seni Lukis

Hampir satu bulan penuh saya mengikuti kegiatan pelatihan desain grafis Digital Talent Scholarship yang diadakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, kebetulan saya diterima di Politeknik Negeri Malang jurusan Junior Graphic Designer.

Semenjak mengikuti pelatihan ini saya bertemu tenaga pendidik yang mumpuni dan benar-benar kompeten di bidangnya, saya juga juga bertemu dengan kawan-kawan desainer dari berbagai genre, dengan latar belakang pengalaman dan pendidikan yang berbeda-beda. Karena setiap hari berkomunikasi secara intens dengan mereka, ahirnya secara diam-diam lambat laun saya sedikit banyak menyelami dunia bathin mereka, terutama mendalami karya-karya desain yang mereka buat.

Ada yang diam-diam mempunyai banyak pengalaman desain tapi ia sembunyikan, ada yang kelihatannya profesional tapi biasa-biasa saja, ada yang sama sekali tidak mencerminkan keduanya tapi punya keistimewaan yang sama sekali tak terduga, dan ada yang karya-karyanya menjadi perantara rejeki harian dan sudah dijadikan referensi oleh desainer-desainer pemula.

Dari mereka saya belajar banyak hal, terutama bahwa karya desain yang pada outputnya akan dinikmati oleh banyak sepasang mata manusia itu ternyata mempunyai kekuatan magis yang mampu mempengaruhi pola pikir penikmatnya.

Apakah mereka sebelumnya pernah mengikuti pelatihan desain? Tidak! Barangkali hal ini menunjukkan kepada kita semua bahwa eksistensi seni terutama desain grafis tidak hanya dikuasai oleh akademisi seni, kurator, penikmat, dan pengamat seni belaka, sementara masyarakat umum masih terbilang   apatis   terhadap  pameran   seni, kecuali menyaksikan dan meninggalkan jempol di postingan admin-admin instagram yang menggunakan karya desain grafis untuk meme yang mereka buat.

Lihatlah Tokoh agama sekaligus seniman dan  budayawan Indonesia  KH.  Ahmad Mustofa  Bisri  yang akrab disapa Gus  Mus, beberapa karya lukisnya pernah menjadi kontroversi terutama karya lukisnya yang bertajuk “Berdzikir bersama  Inul”. Saat beliau melukis Inul dikelilingi para Kiai. Apakah Gus Mus mempunyai latar belakng pendidikan melukis di universitas? Saya rasa beliau bukan lulusan kampus seni.

Baca Juga:  Nabi Muhammad saw dan Bocah Santri (1): Ruang Interaksi

Kalau saya boleh menyimpulkan mengapa Gus Mus bisa menjadi seniman yang karyanya berpengaruh, adalah karena setiap beliau membuat karya seni lukis, beliau melakukan riset yang mendalam, mengamati fenomena yang terjadi, juga tentu dilatar belakangi oleh keresahan masyarakat yang tak terbendung, maka di sana ada campur tangan Allah yang kemudian hadir dalam karya yang beliau hasilkan, sehingga karya seni itu bisa mewakili perasaan banyak orang.

Apakah seni lukis atau seni desain yang saya maksud di sini adalah bentuk kekecewaan? Barangkali yang lebih tepat adalah ia merupakan ekspresi seorang seniman atau desainer yang dituangkan ke dalam sebuah karya.

Dari beberapa hal di atas, dari pelatihan desain grafis hingga karya seni lukis yang kontroversi bahkan dibuat oleh seorang kiai, hal ini menunjukkan bahwa seni lukis atau seni desain adalah salah satu media komunikasi manusia, dari senilah manusia bisa saling berkomunikasi tanpa berkata-kata, sebab  ketika dengan kata dan bahasa argumentasi diabaikan, di sana ada sastra dan tulisan sebagai gantinya. Ketika dengan sastra dan tulisan tetap tidak dihiraukan maka ungkapkan kasih sayang dan nasihat atau motivasi-motivasi itu bisa disampaikan melalui seni lukis atau desain grafis.

