Manusia Beradab atau Biadab

Pada penciptaannya, manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna dari makhluk lainnya. Namun sejak awal, ketika Allah mendeklarasikan diri akan menciptakan manusia dan menempatkannya di muka bumi, banyak dari kalangan makhluk lain tidak setuju karena akan menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah.

Hitthahnya, Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Menghamba, mengabdi dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagaimana dalam QS. 51: 56. Melaksanakan segala apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan-Nya. Selain itu, manusia diharapkan menjadi khalifah di muka bumi. Merawat dan menjaga segala yang ada di muka bumi. Sebagai khalifah, manusia diminta untuk memakmurkannya. Dimana dunia ini ada kebaikan dan keburukan. Ada ketaatan dan kekufuran. Maka, disinilah manusia diuji.

Manusia diciptakan berbeda. Malaikat diciptakan dari ruh. Dia tidak dibekali nafsu. Sebaliknya, syetan diciptakan dari api. Dia hanya memiliki nafsu. Sementara manusia diciptakan dari tanah. Manusia dibekali ruh dan nafsu. Unsur ruh mendorong manusia ke arah yang positif dan baik. Jika dia melakukan kebaikan, maka derajatnya lebih tinggi ketimbang malaikat. Jika berbuat sebaliknya, maka derajat manusia lebih hina ketimbang syetan. Dalam QS. 12: 53, nafsu lebih mengarah ke arah yang negatif. Manusia diminta perannya agar mengendalikan nafsunya.

Dua sifat yang bertolak belakang ini akan  saling tarik menarik. Jika tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, maka manusia akan terjerumus pada jalan yang sesat. Bertindak sesuai kehendak dan keinginannya. Jiwanya akan selalu dikendalikan dan dikontrol oleh nafsunya. Di sisi lain,  Hatinya selalu mengajak ke kebaikan. Beribadah, berbuat baik, menolong dan mencintai sesama.

Fitrah manusia, pertentangan dipandang sebagai unsur yang tidak bisa dihindari. Suatu keniscayaan yang tidak bisa dielakkan dan mesti terjadi. Melalui pandangan jasmani, manusia ingin menikmati apa saja yang bersifat duniawi. Sementara dengan ruhani, manusia ingin mencapai cita dan citra ilahi.

Baca Juga:  Rasa Inferioritas dan Superioritas Manusia

Manusia dituntut melawan hawa nafsunya. Mujahadun nafs (jihad melawan hawa nafsu) inilah perjuangan yang sebenarnya dalam kehidupan manusia. Terus mengikatnya dan berjuang agar dirinya tidak terjerumus dalam kendali hawa nafsu. Secara umum, jihad nafs ada dua. Pertama, melakukan jihad nafs terhadap banyak hal yang diinginkan. Dirinya bisa mengantisipasi perbuatan yang tidak diinginkan. Jika tidak mengendalikan diri, manusia akan melakukan segala cara agar bisa memenuhi hasratnya.

Dalam hadits, Nabi pernah bersabda, “kita pulang dari perang besar dan akan menghadapi perang yang lebih besar lagi, yakni perang melawan hawa nafsu”. Memerangi nafsu adalah musuh yang sesungguhnya. Dia tidak pernah mati, tidak pernah kalah dan tidak pantang menyerah. Nafsu akan terus ada hingga ruh tak lagi bersemayam di dalam dada. Bisa saja saat ini kita menang melawan hawa nafsu. Entah lima menit atau sepuluh menit yang akan datang. Tak ada yang menjamin kita selamat dari gelapnya hawa nafsu. Bahkan, sekelas rasul –yang kwalitas imannya tidak diragukan lagi- pernah terjerumus dalam hawa nafsu. Namun bedanya, Allahlah yang menegur langsung. Sementara manusia biasa tidak ada. Tergantung bagaimana ruhaninya dijaga agar tetap menyala dan menyinari hati.

Salah satu sahabat menyebutkan, “kami diuji dengan kesusahan, kami banyak yang bertahan. Ketika kami diuji dengan kesenangan, kami tumbang.” Karena kesenangan kita lupa, lalai dalam menjalankan perintah yang Allah berikan. Kedua, jihad nafs dari yang dibenci. Segala sesuatu yang dibenci Allah dan agama. Ada banyak hal yang Allah benci. Dalam firmannya, Allah dengan jelas menyebutkan banyak hal tidak disukai. Terutama menyekutukanNya.

Selain ruh dan nafsu. Allah menganugrahi manusia dengan akal. Sebab akal Allah menurunkan agama. Agama sebagai pedoman hidup dan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Agama merupakan dasar untuk mengatur bagaimana manusia berhubungan dengan sang pencipta, sesama, makhluk hidup dan alam semesta. Dalam agama, manusia merupakan bagian dari lingkungan hidupnya( QS.2: 30).

Baca Juga:  Prinsip Syariat Islam yang Sebenarnya adalah Kemaslahatan Manusia

Agama mengatur segala kebutuhan manusia. Dari yang paling sepele hingga yang paling rumit. Mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya dan orang lain. Agama berperan penting dalam kehidupan manusia dan mengarahkannya pada kebaikan. Artinya, agama tidak hanya memberikan nilai-nilai moralitas, tapi juga menjadikannya sebagai fondasi keyakinan. Agama mensyaratkan moralitas dan adab sebagai bagian dari iman keseluruhan.

Sayangnya, tak sepenuhnya dari umat manusia berhasil menjalankan kewajiban yang diperintahkan agama dan menjadi khalifah di muka bumi. Banyak kerusakan yang terjadi di muka bumi sebab ulah perbuatan manusia. Mereka kalah melawan hawa nafsu dan gagal dalam menjalankan tugasnya. Dalam firmannya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…”.

Kekhawatiran akan pertumpahan dan kerusakan yang ditimbulkan manusia menjadi kenyataan. Ada yang menupahkan darah demi cinta. Ada yang melakukan tindakan kriminal  demi harta. Ada yang menyogok demi tahta. Demi cinta, tahta, harta atau lainnya yang bersifat duniawi manusia  rela melakuka apa saja. Mereka menjadi serakah dan biadab. Hati nurani tak lagi mereka gunakan. Tak ada rasa iba apalagi sesal. Bahkan congkak dan bangga akan apa yang mereka perbuat.

Agama sudah sempurna dengan ajarannya. Agama banyak berperan penting dalam  membentuk pribadi seseorang. Tergantung bagaimana pemeluknya mengimplementasikan. Menjadi hamba yang taat beragama dan beradab atau biadab. []

Musyfiqur Rozi
Alumnus Institut Ilmu Keislaman Annuqayah dan Santri Annuqayah Lubangsa Utara

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini