Kiai Kalah Yakin dengan Santri

Suatu malam di sebuah ndalem kiai, si santri kita ini terlambat menghidangkan daharan (makanan) untuk sang Kiai.

“Cung!” panggil sang Kiai kepada si santri.

Ia segera menghadap. Tak perlu bertanya. Ia sudah mengetahui maksud sang Kiai memanggilnya. Dengan lirih dan takzim, ia berkata; “Maaf, Kiai, tadi bakda Isya waktu Kiai mucal (mengajar) di aula, ada seorang fakir mengetuk rumah dan meminta makanan.”

“Lalu?” dawuh Kiai sembari meletakkan kacamata usangnya itu.

Dalem (baca: saya) kasihkan semuanya kepada si fakir itu, Kiai.” Sambung santri kita ini dengan kepala tetap menunduk dan tangan mengapit menempel kedua lututnya.

“Berapa orang tamu itu?” tanya Kiai.

Setunggal (satu), Kiai.”

“Kok, kamu kasihkan semuanya?”

“Karena tempo hari lalu, Kiai ngendikan bahwasanya apa yang di sisi Allah itu lebih berharga berkali-kali lipat daripada apa yang kita punya. Dan jika seorang hamba meyakini itu, maka ia telah beriman sepenuhnya kepada Allah.” Jelasnya kepada sang Kiai.

Sambil membenarkan posisi duduknya, sang Kiai berbicara dengan suara lebih keras dari biasanya, “Cung, kamu itu santri yang keyakinannya sudah kayak gunung. Tapi ilmumu tidak seberapa dibanding air dalam gelas yang kupegang ini. Sangat sedikit. Kalau kamu kasihkan separuh makanan itu, dan kamu tinggalkan separuhnya lagi untukku, itu ndak masalah. Itu sudah cukup untukku. Besok jangan diulang lagi!”

Sendika dawuh, Kiai.” Jawabnya sambil menahan rasa salah. Baru kali ini ia mendapat teguran setelah berpuluh tahun menjadi khadim di ndalem. Segera ia menarik tangan kiai dan menciumnya lalu kembali ke dapur untuk segera membuat makanan cepat saji.

Tak lama setelah itu, pintu depan ndalem berbunyi. “tok.. tok.. tok..”

Baca Juga:  Nasionalisme sebagai Representasi ‘Imaratu Al Ardl Kaum Pesantren

Lelaki lugu itu segera meninggalkan pekerjaannya di dapur menuju pintu lalu membukanya. Ternyata ada seorang santri yang baru saja dijenguk orang tuanya mengantarkan rantang berisi nasi lengkap beserta laukpauknya. “Dari bapak saya untuk Abah, Kang.”

Bak menerima balasan surat dari santri putri, hatiya sangat membucah kegirangan. Ia segera menerimanya dan menghaturkan terima kasih. Setelah mengantarkan si santri tadi sampai pelataran ndalem ia segera bergegas masuk dapur. Dengan cekatan ia memindahkan semua isi rantang ke wadah masing-masing. Nasi ke wadah nasi. Lauk ke wadah lauk serta mengambil satu buah piring beserta mangkuk berisi air kran untuk cuci tangan lalu menghidangkannya kepada Kiai. “Kiai. Ini dari wali santri.” Kata si santri ndalem lirih sambil meletakkan talam di atas meja. Lalu ia melanjutkan, “Kiai, Dalem akui ilmu Kiai itu sundul langit. Tapi, ngapunten, Kiai, panjenengan sedikit yakinnya. Hehe..”

“Haha.. Cung, ilmuku itu sangat jauh mengunggulimu, tapi kali ini yakinku masih kalah dengan yakinmu.” Jawab sang Kiai terkekeh. [HW]

Khoirul Athyabil Anwari
Santri Alumnus Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta.

    Rekomendasi

    menjadi guru
    Hikmah

    Menjadi Guru

    Beberapa hari yang lalu saya menghadiri undangan dari madrasah formal Al munawaroh, yang ...

    Tinggalkan Komentar

    More in Humor