Dalam setiap karya seni lukis maupun desain grafis atau sekedar gambar sketsa, di dalamnya terkandung nilai estetika, nilai religius dan nilai yang didasari dengan  spiritualitas. Maka tidak heran jika ada beberapa karya seni lukis dan desain grafis yang mempunyai nilai jual yang sangat mahal.

Jangan heran juga ketika ada seseorang yang tiba-tiba terpukau dan mendadak menangis ketika melihat karya seni lukis maupun desain grafis. Sebab di sana ada pengetahuan tentang seni dan kandungan di dalamnya, ia bisa menjadi sarana untuk membawa pengamat maupun penikmat seni pada suatu keadaan spiritual yang hakiki.

Baca Juga:  Belajar dari Dialog Al-Būtī dan Arkoun

Sayang sekali, banyak diantara kita yang tak begitu menghargai skill yang diberikan Allah, sebenarnya ada banyak manusia yang memiliki keahlian melukis atau mendesain gambar yang bisa memikat banyak mata, tapi karena setiap daripada kita mempunyai rasa malas, maka skill itu tadi menjadi semakin meredup dan lenyap.

Padahal dari skill yang diberi Allah tanpa kita sadari itu bisa saja mendatangkan rejeki, keberkahan hidup terutama kedamaian hati. Lebih-lebih apabila melalui skill kita banyak orang yang merasa suara dan argumentasinya tentang berbagai macam persoalan hidup terwakili kemudian memunculkan sebuah keniscayaan.

Bila Allah melapangkan rejeki ide dan kesempatan, jangan ceroboh, di sana ada godaan yang bernama ‘kepentingan’, sedikit saja lengah, ia mampu mengelabuhi intuisi seorang seniman atau desainer sehingga tak ada waktu lagi untuk merefleksikan kegelisahan banyak orang dan mencarikan jalan keluarnya, yang ia fikirkan hanya angka-angka matematis duniawi belaka.

Lihatlah diluar sana banyak sekali ketimpangan sosial, kejahatan melukai orang tak bersalah, suara rakyat dibungkam oleh kepentingan, di sana sini terjadi kebohongan, tangan hitam kapitalisme menggelapkan hati nurani manusia.

Wahai para seniman, berapapun nominal ‘orderan’ yang datang meghampiri, bisakah diistirahatkan sementara waktu?, untuk apa menjadi seniman jika tak mampu lagi menggambarkan kegelisahan dan mengilustrasikan harapan bangsa?. Namun jika argumentasi kita tak lagi didengar, ucapan kita membentur dinding-dinding penuh dusta, dan kata-kata tak lagi berguna, marilah bersama-sama kita goreskan warna, saatnya gambar yang berbicara dan bekerja!

Wallahu a’lam

Ali Adhim
Alumni Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Santri di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Yogyakarta, Penulis, Editor dan Desainer CV. Global Press Yogyakarta, PT. Melvana Media Indonesia, dan Owner CV. Belibis Pustaka Group.

    Rekomendasi

    Keutaamaan Ilmu
    Opini

    Keutaamaan Ilmu

    “Carilah ilmu sampai ke negeri Cina” sebuah pepatah yang sudah ditanamkan oleh guru-guru ...

    3 Comments

    1. […] ini sebagaimana diceritakan oleh KH. A. Mustofa Bisri atau yang lebih akrab dipanggil dengan Gus Mus, menceritakan, bahwa “ Suatu ketika ada rombongan para kiai yang berkunjung ke Semarang untuk […]

    2. […] ridlo seorang ibu dan ketaatan ulama kepadanya, KH. A. Musthofa Bisri (Gus Mus/Mbah Mus), memberi contoh. Dalam tayangan Kick Andy, 7 Oktober 2011, Andy F. Noya bertanya kepada […]

    3. […] Yai Musthofa Bisri ketika menjelaskan bait dari Burdah ini, beliau menceritakan tentang usaha orang kafir Makkah menandingi Al-Qur’an. Lalu mereka membuat satu surat, yang dikenal sebagai surat Al-fil karya orang-orang kafir Makkah. […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Kisah