Al Qur'an dan Skeptisisme

Bagi orang-orang yang bertakwa Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang meragukan. Al-Qur’an diimani sedemikian rupa karena kita mempercayai adanya Tuhan dan mempercayai kebenaran Rasulullah.

Bagi yang meragukan adanya Tuhan atau meragukan kebenaran Nabi Muhammad Saw, tentu tidak serta-merta akan mempercayai. Walaupun demikian, Al-Qur’an memiliki indikator-indikator bahwa ia bukan buatan manusia.

Seperti yang dijelaskan oleh tafsir jalalain, ada tiga hal yang tidak bisa ditiru dalam Al-Qur’an. Yang pertama adalah segi balaghah-nya, yang kedua adalah segi husnul nadzmi (keindahan tata susunya) dan pemberian informasi terkait hal-hal yang ghaib.

Menghadapi orang-orang yang meragukannya, Al Qur’an menantang orang kafir Makkah waktu itu untuk bisa mendatangkan satu surat yang bisa menandingi Al-Qur’an. Tentu mendatangkan di sini bukan hanya melalui proses yang sama, yakni melalui wahyu dari Tuhannya saja. Namun boleh juga lewat karang mengarang, seperti halnya umumnya karya sastra.

“Dan coba ajaklah sesembahan kalian selain Allah ta’ala, jika memang kalian memiliki pengakuan yang benar-yakni Al Qur’an itu tidak dari Allah” (Al Ibris hal 8). Al-Qur’an pun menantang orang kafir Makkah waktu itu untuk mereka meminta kepada para berhalanya agar diberi wahyu yang sama seperti Al-Qur’an.

 ردت بلاغتها دعواى معارضها # رد الغيور يد الجاني عن الحرم

Sastra Al-Qur’an menolak dakwa para penentangnya # seperti halnya seorang suami penyemburu yang menolak tangan penjahat dari istrinya.

Yai Musthofa Bisri ketika menjelaskan bait dari Burdah ini, beliau menceritakan tentang usaha orang kafir Makkah menandingi Al-Qur’an. Lalu mereka membuat satu surat, yang dikenal sebagai surat Al-fil karya orang-orang kafir Makkah.

 الفيل # ما الفيل # وما أدراك ما الفيل # لها الخرطوم الطويل

karangan ini hendak meniru gaya bahasa surat Al-Qariah, tapi ketika dibandingkan antara yang mau ditiru dan meniru, ternyata hasilnya sangat jauh. Pilihan kata, rangkaian kata, makna dan huruf-hurufnya tidak bisa menandingi surat yang mau ditirunya.

Baca Juga:  Jejak Forensik dalam Al-Quran

Pilihan temanya pun nampak asal, dan tidak penting. Hanya menjadi karya deskriptif yang tidak memiliki nilai keindahan, kecuali bunyi akhiran sama yang berupa “il”.

Al-Ibris lalu menjelaskan ayat 23 sebagai lanjutan dari tantangan di atas. “jika kalian tidak bisa dan pasti tidak bisa, maka takutlah kepada ancaman Tuhan berupa neraka yang bahan bakarnya berupa manusia dan bebabtuan, yang disiapkan bagi orang-orang kafir”.

Dengan begitu Al-Qur’an memiliki gaya yang elegan saat menghadapi orang-orang yang meragukannya. “Silahkan coba buat sendiri hal yang sama”. Namun memang banyak yang hanya bisa meragukan, tanpa bisa membuat yang lebih dari yang diragukannya.[BA]

Muhamad Isbah Habibii
Santri Alumni PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dan Santri Alumni PP Sabilurrasyad Gasek Malang

    Rekomendasi

    1 Comment

    Tinggalkan Komentar

    More in Manuskrip