Opini

Ini Sejumlah Isu Pendidikan yang Perlu Ditangani

“Education is The Premise of Progresss” – Kofi Annan

Persoalan pendidikan pada hakekatnya terus berkembang seiring dengan persoalan manusia yang mengikuti dinamika sosial yang belakangan bergerak sangat cepat. Ada persoalan pendidikan yang muncul antara tahun ini dengan tahun sebelumnya sama, tetapi ada juga diprediksi tahun 2020 ini ada persoalan pendidikan yang berbeda dengam sebelumnya di dunia global. Belum lagi di Indonesia yang baru saja terjadi pergantian kabinet yang memiliki orientasi berbeda.

Berdasarkan hasil kajian Peter DeWitt (2019) yang telah meriviu kondisi pendidikan di AS, Canada, Europa, UK, dan Australia dapat diidentifikasi sejumlah persoalan pendidikan yang akan muncul. Dengan memperhatikan iklim politik dunia, derasnya media sosial, kondisi ekonomi dunia, dan kemajuan iptek yang cepat, maka diidentifikasi sejumlah issu pendidikan.

Pertama, kesehatan dan wellness. Penelitian menunjukkan bahwa para siswa dewasa ini mengalami stress dan cemas yang berarti. Kondisi ini dialami juga oleh para guru dan pimpinan sekolah. Kondisi ini disebabkan oleh media sosial, padatnya jadwal, dan banyaknya tes.

Kedua, literasi. Kita menghadapi terlalu banyak siswa yang memiliki persoalan literasi bahasa, baik kemampuan membaca maupun menulis serta ketrampilan bahasa lainnya. Akibatnya siswa tidak bisa mengembangkan potensinya secara optimal. Ketiga, kepemimpinan sekolah. Pimpinan sekolah menghadapi tuntutan yang tinggi, namun dalam prakteknya tidak selalu pimpinan sekolah tersiapkan dengan baik. Kepemimpinan sekolah memiliki potensi untuk menjadi seseorang yang mengagumkan. Sayangnya tidak semua pimpinan sekolah merasa menyiapkan untuk posisi itu. Apalagi pertimbangan politik ikut mewarnai proses rekrutmen. Untuk menjadi pimpinan sekolah yang efektif perlu penyiapan dengan program-program yang relevan dengan dinamika sekolah.

Keempat, persepsi terhadap siswa. Selalu saja terjadi persepsi pendidik terhadap siswa kurang menguntungkan, terutama penilaian underestimate terhadap siswa yang berlatar belakang kurang menguntungkan. Kondisi ini bisa membikin bias, sehingga perilaku pendidik tidak menguntungkan bagi siswa yang berpotensi. Dengan begitu sangat dibutuhkan berpikir positif terhadap semua siswa tanpa ada sikap diskriminatif.

Baca Juga:  Meraba Tugas Pertama Nadiem sebagai Mendikbud

Kelima, Budaya equitas. Ada kesan bahwa perlakuan diskriminatif terhadap siswa berlatar beda, terutama minoritas. Kondisi membuat sekolah sebagai tempat tidak aman untuk belajar. Budaya perlakuan sama sangatlah dibutuhkan, terutama untuk akses pendidikan bermutu.

Keenam. Persepsi terhadap guru. Persepsi terhadap guru yang tidak bisa bekerja secara baik sangatlah menyakiti, sehingga mereka kurang bersemangat. Kondisi ini mempengaruhi iklim sekolah, sehingga guru kurang aktif berpartisipasi. Memang guru yang terdidik dengan benar dan profesional, akan membantu anak untuk memenuhi kebutuhan akademik dan sosio-personalnya, walaupun ini tidak mudah.

Ketujuh, waktu untuk tugas vs perjanjian dengan siswa. Faktanya setting terjadi bahwa guru dalam memberikan tugas tanpa diketahui siswa. Siswa menjadi objek, sehingga membuat siswa tidak nyaman dan merasa terbebani. Seharusnya pemberian tugas diberikan didasarkan pada perjanjian dengan siswa, sehingga siswa merasa ikut terlibat dalam pembuatan tugas.

Kedelapan, perubahan cuaca. Perubahan cuaca dewasa ini yang tidak bisa dihindari berdampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan di rumah dan sekolah. Perubahan cuaca berdampak pada panas bumi, banjir, dan berbagai bencana alam yang kadang-kadang mengganggu kehidupan sehari-hari, terutama aktivitas belajar dan mengajar. Siswa dan guru kadang-kadang harus mencari alternatif tempat dan kegiatan yang relevan.

Di samping issu-issu pendidikan yang bersifat global, juga ada issu-issu pendidikan yang bersifat nasional, yang seharusnya menjadi concern semua. Menurut hemat saya, issu-issu pendidikan nasional di antaranya: (1) pemerataan akses pendidikan bermutu, (2) penetapan desain kurikulum, (3) universalisasi gerakan pendidikan karakter, (4) penataan pendidikan vokasi dan profesi, (5) upaya standardisasi dan sertifikasi institusi dan keahlian, (6) pemanfaatan digital untuk pendidikan berkualitas, dan (7) pengelolaan pendidikan yang berbasis local wisdom dan berorientasi global.

Baca Juga:  Menyoal PISA Indonesia

Demikian beberapa isu pendidikan yang menjadi concern kita semua, baik praktisi pendidikan maupun para stakehokders pendidikan. Apapun kondisi bangsa dan negara ini, pendidikan menjadi tumpuan semua untuk menghasilkan SDM yang bermutu.

Untuk mewujudkan itu perlu dibangun pendidikan bermutu juga, yang tidak boleh mengabaikan issu pendidikan global maupun nasional. Semoga kita bisa terlibat langsung maupun tidak langsung dalam memberikan solusi terhadap issu pendidikan 2020.

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini