Awal Perjalanan di Timtengka

”Saya suka buku” itu yang saya katakan kemarin saat wawancara rekrutmen anggota PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Timtengka yang meliputi wilayah Timur Tengah dan Afrika.

Memasuki tahun kedua sebagai mahasiswa di Suriah, ada perekrutan pengurus baru PPI Suriah. Sebagai catatan saja, di Suriah hanya ada dua organisasi yang mewadahi para pelajar Indonesia yang studi di Suriah, yakni PCINU (Pengurus Cabang Internasional NU) dan PPI. Pada mulanya tidak terbersit sekalipun dalam benak saya untuk masuk organisasi. Saya cenderung introvert dan bodo amat dengan aktivitas yang melibatkan banyak orang.  Dunia saya lebih bertumpu pada buku. Saya lebih suka menghabiskan waktu dengan buku.

Karenanya,  jika ditanya “Kalo gitu ngapain ikut daftar rekrutmen?”.

Maka, jujur saya katakan, saya lagi miskin aktivitas. Tak punya rencana apa-apa. Terutama saat ini lagi liburan dua bulan pasca ujian. Kuliah tidak ada. Kegiatan cuma sebatas ngaji wajib Dr. Syarif (Rektor kampus) hari Selasa dan ngaji Hadist Syekh Bassam Hamzawi dan Syekh Umar di Jumat sore serta dzikir malam Hari Rabu. Selebihnya saya lebih banyak baca komik, disamping lagi tertarik dengan buku -buku seperti Homo Sapiens karya Yuval Noah Harari, The Intelligent Investor karya Benjahim Graham (guru Warren Buffet), Ekonomi Indonesia dalam Lintasan Sejarah karya Prof. Dr. boediono, Asian Godfather karya Joe Studwell, Who Rules the Whorld karya Noam Chomsky, dan novel Anna Karenina karya Leo Tolstoi.

Masih banyak waktu luang. Dan saya mulai jenuh. Saya pikir, kenapa tidak coba gabung saja di PPI di lain area?

“Tak akan masalah kan jika cuma coba-coba. Lagipula, belum tentu diterima kok” pikirku.

Di brosur rekrutmen ada beberapa pilihan untuk mengisi komposisi divisi. Salah satunya bagian media. Dulu, saat masih di pesantren, aktivitas jurnalistik saya, lebih bertumpu pada penulisan, baik berita maupun artikel. Saya bertanggung jawab di bagian  redaksi dibantu oleh seorang layouter.

Dua media yang menjadi tanggung jawab saya adalah Matabaca” dan “Maktabati”.

Keduanya mempunyai fokus isi yang berbeda.

Matabaca berformat mengenalkan buku dan kitab perpustakaan sedang Maktabati lebih menjurus pada mencari berita terbaru.

Saya dibantu layouter untuk perwajahan.  Meskipun lama ngurusi media, soal disain tidak terlalu saya kuasai. Lagipula saya tidak punya waktu karena selalu dikejar deadline. Sementara saya juga  punya kewajiban lain sebagai santri  yang harus ikut jadwal diniyyah.

Meski cuma sekelas majalah dinding pondok, saya belajar banyak tentang kepenulisan dari sana. Terutama di Maktabati, yang mengajarkan saya bagaimana rasanya menjadi reporter dengan deadline tulisan setiap hari.

Di tahun pertama saya sebagai mahasiswa Mujamma’ Syekh Ahmad Kaftaro di Damaskus,  saya ditarik di bagian media PPI.

Saya kira bagian media di sini seperti halnya saat di pondok. Lebih condong pada penulisan atau redaksional. Jadi saya ikut saja bergabung masuk menjadi reporter.

Baca Juga:  Imam Syafi'i Memberikan Kebebasan Berpikir Kepada Santrinya

Saya berharap bisa lebih mengasah kemampuan menulis di sini. Sayapun akhirnya menjadi pengurus baru PPI Suriah di bidang media. Lebih tepatnya copy writer.

Namun, tak berselang lama,  saya baru menyadari bahwa media yang dimaksud di sini berbeda dengan media yang saya geluti di pondok pesantren.

Media disini lebih mengutamakan visual daripada tulisan. Jadi porsi kepenulisan lebih sedikit dibanding desain grafis. Karena saya tidak mendalami disain, saya tidak banyak  menghabiskan waktu di sana.

Saya tidak  merasa masalah dan enjoy aja. Satu sisi malah bersyukur karena tidak mengalami riwehnya pesanan dadakan dari redaktur… hehe..

Coba bayangkan saja. Kita  sudah bilang bahwa untuk visualisasi foto setidaknya perlu 3 hari masa disain hingga layak uploud.Tidak bisa dadakan.

Sementara berita tanpa foto layaknya seperti masak ayam tanpa minyak. Bisa sih masak ayam tanpa minyak tapi resikonya agak gosongan dikit. Ini diperparah lagi saat sudah jadi, customer tidak puas dan diminta merombak semua dengan disain yang berbeda. Deadline biasanya semakin pendek.

Yang semacam ini tidak hanya sekali tapi beberapa kali terjadi. Makanya kalo si desainer dan ketua redaksi kumpul sudah pasti ngomel-ngomel tentang masalah yang sama. Tapi saya respect tinggi sama si desainer soalnya dia tetap bertahan, dan terus berproduksi.

Singkat cerita, saya merasa skill menulis tidak berkembang di sini. Saat ada pengemumuman rekretrutmen PPI Timtengka yang jangkauannya meliputi seluruh Timur Tengah hingga Afrika, saya tertarik untuk ikut. Lebih berharap ada perkembangan skill menulis di PPI Timtengka.

Namun, saat wawancara kemarin, situasi tidak selalu berjalan mulus. Ada banyak insiden yang hampir membuat saya putus asa dan mengurungkan niat untuk melanjutkan.  Sungguh, ini seperti drama saja. Saya merasa hopeless bakal diterima.

Ceritanya, menurut jadwal, wawancara rekrutmen akan diadakan habis jumatan. Saya sudah siap-siap habis jumatan (13.30). Nunggu lama sekali di depan zoom yang tertulis “host telah bergabung”. Kami telah memberitahu mereka bahwa anda sudah masuk”.

Berjam-jam saya nunggu di depan laptop,  baru saat jam 16.00 ada pesan masuk suruh siap-siap. “$#@%%, aku dah nunggu dari tadi” keluhku.

Ternyata, hingga pukul 18. 00, tidak ada pergerakan.  Padahal jam berikutnya, saya ada pengajian hadis. Wajib pula.

Jadilah saya harus melayani keduanya dalam waktu yang bersamaan. Saya merasa betul- betul tidak siap dan kebingungan. Energi rasanya sudah habis ditelan masa tunggu yang tanpa kepastian.

Saya sadari, perfoma saat wawancara sangat kurang.

Masalah tidak berhenti sampai di sana. Saat sesi wawancara,  saya menjelaskan bahwa saya suka membaca buku Seperti buku karya Syekh Buthi; al-Mar’ah, Akidatul Islamiah Wa Fikril Muashirah, dan Fiqih Syirah Nabawaiyah, termasuk juga bukunya Yuval Noah Harari ; Sapiens, Homo deus, Money, dan 21 Lesson for the 21st Century dll,  tiba-tiba koneksi internet terputus agak lama.

Baca Juga:  Dua Puluh Santri Terpilih Menjadi Peneliti Muda

“Gustiii” kataku.

“Kenapa pas momennya, betul-betul gak tepat” pikirku.

Soal terputusnya sinyal,  di sini sebenarnya sering terjadi.  Karena situasi politik,  akses listrik dan internet agak merepotkan

Setelah ada sinyal kembali, saya ngechat lewat WA ke pewawancara “ini bagaimana? masih dilanjutin atau gimana? Pewawancara  menjawab, “di terusin aja mas. Inikan juga belum selesai. Mungkin kita lanjutin nanti lagi”.

Sungguh saat itu rasanya pingin saya cancel masuk PPI Timtengka. Malas nungguin lama sama ngurusi sinyal dan hp yang bermasalah. Bertepatan dengan pikiran mau mencancel tadi, saya berpapasan dengan Habibie, kawan asrama, yang juga daftar rekrutmen Timtengka. Habibie bilang kalo dia juga belum diwancarai dan merasa kesal kok dari tadi disuruh siap-siap tapi gak dipangil-panggil. Akhirnya saya berpikiran “lanjutin aja sekalian. Nanggung. Lagian yang lain juga belum dipanggil”.

Alias, saya tidak sendiri. Semangat saya muncul lagi.

Melihat situasi ada pengajian wajib Hadist di Darul Hadist dan pergi ke asrama juga tidak mungkin karena dikunci, kami mengurungkan niat untuk balik ke asrama. Kita berdua pun memutuskan untuk keluar gedung menuju ke Muz Halib tempat nongkrong sekedar minum-minum juice di dekat asrama. Apalagi kalau bukan untuk cari sinyal demi melanjutkan wawancara yang terputus tadi.

Sampai  di sana, kita melihat banyak sekali pengunjung. Tidak mungkin bisa zoom dengan tenang.

Habibi mengusulkan untuk cari sinyal di salah satu masjid terdekat. Tapi saya sanggah karena orang sini sangat antipati jika ada gangguan saat sholat. Apalagi sebentar lagi akan masuk sholat Isya.

Akhirnya kita putusin lanjut jalan agak jauh menuju “Omaya” toko penjual es krim. Sesampainya di sana, lagi-lagi ramai. Bingung zoom di sini atau tidak. Saya usulin ke masjid Ustmani tapi gak zoom di dalamya melainkan di sekitar halaman. Letak masjid Ustmani sendiri agak jauh dari Omaya tadi. Kitapun sepakat.

Sesampainya di sana, sekali lagi kita tunggu-tunggu, tetap tidak ada kepastian kapan wawancara diteruskan. Entah sudah berapa banyak keluhan dan rasa kesal yang keluar.

Tapi kita tetap menunggu.

Tak seperti di Indonesia dimana waktu antara Isya dan maghrib lumayan cepat. Di sini, waktu  maghrib berbeda dari Indonesia. Sedikit lebih lama. Kita keluar tadi pas setelah sholat maghrib. Memakan waktu agak lama saat perjalanan tadi. Apalagi kita tidak pakai sepeda atau moda apapun. Cuma jalan kaki saja. Sesampainya di masjid Ustmani, sekali lagi kita nunggu lama dipanggil hingga tanpa sadar suara adzan Isya telah berkumandang.

Baca Juga:  Ashabus Shuffah Sebagai Inspirator Tradisi Santri dan Dilematik Sistem Pendidikan ala Pesantren

Merasa tak dipanggil-panggil dan tidak ada kejelasan, kita berdua berniatan ingin kembali saja ke asrama. Lebih enak, sinyal juga lebih lancar dari pada diluar lagipula batterei hp saya tinggal 6% . Asrama sudah pasti dibuka karena sudah selesai pengajian hadisnya.

Tiba-tiba di tengah perjalanan, si Habibie dipanggil buat diwawancarai. Kita kaget dan buru-buru nyari tempat yang pas untuk wawancara terutama dari sisi cahaya dan sinyal sebab agak susah carinya. Akhirnya kita berhenti di depan toko Omaya tadi. Rasanya agak kurang enak diliatan banyak orang apalagi cuma duduk gak beli. Habibie saya tungguin, tidak saya tinggal. Saya lihat wawancaranya berlangsung bagus dan enak meskipun tidak keliahatan wajah Habibie saat wawancara tadi gegara sinyal.

Selesai menunggu wawancaranya Habibie, saya agak enjoy soalnya ada orang lain yang masih diwawancarai. Saya pikir, giliran saya masih lama.

Dengan santai kitapun menuju ke asrama. Namun, seakan tidak ada habisnya drama Timtengka ini. Melaui chat WA, sang penguji bilang bahwasanya saya di tunggu 10 menit lagi. saya bener-bener kaget.

“kok cepet kali wawancaranya?”

“bukannya si Habibie Habibie tadi wawancara agak lama ya?” batinku

Ngezoom di luar gak memungkinkan soalnya baterai hp tinggal 3%. Sayapun lari sekencang-kencangnya menuju asrama meskipun jaraknya masih jauh banget. Takut kesempatan hilang. Sambil ngos-ngosan lari tiba-tiba ada chat lagi, “mas 5 menit. “alamak…” pikirku.

Sesampainya di kamar, saya langsung ngambil power bank dan buka zoom di ruang ghorfah muthalaah. Sambil mempersiapkan peralatan, saya mencoba mengatur nafas sembari  terengah-engah dan berkeringat banyak karena lari tadi.

Pas siap,  zoom dimulai dan sesi wawancara tadi dilanjutkan.  Saat sudah berlangsung tenang, lagi-lagi sinyal terputus dan beberapa kali saya terpental dari zoom.

Di tengah-tengah kondisi tersebut, penguji tetap sabar meneruskan dengan pertanyaan macam  “kenapa kamu suka baca buku lain (selain Islamis)? Apa ada efeknya? Bukankah ada sebagian kalangan islam sendiri antipati membaca golongan lain, apalagi si Yuval Noah Harari ini bukannya seorang Yahudi Israel?”. Dst.

Putusnya sinyal ini sebenarnya sebentar tapi berlangsung berkali-berkali hingga pewawancara menstop wawancara, dan merasa sudah dapat point yang saya sampaikan tadi. Sungguh gara-gara kejadian ini, saya benar-benar skeptis bisa masuk. Tapi saya bersyukur bisa melalui semua stepnya, kendati banyak drama yang saya hadapi. Soal diterima atau tidak, tidak terlalu saya pikirkan lagi.

“hahaha… lucu sekali hari ini” batinku.

Mubarak, Mubarak” kata temanku 3 hari kemudian.  Saya dan Habibie  akhirnya lolos wawancara.

Mungkin semesta mengasihani kami.

Nama pena : D. HAQ

Ahmad Beghtasy Dhiaul Haq
Pendidikan Mujamma Syeh Ahmad Kaftaro, Damaskus, Syria.

    Rekomendasi

    1 Comment

    1. […] kepada anggota NU Suriah dan pengurus khususnya karean telah bersama-sama dalam menguri-uri NU di Suriah. Beliau juga berpesan untuk terus berkhidmah dan berjuang untuk NU dimanapun itu […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Kisah