Cagak’e Langit

Malam itu, Senin 13 Februari 2023, saya sowan kepada mbah Yai Sanusi Yasin Jekulo Kudus putra terakhir dari Mbah Yai Yasin Jekulo Kudus. Pertama-tama saya mengenalkan diri kepada Beliau kemudian mengutarakan maksud bahwa pisowanan ini sebagai silaturrohim serta menggali kisah-kisah atau cerita tentang Mbah Raden Asnawi Bendan. Beliau dengan Mbah Raden Asnawi Bendan sama-sama memiliki jalur nasab kepada Mbah Nyai Jiroh binti Mbah Nyai Alfiyah binti Mbah Kiai Mutamakin Kajen, Pati. Kakek buyut Mbah Raden Asnawi Bendan (Raden Asnawi Sepoh) adalah kakak kandung dari kakek buyut Mbah Yai Yasin (R. Muhammad Sholeh). Hubungan itu adalah sebagai berikut:

Yasin -> Tasmin -> Tuan Ali -> R. Muhammad Sholeh -> Nyai Jiroh -> Nyai Alfiyah -> Mutamakin
R. Asnawi -> Abdullah Husnin -> Raden Ayu Shofiyah -> R. Asnawi Sepoh -> Nyai Jiroh -> Nyai Alfiyah -> Mutamakin

Mbah Yai Yasin (ayah Mbah Yai Sanusi) lahir di Cibolek Kajen Pati pada tahun 1890 TU dan wafat pada tahun 1953 TU dengan usia 63 tahun. Sedang Mbah Raden Asnawi Bendan lahir di Kudus pada tahun 1861 TU dan wafat pada tahun 1959 TU dengan usia 98 tahun. Keduanya sama-sama pendiri dan pengasuh pondok pesantren dalam masa yang relatif hampir bersamaan. Mbah Yai Yasin mendirikan pondok pesantren Bareng (sekarang bernama Qaumaniyyah) pada tahun 1923 TU sedang Mbah Raden Asnawi Bendan mendirikan pondok pesantren Bendan pada tahun 1927 TU, selisih 4 tahun.

Mbah Yai Sanusi Yasin lahir di Kudus pada tahun 1943 TU. Dengan begitu pada saat ini usia Beliau sudah 80 tahun. Dalam pandangan saya, usia sesepuh itu tentu memiliki dan menyimpan banyak kisah-kisah tentang ketokohan piyantun-piyantun sholeh pada masa hidupnya. Hal ini lah yang mendorong saya sowan dan memohon perkenannya menceritakan hal-hal yang pernah Beliau saksikan atau pun dengar tentang Mbah Raden Asnawi Bendan. Sebab pada masa awal berdirinya NU, tahun 1926-1927 TU, Mbah Raden Asnawi Bendan diceritakan sering mondar-mandir berhubungan dengan masyayaikh Jekulo Kudus, termasuk kepada Mbah Yai Sanusi (waliyullah) maupun Mbah Yai Yasin.

Mbah Yai Sanusi Yasin adalah shahibul bayt yang sangat ramah sehingga selama perbincangan kami berlangsung penuh kehangatan dan egaliter. Kami lebih banyak menggunakan bahasa Jawa halus, kromo inggil. Dan dalam tulisan cerita ini saya alihkan kedalam bahasa Indonesia. Dalam perbincangan itu, saya lebih aktif bertanya kepadanya agar ingatan Beliau menjadi segar mengingat usianya yang sudah sepuh.

Mbah, saya tahu kalau Mbah Yai Yasin, rama Panjenengan itu memiliki hubungan nasab dengan Mbah Raden Asnawi Bendan. Apakah hal itu benar?. “Oh, ya memang benar. Saya tahu Beliau itu cucu Mbah Raden Asnawi Sepoh, Damaran Kudus Kulon terus sampai ke Mbah Mutamakin. Saya sendiri pada awalnya hanya diberitahu oleh Kang Muhammad, kakak saya, bahwa saya mempunyai kakek namanya Tasmin. Di atas Mbah Tasmin itu siapa saya tidak tahu dan tidak diberitahu. Tetapi di kemudian hari saya jadi tahu kalau Mbah Tasmin (kakek saya) itu dari Kajen dan bapak saya lahirnya juga di Kajen. Orang-orang Kajen (maksudnya saudara-saudaranya) ya benar-benar memegang tradisi kenasaban.” Tutur Beliau.

