Kesederhanaan dan kesadaran islam nusantara

Alhamdulillah, bisa menggali lautan hikmah kembali Islam Nusantara-nya orang Wadaslintang, Wonosobo, Jawa Tengah. Sebenarnya, menyuguhi tamu dengan makanan atau minuman (kopi misalnya) sudah berlangsung cukup lama di dalam aktivitas kehidupan saya pribadi, bahkan mungkin jauh sebelum saya lahir, orang jaman dulu sudah mempraktekkan tradisi semacam itu.

Hanya saja, kesadaran akan keterkaitan tradisi menyuguhkan makanan dengan Islam Nusantara baru didapatkan baru-baru ini.

Bertamu (silaturahim) di rumah orang, biasanya akan disuguhi oleh tuan rumah dengan beraneka makanan dan minuman. Bahkan, terkadang, sebelum pulang ke rumah, kita diberi “sangu” (baca: bisa makanan, uang dsb) untuk bekal di perjalanan atau untuk dibagikan di rumah kita.

Tradisi semacam ini sangat melekat di hati masyarakat Indonesia, yang saya buktikan sendiri di berbagai wilayah, yang kebetulan saya silaturahmi, termasuk kali ini di Wonosobo.

Jadi begini, dalam buku Islam Kita Islam Nusantara karya Guntur Romli dan kawan-kawannya di Ciputat School (2015), ada nukilan cerita yang menarik soal proses perumusan Pancasila, yang waktu itu ada Soekarno, Wahid Hasyim, Kahar Muzakir, Muhammad Yamin dan Kyai Maskur. (h. 95-107)

Waktu itu, cerita latarnya berada di rumah Muhammad Yamin. Saya ambil intinya yang berkaitan dengan tradisi menyuguhi makanan tamu orang Indonesia seperti diceritakan di awal; waktu itu Muhammad Yamin nyeletuk kepada yang lain ketika asik berdiskusi tentang falsafah hidup bangsa Indonesia, Pancasila. Setelah ditentukan sila pertama, Yamin kemudian berkata pada Soekarno jika bangsa Indonesia itu “Kalau datang dikasih wedang, kalau makan diajak makan”

Sampai sini, kemudian Soekarno berkata: “Bangsa Indonesia itu bangsa yang perikemanusiaan. Satu sama lain suka menolong. Kerjasama, peri kemanusiaan”.

Baca Juga:  Membincang Sanad dan Jaringan Ulama Nusantara (1830-1945)

Bahkan, untuk sekelas urusan falsafah bangsa, para tokoh tak begitu terlalu kaku dan tegang dalam berdiskusi. Yang saya rasakan dari nukilan cerita yang ada pada halaman 95-107 itu adalah kesederhanaan dan kegembiraan. Bahkan, saya sangat yakin mereka begitu gembira ria, sebab tahu jika Indonesia memang berhasil lolos dari cengkeraman kolonialisme, walaupun hanya beberapa waktu saja.

Gagasan yang kemudian menjadi dasar falsafah hidup bangsa kita, ternyata digali dengan cara yang sangat sederhana, melihat kebiasaan bangsa Indonesia. Selain menyuguhkan makanan, bangsa Indonesia, menurut Muhammad Yamin juga suka menenangkan diri jika ada masalah yang hendak di selesaikan, di bawah pohon.

“.. seperti mencari Tuhan.” kata Muhammad Yamin. (h. 96) Yang pada akhirnya, oleh Soekarno diperas menjadi suatu substansi bernama “Ketuhanan.” Namun, oleh Wahid Hasyim, dan beberapa yang lain, ditambah dengan kata “Esa.” Maka menjadikan sila pertama itu: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Sampai di sini, saya memahami dua hal, bahwa bangsa Indonesia memang orang yang humanis, bahkan sebelum pencerahan datang dari Islam. Fakta ini saya dapat dari YouTube Jagat Mandala yang kebetulan fokus dalam ceritera (kajian sejarah Nusantara) di mana seorang yang tidak diketahui dari mana ia berasal, asalkan mampir di suatu rumah, ia akan disuguhi sesuatu.

Kedua, dengan gambaran ini tentu saja mengandaikan bahwa Islam Nusantara berhasil mencapai titik penyemaian yang tepat. Semacam dialektika antara budaya dan syariat yang begitu romantis. Yang tentu saja termaktub dalam Pancasila.

Untuk melihat seberapa besar bangsa Indonesia, sebenarnya bukan harus pergi ke luar angkasa. Kita hanya perlu merasakan lebih dalam, melihat lebih dekat, bagaimana praktek-praktek dan aktivitas sosial masyarakat Indonesia. Dari sana kita akan menemukan hal-hal yang sangat sederhana, namun besar maknanya. [HW]

Muhammad Khasbi Minannurrohman
Penulis adalah Mahasiswa IAINU Kebumen. Aktif berorganisasi di PMII Cabang Kebumen. Selain itu, ia juga termasuk salah satu inisiator Institut Literasi Indonesia dan Forum Diskusi Dialektika serta Forum Kajian Islam Nusantara. Sampai sekarang aktif membaca, diskusi dan menulis esai lepas.

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini