Apakah Benar Khalifah Utsman Bin Affan Nepotisme?

Sebelum mengarah kepada sistem pemerintahannya Khalifah Utsman Bin Affan terlebih dahulu kita mengenal siapakah beliau ini, baik itu dari nashabnya karakternya maupun dari awal beliau mengenal Islam. Nama lengkapnya Utsman bin Affan bin Abu Al-Ash bin Umayah bin Abd al-Syams bin Abd al-Manaf bin Qushai. Khalifah Utsman bin Affan lahir pada tahun keenam sesudah tahun gajah. Khalifah Utsman masuk Islam melalui khalifah Abu Bakar, kemudian dinikahkan dengan putrinya Nabi Muhammad bernama Rukaiyah bin Muhammad SAW. Kemudian istri beliau tersebut wafat dikarenakan sakit, sehingga beliau menikah lagi dengan putrinya Rasulullah yang bernama Ummu Kulsum. Atas dasar inilah Khalifah Utsman diberi gelar Dzunnurain (dua cahaya).

Utsman bin Affan mempunyai karakter dan sifat yang lemah lembut, berwibawa, pemalu, budiman, penyabar dan banyak bersedekah. Pada masa pemerintahan Utsman terjadi perluasan  wilayah yang sangat pesat baik dari darat maupun lautan. Dari barat dan timur, untuk wilayah barat itu sendiri ia meliputi semua benua afrika termasuk Barqah, Tarablis, dan wilayah bagian barat Mesir, serta sebagian wilayah Nawbah pada pemerintahan Islam. Sedangkan dari wilayah bagian timur meliputi Afrika, Siprus, Armenia, Sind, Kabul, Farghanah, Balakh dan Heart di Afghanistan. Kemudian dilakukan penaklukan kembali negeri-negeri yang melanggar janji di Persia, Khurasan, atau Babul Abwab.

Selain penaklukan atau perluasan wilayah islam tersebut, khalifah Utsman bin Affan juga melakukan bentuk kontibusi di bidang yang lain, di antaranya sebagai berikut; (1) beliau membeli sumur arumah dan menyerahkannya kepada kaum muslimin, (2) beliau khalifah yang pertama kali memperluas Masjid Nabawi, hal ini beliau lakukan untuk memenuhi keinginan Rasulullah saat Masjid itu sudah semakin terasa sempit, (3) Penghimpunan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Hal ini beliau lakukan karena terjadi perbedaan cara membaca (qiraat) di beberapa negara Islam. Atas dasar hal tersebut, khalifah Utsman menyatukannya dalam satu bacaan sebagaimana cara bacaan Rasulullah. Setelah berhasil disatukan, beliau memerintahkan untuk membakar mushaf-mushaf yang lain. Mushaf yang berhasil disatukam tersebut dikenal dengan sebutan Rasm Utsmani sebagaimana Al-Qur’an yang kita kenal hingga masa kini.

Baca Juga:  Mengabadikan Pengabdian Manusia sebagai Hamba

Dari kemajuan-kemajuan di atas mengakibatkan masa pemerintahan yang terjadi pada masa Utsman bin Affan mengalami tingkat kemakmuran, keamanan dan stabilitas yang baik. Banyak kaum-kaum yang baru masuk Islam. Kondisi ini dimanfaatkan oleh Abdullah bin Saba untuk melakukan penyebaran fitnah. Abdullah bin Saba pura-pura masuk Islam atau mengakui diri sebagai orang muslim. Hal tersebut ia lakukan untuk membuat ummat Islam terpecah belah. Ditambah lagi dengan khalifah utsman bin affan yang memilih keluarga terdekatnya untuk menduduki jabatan-jabatan pemerintahan, seperti Mu’awiyah bin Abi Sofyan, Abdullah bin Amir, Marwan bin Hakam, Abdullah bin Sa’ad dan Walid bin Uqbah.

Terjadinya pengangkatan jabatan oleh Khalifah Utsman bin Affan banyak dari kalangan masyarakat merasa kecewa dengan hal tersebut, dari situasi ini pula Abdullah bin Ka’bah terus memprovokasi masyarakat dan menganggap bahwa khalifah Utsman itu bersikap nepotisme. Padahal yang menjadi alasan Khalifah Utsman bersikap demikian ialah mereka (selain dari beberapa orang yang dipilih oleh khalifah Utsman tadi) baru saja masuk Islam, artinya mereka belum benar-benar memahami syariat Islam atau terinternalisasikan dengan baik dalam diri mereka. Meskipun mereka mempunyai keahlian yang lebih seperti di bidang militer dan administrasi.

Bersamaan dengan hal tersebut kondisi masyarakat belum stabil, mereka sangat kecewa dengan khalifah Utsman bin Affan. Berkobarlah fitnah besar di tengah kaum muslimin yang dikobarkan oleh Abdullah bin Saba’, seorang yahudi asal Yaman yang berpura-pura masuk Islam. Ia memang berniat untuk menghancurkan umat Islam. Sehingga situasi seperti ini membuat Abdullah bin Saba lebih semangat dalam menjalankan misinya untuk membuat ummat Islam terpecah belah. Atas dasar inilah masyarakat banyak yang menjadi pemberontak dan menganggap bahwa Khalifah Utsman bin Affan sudah menyimpang dari kepemimpinannya yaitu bersikap nepotisme. Sejak saat itu keadaan mulai kacau dan banyak masyarakat yang melakukam pemberontakan sampai Khalifah Utsman bin Affan terbunuh secara teraniaya.

Baca Juga:  Mengabadikan Pengabdian Manusia sebagai Hamba

Setelah pemberontak berhasil membunuh khalifah Ustman bin Affan maka mereka membaiat Khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya. Sedangkan perkara wafatnya Khalifah Utsman bin Affan belum selesai. Hal tersebut didengar oleh Aisyah Radhiallahu Anha dan secara tidak langsung Aisyah berpikir bahwa khalifah Ali bin Abi Thalib tidak mempedulikan atas wafatnya khalifah Utsman bin Affan. Sehingga dari hal tersebut perang jamal pun terjadi. Mulai dari sini lah perpecahan umat Islam itu dimulai  yang ditandai dengan konfliknya Aisyah dengan Ali atau yang kita kenal dengan peristiwa perang jamal, kemudian antara Muawiyah dan Ali atau yang kita kenal dengan perang siffin, sampai dengan terbunuhnya Ali oleh salah satu kaum khawarij. Maka dengan terbunuhnya Ali tersebut, kepemimpinan Khulafa Rasyidin itu berakhir.

Jadi, kesimpulannya khalifah Utsman Bin Affan itu tidak bersikap nepotisme, melainkan beliau memilih kerabat terdekatnya itu karena keluarganya tersebut lebih awal masuk Islam dan juga mempunyai moral yang baik dibandingkan dengan yang lainnya. Anggapan beliau bersikap nepotisme merupakan bentuk fitnah yang dilakukan oleh beberapa kaum yang menginginkan beliau digantikan oleh Ali bin Abi thalib, sehingga atas dasar hal tersebut muncullah kaum pemberontak diantaranya Abdullah bin Saba yang menjadi sumber lahirnya pemberontak dan juga perpecahan di antara umat Islam pada saat itu. []

Sumber:

Al-usairy, Ahmad (1997). Sejarah Islam. Akbar Jakarta.

Jihad Arif Solikhin. (2019). Skripsi “Model Kepemimpinan Khalifah Usman Bin Affan Pada Era Khulfa’ur Rasyidin” dalam repository.unissula.ac.id.

Adrianto. (2018). Skripsi “Konsepsi Nepotisme Pada Kepemimpinan Usman Bin Affan Dengan Perbandingan Kepemimpinan Kontemporer” dalam repository.uinalauddin.ac.id.

Nasution, Syamruddin. (2013). Sejarah Peradaban Islam. Yayasan Pustaka Riau.

Siti Rahmatillah
Mahasiswa Semester 6 Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang Sekaligus Santri Pondok Pesantren Darun Nun Malang.

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini