Tarbiyatul Banat Moncek Tengah, Aktif di Organisasi Kepemudaan, Minat/ Hobi Membaca dan sebagian tulisannya dimuat di berbagai media online, selain itu aktif membuat konten youtube tentang pendidikan.

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Ulama