Kajian Kitab Husunul Hamidiyah (1): Mengenal Sifat Wujud Bagi Allah

Ilmu Tauhid adalah salah satu ilmu wajib dipelajari bagi setiap orang mukallaf (berumur dewasa dan berakal sehat), selain Fiqih dan Akhlak. Dalam Akidah Aswaja (Ahlussunnah wal Jama’ah) rukun iman yang pertama adalah iman kepada Allah. Sebagai implementasi dari rukun iman tersebut seorang mukallaf wajib untuk meyakini sifat-sifat dari dzat Allah. Sifat wajib yang pertama bagi Allah adalah wujud (ada). Dalil Aqli (argumen logis) dari adanya Allah adalah dengan adanya alam semesta. Kemudian bagaimana alam semesta dapat dijadikan bukti logis dari adanya dzat Allah?, benarkah alam bersifat baru?, jika alam baru bagaimana argumentasi logisnya?.

Sederet pertanyaan diatas, telah diulas secara sistematis oleh Sayyid Husain Afandi al-Jisri al-Tharabalisi (wafat tahun 1909 M.) dalam kitabnya al-Husun al-Hamidiyah, bab sifat-sifat Allah yang wajib dan yang muhal. Dalil tentang sifat wujud dalam kitab ini menggunakan dalil aqli bukan dalil naqli (argumen teks al-Qur’an atau Hadis) sehingga dapat difahami dengan mudah bagi siapa saja yang belajar tauhid, baik kalangan santri atau umum.

Dalam kitab ini, beliau menjelaskan bahwa Allah wajib secara akal mempunyai sifat wujud dan mustahil atau tidak dapat diterima secara akal sehat jika Allah mempunyai sifat ‘adam (tidak ada). Sedangkan bukti logisnya adalah dengan adanya alam semesta yang dapat disaksikan oleh setiap manusia. Alam ini adalah baru atau adanya didahului oleh ketiadaan. Selanjutnya Beliau berkata:

“Dengan demikian, alam pasti ada yang menciptakan. Sedangkan alam  dikatakan baru karena alam ini menetapi sifat-sifat baru. Seperti gerak, diam, terdiri dari berbagai bentuk, baik berbentuk hewan, tumbuhan, tambang dan sebagainya di mana materi dan esensi alam tidak terlepas dari salah satu sifat-sifat baru tersebut. Setiap benda yang menetapi sifat-sifat baru, maka dia termasuk benda baru”

 Apakah dapat dikatakan bahwa dzat alam adalah qadim (tanpa diawali ketiadaan) hanya saja mempunyai sifat-sifat yang baru?, hal ini jelas mustahil, disebabkan esensi alam dan sifat-sifatnya tidak pernah terlepas, berbeda tetapi tidak terpisah. Jika sifat alam baru, pasti alampun juga baru.

Baca Juga:  Paradigma dan Tipologi Khidmah Santri (Bagian 2)

Apabila setiap yang baru pasti ada yang menciptakan atau yang memperbaharui, apakah mungkin terjadi sebaliknya?, jawabannya pasti tidak mungkin atau mustahil. Karena tidak logis terjadi pengunggulan tanpa ada yang mengunggulkan (attarjih bila murajjih). Sayyid Husain Afandi dalam kitab ini menganalogikan dengan dua mata timbangan yang mustahil akan berat sebelah tanpa ada faktor apapun yang menyebabkan terjadinya gerakan tersebut.

Alhasil, Allah wajib mempunyai sifat Wujud dan mustahil bersifat ‘Adam. Argumen logisnya adalah dengan adanya alam yang baru ini. Sehingga setiap yang baru pasti ada yang menciptakan karena ketiadaan tidak mungkin dapat mengadakan. Wallahu a’lam bisshawab. [HW]

Khairul Umam
Staf Pengajar MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep

    Rekomendasi

    Kisah

    Tiga Jurus Gus Dur

    Ada tiga jurus kunci yang digunakan Gus Dur dalam bersikap: keIslaman, keIndonesiaan dan ...

    Tinggalkan Komentar

    More in Kitab