Kesederhanaan KH Marzuki Mustamar, Ketika di Kampus Mengajar

Malang, Pesantren.ID – Sosok KH. Marzuqi Mustamar tidak hanya dikenal dikalangan pesantren, maupun warga nahdliyyin, namun juga kalangan akademik, khususnya Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang begitu mafhum kepada kiai kharismatik tersebut.

Semester V penulis berkesempatan di ajar oleh KH. Marzuki Mustamar dengan Mata Kuliah Ilmu al-Arudl wal Qawafi. Sebuah ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah syair. Kali kedua diampu beliau setelah semester IV kemarin Mata Kuliah Ilmu Ma’any.

Tidak seperti dosen-dosen pada umumnya yang memakai pakaian dinas atau ngetren. Kiai yang mengasuh Pondok Pesantren Sabilurrasyad Gasek, Karang Besuki ini hanya mengenakan sandal, bersarung, serta pakaian atas baju batik dengan kopiah hitam.

Dikarenakan kesibukan beliau yang begitu padat, tak jarang perkuliah dilakukan di Masjid At-Tarbiyah (Masjid putra UIN Malang), pernah juga di Masjid PP. Sabilurrasyad Gasek, bahkan di ndalem beliau sendiri.

Saat itu beliau selepas umrah, sehingga menginginkan perkuliahan dilaksanakan di pondok. Di akhir perkuliahan memberikan makanan kepada mahasiswa.

Hari Selasa di semester ganjil di akhir tahun 2017 perkuliahan di lantai 1 Masjid At-Tarbiyah. Seperti biasa sebelum mengajar beliau membuka dengan tawassul. Mata Kuliah Ilmu al-Arudl wal Qawafi menggunakan kitab kuning, Mukhtashor Syafi ala Matnil Kafi li Syekh Muhammad ad-Damanhuri. Selesai perkuliahan, ditutup dengan doa. Tak lupa sungkem atau salaman kepada beliau bagi mahasiswa.

Bergegas penulis pulang, melewati gerbang belakang UIN. Tidak dinyana Kiai Marzuki terlihat berjalan kaki. Otomatis pemandangan hang tidak biasa. Karena setiap kali beliau tindakan pasti bersama Sopir Kiai (SK).

Penulis berinisiatif untuk membonceng beliau dengan sepeda motor yang alhamdulillah masih layak walaupun sudah agak usang.

Baca Juga:  KH Maimoen Zubair, Waliyullah Asal Tanah Jawa (2)

“Monggo Yai, kulo teraken,” tuturku. (Silahkan kiai, saya hantarkan)
Tanpa basa basi beliau langsung naik di jok belakang sepedaku.

Antara speechless dan masih belum menyangka, sosok kiai kharismatik sedang satu jok denganku.

Dalam perjalanan antara UIN sampai pondok tidak berani berkata apa-apa kalau tidak beliau mengawali.

“Asli pundi sampean,” tanya beliau. (Asli mana kamu?)
“Trenggalek Kiai,” jawabku sambil terbata-bata.

Ketika setelah tikungan SMA Surya Buana memang jalannya menanjak. Motor yang kami naiki agak pelan.

“Kuat a niki?” tanya beliau.
Dengan agak gugup saya menjawab, “Insyaallah saget Yai.” (Insyaallah bisa Kiai)

Tak lama sekitar 10 menit sudah sampai di area Pondok Gasek. “Matur suwun nggeh,” tutur beliau. (Terimakasih ya). “Enggeh Yai,” jawabku.

Kesederhanaan beliau menjadi teladan bagi santri dan khalayak umum. Meskipun sudah menjadi mubaligh kondang, pengasuh pondok, serta orang penting di jajaran Pengurus Wilayah (PW) Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur, kesahajaan beliau tercermin dalam setiap kesempatan.

Semoga beliau diberikan kesehatan dan kekuatan. Mata’ anallahu bi tuuli hayatihi wa nafa’ana bi ulumihi fiddarain. []

Penulis : Madchan Jazuli

Madchan Jazuli
Santri PP Miftahul Huda Malang Jawa Timur, Ketua PR IPNU Karanganom dan diamanahi lembaga pers PAC IPNU Durenan Trenggalek

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Ulama