Kematian Begitu Dekat

Hari ini dikejutkan dengan wafatnya, KH. Wahid Ghazali (Gus Wahid), kemarin KH. Ja’far Shodi’ Syuhud. Kemarinnya lagi KH. Farihin (Gus Farihin) dan KH. Zaki Hadziq (Gus Zaki), sebelumnya KH. Masyhudi Mukhtar. Mudah-mudahan beliau diberikan tempat yang indah di sisi-Nya, dan diampuni segala dosanya.

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggenggam ilmu dengan sekali pencabutan, mencabutnya dari para hamba-Nya. Namun Dia menggenggam ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, jika tidak disisakan seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka tersesat dan menyesatkan.” (HR Al-Bukhari)

Wafatnya ulama kata imam al-Ghazali “Kematian seribu orang ahli ibadah yang rajin salat malam dan puasa di siangnya itu tidak sebanding dengan kematian seorang ulama yang mengerti halal haramnya aturan Allah Ta’ala (syariah)”.

Kematian
Ternyata di grup (Medsos) selalu ramai kabar; kematian, ulang tahun, dan ucapan kelahiran.

Kematian datang silih berganti. Ia tak mengenal tempat, tak pula mengenal waktu. Kematian sangat dekat dengan kehidupan, ia tak memilih usia tuk dilesatkan; ada yang masih dalam rahim, ada yang baru satu detik keluar dari rahim, ada pula yang belum lama di rahim, digugurkan. Tidak menunggu tua, tidak pula menunggu sakit. Kematian bukan karena tua dan sakit. Ia adalah kehendak Sang Khaliq. Ia rahasia yang paling rahasia, agar manusia selalu waspada. Ia akan datang tetiba, walau tak pernah merasa.

Kematian selalu unik, tapi nyata, ia benar-benar akan datang, pada siapa pun; Nabi, raja, kiai, pengusaha, dokter, tabib, dukun, guru, tukang sapu, pejabat, artis, dan siapa pun yang masih bernafas, ia akan datang tuk menderangkan kematian.

Baca Juga:  Catatan Seputar Muallaf: dari Yahya Waloni hingga Martin Lings

Kematian nyata dan sangat nyata. Dekat dan sangat dekat, ada yang masih menulis status kematian temannya, ia sudah tak bernafas. Ada yang baru hadir dari mensalati saudaranya, ia pun disalati. Ada pula menghadiri kematian, ia pun tiada. Berhembus terakhir, terkadang tak berpesan apapun.

Kematian itu selalu datang, tak mengenal tempat; tidak mati di darat, ia mati di pesawat. Tidak mati di rumah sakit, ia mati di bukit. Tidak di rumah, tapi di sawah. Terkadang dijaga ribuan tentara di Istana, ia mati begitu saja. Kadang di bungker, di benteng, sudah tak bernafas lagi.

Tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan(nya)” [QS al-Hijr/ 15: 5]. Ia datang tanpa izin, walau kadang ada tanda, tetapi tidak ada yang kuasa tuk menolaknya.

Allah selalu memilih tempat bagi siapa pun dan apa pun di Mayapada, tuk dilesatkan ke Mayanyata, akhirat.

Walau kematian belum diharapkan, tetapi ia akan datang, seperti Umar bin Khattab yang menghunus pedangnya bagi orang memberitakan wafatnya Sang Nabi, tapi Nabi sudah benar-benar wafat, walau Umar belum percaya.

Secinta apapun ia, kematian akan segera datang. Abu Bakar berpidato ketika Nabi wafat, “Siapa saja yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa Muhammad telah tiada. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu hidup dan tidak akan pernah mati.”

Kematian pun datang, bagi yang mengaku Tuhan; Fir’aun, Namrud, Alan John, David Cores, Jim Jones, Vissarion dan lainnya. Ia tak kan pernah kekal, karena kematian adalah kepastian.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ اْلمـَوْتِ

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati” [QS. Ali Imran/3: 185, al-Anbiya’/21: 35 dan al-Ankabut/29: 57].

Baca Juga:  Pidato Pembukaan Rangkaian Hari Lahir Nahdlatul Ulama

Semuanya yang berjiwa, tak terkecuali apa pun dan siapa pun. Ia akan merasakan kematian. Mati dan akan hidup lagi. Merasakan, berarti akan mengalami kematian. Merasakan seperti mencicipi, tidak semuanya, ia akan datang setelah kematian dan mengalami kehidupan lain.

Merasakan berarti ada setelah merasakan rasa lain yang akan diberikan sebuah janji di akhirat nanti. Di sinilah semuanya tampak akan diuji, bagaimana ia menjalani kehidupan menuju kematiannya.

Mati bukanlah akhir segalanya, tapi untuk hidup kembali, menuai dari hasil kreasi dan cipta diri, selama berada di dunia fana ini. Balasan dari semua perilaku akan tersaksikan di fase ini.

Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, sesungguhnya kematian itu akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Allah, Yang mengetahui keghaiban dan yang nyata. Lalu Ia akan beritakan kepada kalian apa yang kalian telah kerjakan.” [QS. Al-Jumu’ah/62: 8].

*
Mudah-mudahan kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan husnul khatimah. [HW]

Halimi Zuhdy
Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Pengasuh Pondok Literasi PP. Darun Nun Malang, Jawa Timur.

Rekomendasi

Memilih pasangan
Hikmah

Memilih Pasangan

Tak terasa sebentar lagi bulan Dzulhijjah atau bulan besar biasanya orang jawa menyebut, ...

Tinggalkan Komentar

More in Opini