Saya kepingin memperoleh cerita tentang Mbah Raden Asnawi Bendan dari Panjenengan, Mbah Yai. Apa yang pernah Panjenengan saksikan dan dengar tentang Mbah Raden Asnawi Bendan atau pernah Panjenengan alami ketika bersama-sama dengan Beliau. “Wah, saya tidak banyak menerima kisah tentang Mbah Raden Asnawi Bendan. Sebab saya ditinggal wafat oleh bapak ketika saya masih kecil, umur 10 tahun, waktu itu saya masih bodoh, menulis huruf saja belum bisa.” Mbah Raden Asnawi Bendan itu perawakannya tidak gemuk, tidak kurus, tidak tinggi dan tidak pendek. Yahh, sedang-sedang lah, kira-kira begitu”. Ujar Mbah Yai Sanusi Yasin mengawali ceritanya.

Baca Juga:  Menjadi Dewasa dengan Ilmu dan Amal

“Pada suatu ketika Mbah Raden Asnawi Bendan hendak ke rumah ini untuk bertemu dengan bapak (Mbah Yai Yasin) kemudian bapak bilang kepada saya, ‘cagak’e langit arep mrene’.” Ujar Mbah Yai Sanusi Yasin melanjutkan ceritanya. Tentang arti atau makna cagak’e langit itu apa Mbah Yai Sanusi Yasin tidak menjelaskan.

“Mbah Raden Asnawi Bendan itu orangnya sangat alim dan tidak tertandingi pada masanya. Dan dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar Beliau sangatlah pemberani sebab memegang ajaran fikih dengan sangat kuat dan memiliki ketegasan yang sangat jelas dan lugas. Haram akan dikatakan haram dan halal akan dikatakan halal tanpa sedikit pun ada kompromi dan tidak direkayasa (b. Jawa = dikelah). Dan memang begitulah seharusnya. Itu lah yang menjadikan Beliau sangat dihormati, disegani, dan ditakuti oleh siapa pun. Keberaniannya dalam beramar ma’ruf nahi munkar itu lho yang sangat saya kagumi. Sampai saat ini pun menurut saya belum menemukan dan susah mencari penggantinya. Mungkin baru Mbah Yai Turaichan (yang dimaksud adalah Mbah KH. Turaichan Adjhuri asy-Syarofi, Langgar dalem Kudus) yang pernah saya saksikan keberaniannya semirip Mbah Raden Asnawi Bendan.”

Lalu apa lagi, Mbah?. “Dulu waktu Mbah Raden Asnawi Bendan wafat saya juga ikut melayatnya. Saya sudah cukup besar, sudah remaja, umur saya kira-kira 16 tahun. Keranda yang dipakai mengusung Mbah Raden Asnawi Bendan itu seolah-olah berjalan sendiri, saking banyaknya orang yang takziyah. Mulai dari Bendan sampai Menara Kudus lautan muazziyin tidak bisa ‘diwiyak’ (dihalau untuk berjalannya keranda).”

Memang ada cerita bahwa pada waktu itu batang keranda pengusung sampai disambung dengan bambu agar orang-orang bisa ikut menggotong, benar itu ya Mbah? “Ya, benar. Tetapi ya itu, keranda tetap hanya berjalan dari seseorang ke orang lain yang ada di depannya di atas kepala. Keranda itu seolah-olah seperti berjalan sendiri.”

Sedikit saya tambahkan, bahwa Mbah Raden Asnawi Bendan wafat pada malam menjelang fajar ketika dalam keadaan sujud ketika sedang menunaikan sholat tahajud. Khabar kewafatannya disiarkan dalam berita RRI jam 06.00 atas inisiatif menteri agama RI waktu itu, Bapak KH. Saifuddin Zuhri setelah Beliau menerima khabar duka dari Bapak H.M. Zainuri, pemilik percetakan Menara Kudus. Atas berita itu, sejak pagi para mu’azziyin mulai berdatangan dari berbagai belahan kota Kudus serta berbagai daerah sekitarnya. Sejak pagi halaman pondok Bendan dan ruang-ruang di sekitarnya lambat laun penuh sesak oleh mu’azziyin memberi penghormatan terakhir kepadanya. Jenazah yang rencana semula akan dimakamkan pada pagi harinya menjadi molor sampai bakda dluhur. Shalat janazah berlangsung sudah tak terhitung lagi berapa kali dilaksanakan. Jalan mulai dari pondok Bendan hingga menuju ke masjid Menara Kudus sudah penuh kejejalan bagaikan lautan manusia. Menjelang ashar janazah baru tiba di masjid Menara Kudus dan di sana kembali dilakukan shalat janazah. Setelah selesai janazah baru dibawa ke liang lahat dilewatkan jendela di sebelah selatan mihrab masjid.

