Jamaah Aolia dan Pasang Surut Kepercayaan Lokal

Menjelang Idul Fitri 1445 Hijriyah yang baru saja kita lewati, kita dikejutkan dengan berita ada satu komunitas Jamaah Islam di Gunung Kidul Yogjakarta yang telah merayakan Hari Raya Idul Fitri 1445 H. Hebohnya lagi adalah, dia mengklaim telah menelepon Tuhan untuk penentuan hari H lebaran lebih dulu, sebelum ormas lain maupun pemerintah resmi menentukan hari raya berdasar kaidah penetapan yang lazim digunakan. Konon jamaah tersebut juga telah puasa terlebih dahulu. Tulisan ini tidak pada posisi ‘menghakimi’ ajaran pada komunitas tersebut, tetapi lebih pada menggali dan memunculkan kembali untaian “puzzle” dari ragam atau pernik kepercayaan dan budaya yang beririsan, atau yang pada awalnya bersumber dari spirit agama.

Sebagai gambaran awal merujuk informasi dari Wikipedia, dari sisi prosentase jumlah populasi penduduk di tanah air yang beragama Islam saat ini sekitar 86,7% (data berdasarkan survey tahun 2018). Dari angka tersebut, mayoritas (98,8%) adalah Muslim Sunni, sementara 1-3 juta atau 1% adalah penganut  Syi’ah. Selain itu ada sekitar 0,2% yang menganut paham Ahmadiyah. Sedangkan dari segi mazhab fikih, mayoritas mengikuti mazhab Syafi’I, dengan sejumlah kecil mengikuti  mazhab fiqh lainnya.

Secara umum ada kecenderungan pemikiran Islam yang secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua orientasi, yaitu  ‘Modernisme’, serta yang memegang teguh ajaran dan dktrin agama atau disimbolkan dengan ‘Islam Tradisi’. Modernisme adalah semangat beragama yang terbuka untuk pembaruan dengan sejumlah argumen rasionalitasnya. Sementara di pihak yang lain semangat ‘ortodoksi’ juga kukuh dengan argumen dan dalilnya. Bahwa agama yang berisi dimensi normatif yang harus dijaga atas akar tradisi dan dogma normatifnya agar tidak dengan mudah terdistorsi dari prinsip penting dalam ajaran beragama.

Baca Juga:  Kepercayaan

Dalam sejarahnya, atau lebih tepatnya saat Islam masuk ke berbagai kawasan –termasuk di Nusantara–, “perkawinan” dengan konteks budaya lokal tidak dapat dihindarkan. Oleh karena itu teologi ortodoks yang dibawa para pembawa risalah Tuhan tersebut juga melakukan pembaruan (modernisasi) terutama dari sisi metode dakwah yang merangkul ajaran lokal sebelumnya melalui akulturasi budaya. Dengan demikian Eklektisitas tersebut mewariskan pernik pernik ajaran atau bahkan aliran baik yang mainstream maupun yang non-mainstream. Dari yang lazim –dan banyak diikuti oleh mayoritas pemeluk ajaran agama, hingga yang dipandang sesat (dan kafir).

Clifford Geertz dalam satu tulisannya mengungkapkan pendekatan yang eklektik tersebut mampu mewariskan suatu fenomena yang dia sebut sebagai sinkretisme.  Sinkretisme adalah proses atau fenomena dimana unsur-unsur dari berbagai keyakinan, agama, atau tradisi budaya yang berbeda digabungkan atau disatukan menjadi satu. Proses tersebut sering kali terjadi karena interaksi antara kelompok-kelompok yang berbeda, baik secara sukarela maupun karena faktor sejarah, politik, ekonomi, atau sosial yang ada. Dalam konteks agama, sinkretisme terjadi ketika ajaran atau praktik dari agama yang berbeda-beda diadopsi, dipadukan, atau disatukan dalam satu sistem kepercayaan dalam kehidupan beragama akibat pengaruh dari luar. Dalam konteks apa yang dipaparkan oleh Geertz ini, Sinkritisme Islam dalam hal ini berpadu dengan ajaran Jawa dimana Geertz melakukan fokus kajiannya di Jawa.

Jika kita menoleh pada ajaran Gereja Katolik, terdapat sejumlah Ordo yang merujuk pada berbagai kelompok atau tata cara kehidupan religius yang memiliki aturan, tradisi, dan karunia-karunia tertentu yang khas. Ordo-ordo ini didirikan untuk mempersembahkan pelayanan tertentu kepada Gereja dan masyarakat, serta dalam kerangka untuk hidup sesuai dengan panggilan religius mereka.

Baca Juga:  Napak Tilas Kejawen, Kepercayaan Lokal yang Diakulturasi oleh Islam

Beberapa Ordo dalam tradisi Katolik misalnya: Ordo Dominikan, yang  didirikan oleh Santo Dominikus pada abad ke-13. Ordo Dominikan terkenal dengan penekanannya pada studi, pengajaran, dan penginjilan. Para anggotanya, yang sering disebut sebagai Dominikan, dikenal karena kecenderungan mereka dalam mempelajari teologi dan menyebarkan ajaran Katolik.

Ada juga Ordo Fransiskan, yang didirikan oleh Santo Fransiskus dari Assisi. Ordo Fransiskan terkenal dengan kehidupan kesederhanaan, pelayanan kepada kaum miskin, dan cinta terhadap alam. Ada beberapa cabang Fransiskan, termasuk Ordo Fransiskan Konvensional, Ordo Kapusin, dan Ordo Fransiskan Keluarga Sekular.

Demikian juga ada Ordo Yesuit, yang didirikan oleh Santo Ignatius Loyola pada abad ke-16. Ordo ini dikenal karena komitmen mereka pada pendidikan, penginjilan, dan karya misi. Yesuit juga dikenal karena kegiatan sosial mereka dan penekanannya pada kontemplasi dalam tindakan. Selain Ke-3 Ordo diatas ada Ordo Benediktin, Ordo Karmelit, Ordo Agustinian, Ordo Redemptoris. Yang mungkin membedakan dalam tradisi Islam, Ordo atau Jamaah Komunitas di Islam memiliki lejitimasi yang berbeda. Ada yang cukup dominan, namun ada juga yang memilki komunitas yang hanya tersebar dalam kelompok terbatas, yang biasanya didasarkan pada ketokohan para imamnya, serta tidak memiliki kekhasan seperti pada Ordo di Katolik.

Maka kembali ke dinamika pengikut ajaran agama melalui pada leader yang ada, keberaniannya dalam “berkreasi” atau berinovasi tersebut yang nampaknya serasa ‘ngeri-ngeri sedap’, yang dalam fakta perkembangan zaman senantiasa ada pasang-surutnya, utamanya komunitas sub-kultur Islam di nusantara. Penulis menyebut ‘ngeri-ngeri sedap’ karena hal itu pasti ditentang oleh jumhur ulama yang lain dan ummat, namun senantiasa ada saja pengikut yang loyal. Pasang surut dari dinamika keberadaan ‘aliran’ non-mainstream atau kepcercayaan lokal tersebut misalnya kita masih mendengar Islam Kejawen, Jamaah Aboge, Islam Waktu Telu, termasuk komunitas Jamaah Aolia di Bantul yang muncul belakangan ini. Meskipun yang terakhir tersebut juga belum dapat dipastikan sebagai bagian dari kelompok non mainstream, tetapi paling tidak pimpinan jamaah tersebut berani berbeda, setidaknya penentuan waktu puasa dan lebaran tahun ini.

Baca Juga:  Gus Baha di Mata Seorang Penghayat Kepercayaan

Teringat dengan apa yang pernah disampaikan oleh Profesor Amin Abdullah, bahwa Agama selain memiliki dimensi Normatif yang sifatnya lebih tertutup, ada dimensi Historis. Dengan demikian ‘pembumian’ ajaran agama dalam konteks historis oleh para pemimpin jamaah tersebut menimbulkan dinamika yang terkadang menghenyak lamunan kita. Selamat berlebaran, Selamat menghargai perbedaan…! Wallahu A’lam Bisshowaf. []

“Segala isi dari tulisan ini adalah sepenuhnya pandangan pribadi dan opini penulis”.

Yusuf Amrozi
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini