Ketemuan (2)

“Jadikan masa lalumu sebagai pelajaran, dan perbaiki di masa depan”

Aku terbangun dalam mimpi burukku. Mata sembab, tisu berserakan mengotori kamar. Jam dinding menunjukan pukul 06.00. Aku semakin malas bangun karna tak ingin bertemu teman- teman di kampus. ”ck, meresahkan.”

tok tok tokk

”Ay? kamu sudah bangun nak?, kalau sudah cepat mandi, setelah itu turun dan kita sarapan bersama.” Ucap Santi dari luar kamar. Ayla melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan bersiap-siap. Tak lama kemudian, Ayla keluar kamar dengan sudah berpakaian rapi. Ketika hendak turun, Ayla melewati kamar adiknya. Ia melihat adiknya masih tertidur pulas di atas kasur dan masih berkemul selimut. ”ah, mungkin dia demam.” Decaknya, lalu melanjutkan langkah kakinya dan menghiraukan adiknya.

Di meja makan, sudah ada Santi, Algha, dan Arika. Ayla menghentikan langkahnya sebentar sambil menatap mereka. “gw ragu untuk ketemu papa.” Ucapnya lirih. Santi yang menyadari keberadaan Ayla langsung memanggilnya. ” loh, ayo sini Ay, sarapannya sudah siap.”

“Eh, iya mah.” Ayla melanjutkan langkah kakinya menuju meja makan, dan duduk bergabung bersama mereka. Hening, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka, hanya terdengar suara ketukan piring dan sendok saja.

Hari ini, Ayla kembali diantar oleh Arika menggunakan mobilnya. Ayla bertanya kepadanya. “Kak, kira-kira Angga marah ngga ya sama gw?.” Arika langsung menatap wajah Ayla.

“Kok kamu tanya gitu Ay? Emang kamu kemarin gak ketemu sama Angga?.” Tanya Arika.

“Eh, kak itu udah lampu hijau.” Arika melajukan mobilnya kembali begitu Ayla mengingatkan lampu hijau mulai menyala. Kemudian Ayla menjawab pertanyaan Arika. “Kemarin sih kata Elvan dia gak masuk.”

Ayla sempat berfikir, Angga marah kepadanya. Tapi bisa saja dia tidak masuk karna ada halangan, atau sakit. Ayla mencoba untuk selalu berpikir positif tentang Angga.

“Mungkin kalian harus bicara Ay.”

“Mana bisa kak? Ga ada waktu. Sekarang aja aku diantar jemput sama kakak, apa lagi tujuan papa kalo bukan menghalangi gw sama Angga buat ketemu.”

“Tenang aja, besok kaka anterin kamu, nanti izin ke papa kalo kita pergi ke toko buku.”

“Wah, baik banget si lo kak.”

“Kakak siapa dulu.” Gurau Arika sambil mencubit hidung Ayla.

Sesampainnya di kelas, Ayla disambut dua sahabatnya, Fanya dan Silmy. Tatapan mereka sudah penuh dengan tanda tanya. Ayla yang melihatnya seakan mau ditikam binatang buas. “Morning guys.” Sapa Ayla kepada kedua temannya. Namun keduanya tak merespon sapaan Ayla dan hanya menatap Ayla sambil menyipitkan matanya.

“Why guys?, ada yang salah dengan penampilan gw?” Tanya Ayla.

“Masalahnya bukan di penampilan lo Ay, tapi di hati lo.” Jawab Fanya.

“Iyap betul, pasti hati lo lagi gak baik-baik aja kan?.” Lanjut Silmy.

“Apaan sih kalian, kesambet apa nih pagi-pagi udah kayak detektif aja.” Tanya Ayla heran melihat sikap dua sahabatnya itu.

“Sini Ay sini, duduk di sebelah gw.” Ucap Silmy sambil menggeser tempat duduknya utuk Ayla.

“Ceritain tentang masalah lo sama Angga dua hari lalu.”

“Aduh, pliiss deh. Bukan waktu yang tepat untuk cerita, 10 menit lagi dosen udah datang. Gimana kalo pas istirahat jam ke 2?.” Ucap Ayla.

Baca Juga:  Pesantren Al-Arfiyyah dan Pendidikan Karakter Santri

“Hm, oke kalo gitu. Inget ya, lo punya utang cerita sama kita!.” Kata Fanya.

“Iya iya.”

Sesuai janji Ayla pada kedua temannya. Sebelum jam kedua dimulai, Ayla bercerita tentang hubungannya dengan Angga yang kandas di tengah jalan.

“Gmn ay?.”

“Sebenarnya…” Ketika Ayla hendak bercerita, tiba tiba Ayla teringat dengan rencana Arika tadi pagi.

“Kenapa Ay?.” Tanya Silmy memastikan agar Ayla tak kenapa-napa karena tak jadi melanjutkan ceritanya.

“Sory, gw ada urusan penting banget. Gw tinggal sebentar ya.”

“Lah, terus ceritanya gimana Ay?.”

“Lanjut nanti aja.” Jawab Ayla sambil meninggalkan kedua temannya.

“Kebiasaan tu anak, ada aja kalo mau ngelakuin sesuatu. Yang ke toilet kek, yang ada urusan kek, banyak lah pokoknya.” Ujar Fanya.

Ayla melihat Angga keluar dari ruang dosen. Ayla segera menghampiri Angga sebelum pergi terlalu jauh. “Angga… tunggu!.” Teriak Ayla. Angga yang mendengarnya pun langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Ayla berlari menghampiri Angga sambil terengah engah. “Angga, gw mua bicara sama lo.”

“Apa ay?.”

“Lo pulang kuliah bisa ketemuan nggak?.”

“Em, dimana?.”

“Tempat biasa.” Angga membisu tak menjawab, ia menatap wajah Ayla yang masih berusaha mengatur nafasnya. ‘pliiss dong, lo harus bisa ngga’ batin ayla.

“Iya, gw bisa.”

“Oke, sampai ketemu di sana ya Ngga. “Jawab Ayla sambil memperlihatkan senyum manisnya. Angga yang melihatnnya pun merasa gemas dengan Ayla. Angga mengacak sedikit ujung kepala Ayla lalu pergi tanpa meninggalkan satu kata pun. Ayla hanya bisa membeku di tempat karna perlakuan Angga tadi. Rasanya nyawa Ayla melayang layang di langit yang kemudian jatuh ke tanah karna disadarkan oleh Elvan.

“Ngapain lo di sini?.” Tanya Elvan.

“Ish Van, lo ngagetin gw tau.”

“abisan lo matung di tengah jalan kayak gini, sepi lagi. Gw cuma takut lo kesurupan aja si.” Ledek Elvan.

“Tega banget lu doain gw kesurupan. Lah lo kenapa lewat sini?.” Tanya Ayla. Karna ini bukan Jalan menuju kelas Elvan.

“Ouh, gw dari ruang dosen. Lah lo? ngapain nih disini sendirian?.”

“E-em, gak ada. Ya uda, gw balik dulu ya, bentar lagi kelas gw masuk.” Ayla pamit kepada Elvan, karna ia tak mau tau kalau ia baru saja bertemu Angga. Pasti akan ada seribu kata  pertanyaan yang dilontarkan dari Elvan. Karna Elvan sendiri juga teman dekat Angga.

Ayla sudah menunggu jemputan kakaknya di depan gerbang kampus. Tak lama, Arika datang dengan mobilnya. “Sorry lama, tadi ada urusan mendadak.” Ucap Arika memohon maaf kepada Ayla karna telat menjemput.

“Ah, sok sibuk lo kak.”

“Gimana? jadi?.”

“Jadi dong. Buruan jalan, kasian Angga nungguin pasti.” Arika menjalankan mobilnya menuju kaffe tempat biasanya Angga dan Ayla bertemu. Sepanjang perjalanan Ayla memikirkan kata-kata yang akan diberikan kepada Angga nanti.

“Uda, ga usah grogi. Omongin aja apa adanya.” Kata Arika meyakinkan Ayla.

Setelah sampai di kaffe, Ayla melihat Angga telah menunggu di tempat biasanya mereka duduk. Ayla segera menghampiri Angga yang sepertinya sudah menunggunya lama.

Baca Juga:  Seperti Kamus Berjalan, Mengenal Abah Achmad Zuhdy

“Hai Ngga. Sorry ya nunggu lama.”

“Uda biasa Ay, lo kan sukanya molor mulu kalo ga dijemput.” Gurau Angga.

“Haha,bisa aja lu Ngga.”

“Sama siapa kesini?.”

“Dianter kak Arika.”

“Loh, sekarang Mana?.”

“Katanya tadi sih mau ke supermarket.”

“Ouh, yauda pesen minum dulu aja kali ya.” Kemudian Angga memanggil salah satu pelayan yang baru saja lewat.

“Iya mas? mau pesen apa?.”

“Green Tea dua, yang satu esnya dikit aja.” Jawab Angga.

“Ok, ditunggu ya mas.” Ujar pelajan lalu meninggalkan meja Angga dan Ayla. Ayla teringat dengan masa lalunya bersama Angga. Angga selalu memesankan minuman favorit Ayla tanpa harus diminta. Dan ternyata… sampai sekarang Angga masih melakukan hal yang sama.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. “Green Tea dua ya mas?.” Kata pelayan sambil menurunkan dua gelas dari nampannya.

“Iya, trimakasih.” Jawab Ayla

“Ini yang esnya dikit buat lo. Benerkan?.” Kata Angga sambil menodorkan segelas Green Tea.

“I-iiya Ngga.”

“O iya Ay. Katanya ada yang mau diomongin?.” Angga menaikkan satu alisnya sambil menyedot Green Tea nya. ‘gilak, damage nya nusuk’

“Em, sebenarnya gua cuma mau tanya keadaan lo aja si.”

“Lo mau tanya keadaan gw sampek ngajak ketemuan gini? gak mungkin, pasti ada sesuatu ni.”

“Em.. gimana perasaan lo sekarang ngga?.” Tanya Ayla ragu ragu.

“Menurut lo?.”

“Lo sedih?.” Ayla sebenarnya tak ingin mengeluarkan kata sedih. Tapi sudah terlanjur keluar.

“Kalo sedih sih pasti, tapi kalo rasa cinta gw ke lo masih utuh kok.” Ucap Angga sambil sedikit mengacak ujung kepala Ayla.

“Maafin gw Ngga.” Ayla menundukkan kepalanya. Matanya sudah berkaca kaca.

“Maaf kenapa?.”

“Maaf, gw ga bisa nerima lo di kehidupan gw. Ini semua gw lakuin karna–.” Kalimat Ayla terputus.

“Lo gak perlu minta maaf Ay, kalo ini memang keputusan papa lo ya udah terima aja. Mungkin papa lo tau mana yg terbaik buat lo. Ga ada seorang ayah yang ngga ingin anaknnya sukses, anaknya baik, ngga ada Ay. Pasti itu sudah yang terbaik.” Jelas Angga.

“Tapi gw ga enak sama lo dan gw masih belum bisa terima ini.”

“Ay, inget ya, lo harus bisa ngelalui ini semua. Jadikan masa lalu kita sebagai pelajaran buat lo sama pasangan lo nanti. Dan lo harus menjadi lebih baik untuk kedepannya.”

“Berat ngga.. gue masih cinta sama lo.” Tangis Ayla pecah. Angga segera memegang pundak Ayla untuk menenangkan.

“Lo pasti bisa Ay, uda dong jangan nangis. Gak mungkin kan gw peluk lo di tempat rame gini?.” Ucap Angga sedikit mencairkan suasana.

“Udah udah, malu tu diliatin orang-orang, ntar ilang lagi cantiknya.” Angga menghapus air mata Ayla.

‘makasih tuhan, uda mempertemukan ku dengan cowo sebaik dia. Semoga aku mendapat pengganti yang lebih baik lagi dari dia’. Ayla membatin.

Setelah tangis Ayla mereda, Angga coba membicarakan hal lain untuk menghibur Ayla yang lagi kelihatan sedih walaupun disembunyiin.

Baca Juga:  Ilmu Nahwu menuju Pembaruan?

…..

Arika menunggu di kaffe yang sama, hanya saja ia berada di lantai dua. Arika melihat Ayla dan Angga dari jauh tanpa sepengetahuan mereka. Ketika Arika membuka ponselnya, ia mendapat notifikasi dari Fanya yang merupakan sahabat Ayla sekaligus adek dari pacar Arika.

‘hallo kak, Ayla nya udah pulang blm?’

‘Udah, ini sama gw, knp emang?’

‘ouh syukurlah kalo gitu. Gapap sih kak’

‘gw titip Ayla di kampus ya.’

‘ok kak.’

Arika Tak ingin melihat adeknya sedih. Ia rela mengorbankan apapun demi kebahagian Ayla. Karna Arika tau bahwa sebenarnya Ayla di rumah sering sedih karna perlakuan papa Algha kepada Ayla. Papanya itu terlalu pilih kasih dalam mendidik anak-anaknya.

Algha lebih sayang kepada Arika karna sejak kecil ia sudah membanggakan kedua orang tuanya. Sejak kecil, Arika sudah menunjukkan bakatnya di bidang akademik. Ia selalu mendapat peringkat di kelasnya. Ditambah lagi sekarang Arika sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Ia kuliah sambil menjalankan bisnis. Berbeda dengan Ayla yang hanya bisa meminta kepada orang tuanya dan potensi akadmik yang mungkin masih kurang baik

Berbeda dengan Santi yang selalu berusaha menyeimbangkan kasih sayangnya kepada kedua anaknya yang sudah dewasa tersebut. Santi tak mementingkan seberapa pintar mereka. Yang terpenting adalah mereka dapat hidup mandiri dan manjadi orang yang bermanfaat. Itu udah cukup. Maka dari itu Ayla lebih dekat dengan mamanya daripada papanya.

dddrrttt..

Ponsel Arika bergetar. Arika mendapat panggilan dari Algha. Ia segera mengangkat panggilannya.

“Hallo pa?.”

“Kemana aja kok belum pulang?.”

“Oh ini pa, kita lagi pergi ke toko buku sebentar. Gapapa ya pa?.”

“Ya udah jangan lama-lama, jagain adekmu.”

“Iya pa.”

Panggilan terputus.

Arika segera menelpon Ayla dan memberi kode untuk segera menyudahi perbincangannya dengan Angga.

“Ay, papa uda nelpon.”

“Yah, cepet banget si.”

“Cepetan, keburu papa marah.”

“Yaudah deh, gw tutup ya telponnya.”

Panggilan terputus

….

Ayla segera menyudahi obrolannya dengan Angga. “Emm.. Ngga, gw uda ditelpon sama kakak gw katanya–.” Kalimat Ayla terputus.

“Iya, gw juga gak bisa lama-lama, gw ada latihan basket hari ini.” Jawab Angga yang sudah tau apa yang dimaksud dengan perkataan Ayla tanpa harus melanjutkan kalimatnya.

“Ouh ya uda kalo gitu, makasi ya ngga uda mau nyempetin waktu buat gw.”

“Sama sama, ya uda gw balik dulu ya Ay.”

“Ouh, oke-oke.” Angga segera beranjak pergi. Sebelum pergi dari meja, Angga mengacak sedikit ujung kepala Ayla. “Hati hati di jalan.” Kalimat yang keluar dari mulut Angga, lalu meninggalkan Ayla sendirian. ‘tuhan, apa lagi ini, gw dibuat ngeflay lagi sama dia’

Ayla segera menghubungi Arika agar menjemputnya. Belum sempat diangkat teleponnya, Arika sudah berada di belakang Ayla tanpa sepengetahuannya.

“Ayo pulang.” Kata Arika yang mengejutkan Ayla.

“Ah, bikin kaget aja lu kak, kok cepet banget uda di sini?.”

“Ada deh, ya uda yok pulang, nanti papa marah lagi.” Ajak Arika.

Arika dan Ayla keluar dari kaffe tersebut, lalu pergi menuju rumahnya.[FJY]

Nayla Rusydiyah Hasin
Nayla Rusydiyah Hasin adalah Santri DARUL ULUM Hidayatul Qur’an Jombang

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Cerpen