Kehidupan Mbah Raden Asnawi Bendan (1891-1959) lebih banyak dilalui dengan banyak kekerasan baik secara fisik maupun emosional oleh penjajahan, baik pada masa Belanda maupun Jepang. Jadi bagi saya tidak begitu mengherankan jika Beliau memiliki karakter yang begitu tegas, teguh, dan kukuh karena keadaannya pada waktu itu lah yang telah membentuknya. Dalam banyak hal yang berhubungan dengan sikap dan perilaku, baik untuk dirinya sendiri maupun dalam kehidupan masyarakatnya Beliau selalu menuntunnya agar menghormati dan menaati ajaran agama Islam serta tidak mengikuti ajakan atau bujukan para penjajah. Bahkan meniru-niru penjajah dalam segala hal pun Beliau menghukumi haram. Seperti bercelana, bersepatu, dan berdasi. Salah satu ta’bir yang menjadi pegangannya dan paling sering didalilkan kepada masyarakatnya pada waktu itu adalah dawuh Kanjeng Nabi Muhammad saw yang berbunyi,

Baca Juga:  Sedikit Cerita Tentang Hari Kiamat

من تشبه بقوم فهو منهم

Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.

Bapak KH. Saifuddin Zuhri (menteri agama RI) dalam perjalanan hendak ke Jombang sowan Mbah Yai Hasyim Asy’ari sempat singgah ke Kudus memerlukan sowan kepada Mbah Raden Asnawi Bendan. Ketika Beliau tiba di kediaman Mbah Raden Asnawi Bendan, terlebih dahulu Beliau melepas sepatu dan dasinya. Beliau menghadap Mbah Raden Asnawi tanpa memakai alas kaki alias ‘nyeker’ (b. Jawa: ngodok). Mbah Raden Asnawi Bendan pun menyambut Beliau sambil bersenyum-senyum, “Tasyabbuh iku kan jaman dijajah, lha saiki wis merdeka yo ora popo sepatunan, dasinan”. Bapak KH. Saifuddin Zuhri pun berlutut menyalami Mbah Raden Asnawi dengan penuh keta’dziman.

Mbah Yai Sanusi Yasin kemudian melanjutkan, “Mbah Yai Turaichan itu juga kiai yang sangat tegas, teguh, dan kukuh dalam memegang fikih, terutama dalam hal falak (penanggalan). Kan Beliau ini sering berbeda pendapat dengan pemerintah dalam hal penetapan awal Ramadhan dan hari raya. Bahkan pada saat terjadi gerhana matahai total pada tahun 80 berapa itu, Mbah Yai Turaichan kan berhadap-hadapan dengan pemerintah yang melarang orang-orang melihat gerhana matahari total karena dapat mengakibatkan matanya buta. Sementara Mbah Turaichan berpendapat sebaliknya, menyuruh melihat gerhana matahari total sebagai keagungan Allah Ta’ala. Saya pun pada waktu itu juga melihat gerhana matahari total yang gelap gulita, dan nyatanya saya juga tidak buta sampai sekarang, ya tho?. Pada waktu itu, sekitar rumah dan kampung di sini memang suasananya menjadi temaram, agak gelap, kemudian gelap. Ayam-ayam pun pada ‘nangkring’ di dahan-dahan pohon dan berkokok.”

Mbah Yai Sanusi Yasin menambahkan, “Saya juga kalau menjelang penetapan tanggal baru selalu ke masjid Menara Kudus berkumpul dengan banyak orang yang menunggu penetapan tanggal baru oleh Mbah Yai Turaichan. Setelah tanggal baru ditetapkan oleh Mbah Yai Turaichan akan terdengar suara ramai dari orang-orang, sesuk poso, sesuk bodo. Setelah itu saya pulang.” Kenangnya.

Saya kemudian menimpali cerita itu, bahwa Mbah Yai Turaichan itu murid Mbah Raden Asnawi yang karakternya semirip dengan Beliau. Mbah Yai Turaichan itu sangat kritis dan pemberani. Dalam kesempatan munadlarah (bahtsul masa’il) di pendapa Tajug Menara, Beliau pernah menyampaikan as’ilah tentang sighat ijab nikah yang tidak menyertakan kalimat ‘muwakkili’ ketika Mbah Raden Asnawi Bendan mewakili wali untuk menikahkan putrinya. Mbah Raden Asnawi Bendan pun menjawab dengan tegas as’ilah itu, “Opo wong-wong sing nyekseni aqad nikah iku podo ora reti nek aku dudu bapak’e, iku dudu anakku?” Dalam majlis bahtsul masa’il itu Mbah Raden Asnawi selalu bertindak sebagai mushahhih. Dan menurut tuturan Bapak KH. Abdul Haq Kauman Menara Kudus, munadloroh pada era Mbah Raden Asnawi as’ilah begitu saja muncul dari peserta tanpa didahului dengan rumusan yang ditulis dan dibagikan kepada mubahis selazimnya sekarang.

Baca Juga:  Menghiasi Keburukan

Saya sangat penasaran dengan sebutan cagak’e langit ini dan berhubung Mbah Yai Sanusi Yasin tidak menjelaskan karena Beliau sendiri tidak tahu maksudnya, maka saya mencoba mengurainya sendiri. Cagak’e langit maksudnya sama dengan tiangnya langit, adalah laqab yang diberikan oleh Mbah Yai Yasin Jekulo kepada Mbah Raden Asnawi Bendan. Laqab (sebutan) cagak’e langit saya hubung-hubungkan sebagai karakter atau kepribadian Mbah Raden Asnawi Bendan yang tidak mengenal kompromi dalam memegang fikih, tegas dan kukuh. Banyak sekali kisah ketegasan dan kekukuhan Mbah Raden Asnawi dalam hal itu sebagaimana sudah saya tulis di atas. Termasuk juga ketika Beliau menulis surat secara khusus kepada Mbah KH. Hasyim Asy’ari yang melarang penggunaan terompet oleh drumband Anshor. Surat itu dititipkan kepada Bapak KH. Saifuddin Zuhri untuk diserahkan kepada Mbah KH. Hasyim Asy’ari. Setelah surat itu diterima dan dibaca kemudian Mbah Hasyim berkata, “guruku duko” (guruku marah).

Apakah Mbah Yai juga pernah mendengar cerita tentang Mbah Raden Asnawi Bendan yang suka memukulkan tongkatnya ke jendela karena orang di dalam rumah itu masih menyalakan radio menjelang maghrib?. “Ya, benar itu, dan cerita itu masyhur, banyak orang (masyarakat) mengetahuinya”. Ujar Mbah Yai Sanusi Yasin meyakinkan saya. “Pada saat itu, radio adalah barang mewah karena tidak setiap orang memiliki. Hanya orang-orang kaya saja yang memilikinya.” Tambahnya.

Salah satu istri Mbah Raden Asnawi Bendan, yaitu Mbah Nyai Munijah. Beliau ini adalah janda dari Mbah KH. Fauzan yang mengasuh pondok pesantren Damaran 78 tinggalan dari kakeknya (KH. R. Sholeh bin R. Asnawi Sepoh). Setelah Mbah KH. Fauzan wafat, Mbah Nyai Munijah meminta Mbah Raden Asnawi Bendan untuk menikahinya agar pondok Damaran 78 tetap ada yang mengasuhnya karena Mbah Nyai Munijah tidak memiliki anak laki-laki sebagai penerus pondok. Pondok Damaran 78 saat ini diasuh oleh Gus Baha’ yang tidak lain adalah cucu cicit dari Mbah KH. Fauzan Damaran Kudus.

Tatkala Mbah Raden Asnawi Bendan berada di kediaman Mbah Nyai Munijah di Damaran, para tetangganya yang pada waktu menjelang maghrib masih menyalakan radio jendela rumahnya akan dipukul-pukul dengan tongkatnya sambil berteriak, “pateni … pateni” (matikan radionya). Hal itu Beliau lakukan pada saat dalam perjalanan melewati lorong-lorong jalan dari pondok Damaran menuju ke masjid Menara untuk menunaikan sholat maghrib. Sebenarnya Mbah Raden Asnawi Bendan ke masjid Menara tidak hanya ketika sedang berada di Damaran saja. Pada saat-sat tertentu, di Bendan pun Mbah Raden Asnawi tetap menyempatkan ke masjid Menara Kudus. Sejak itu lah masyarakat Damaran dan Kauman tidak pernah ada yang berani menyalakan radio menjelang maghrib.

Cerita atau kisah yang disampaikan Mbah Yai Sanusi Yasin tentang Mbah Raden Asnawi Bendan ternyata tidak terbatas pada cagak’e langit saja. Masih ada kisah-kisah lain tentang Beliau yang tentunya sungguh menarik, yaitu Asri’u Mautakum (note: mautakum ini menurut tuturan Mbah Yai Sanusi Yasin, tapi yang saya temukan dalam hadits berbunyi asri’u biljanazah) dan Titin Sumarni. Semoga saja saya ada waktu dan kesempatan untuk menuliskannya. []

Oleh: Moh. Aslim Akmal

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Hikmah