KHR Asnawi Kudus adalah seorang ulama yang sastrawan. Sajak-sajak beliau banyak yang berbahasa Arab dan juga Bahasa Jawa, karya tulis beliau “Fasholatan” menjadi rujukan oleh umat Islam dalam melaksanakan ibadah salat sampai saat ini.

Asnawi kecil mempunyai nama Raden Ahmad Syamsi, putra HR. Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah lahir di Kampung Damaran Kota Kudus tahun 1281H (1861M). Nasab beliau bersambung hingga Sunan Kudus. Dari kecil Asnawi kecil sudah terkenal kecerdasan dan ketekunanannya. Dari kecil beliau lebih suka tidur di langgar dan di pesantren daripada tidur di rumah bersama orang tuanya.

Mulai belajar Alquran dalam asuhan orang tuanya sendiri, kemudian ketika usia 15 tahun beliau ikut berdagang bersama sang ayah ke Tulungagung, di sela-sela berdagang beliau menyempatkan diri untuk belajar ilmu agama di Pesantren Mangunsari. Melihat kecintaan sang anak, ayahnya mengarahkan untuk mondok secara total dan kemudian melanjutkan mondok di Kiai Irsyad Na’ib Mayong Jepara. Salah satu hobi Asnawi muda adalah berpuasa, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Sya’ban, dan puasa-puasa sunah lainnya. Pernah suatu ketika Asnawi kecil ingin berpuasa dan bertapa di Gunung Patiayam Pati tapi diingatkan oleh orang tuanya.

Ketika usia 25 tahun, pada tahun 1897M. beliau diajak ayahnya untuk berangkat haji ke tanah suci di sinilah perjumpaan beliau dengan ulama-ulama berkelas internasional terjadi. Beliau berjumpa dan berguru dengan Kiai Sholeh Darat Semarang, Kiai Mahfudz Attarmasi dan Sayyid Umar Shatha. Atas arahan KH Abdul Hamid Alkudusi. Asnawi muda mantap untuk menetap di tanah suci dan mengganti nama menjadi HR. Ilyas yang selanjutnya ketika haji yang ketiga berganti nama menjadi HR. Asnawi.

Ketika di Mekah beliau menikah dengan Nyai Hj. Hamdanah (Janda Kiai Nawawi al-Bantani). Ini pernikahan beliau yang kedua setelah sebelumnya beliau menikah dengan Nyai Mudasih Putri Kiai Abdullah Fakih Langgardalem Kudus. Beliau bersama istri di Mekah tinggal di kawasan Sayamiah. Berkah kealimannya akhirnya beliau diminta untuk mengajar di Masjidil Haram. Di antara ulama-ulama besar tanah air yang pernah belajar dengan beliau adalah KH. Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), Kiai Hambali (Kudus), Kiai Mufid (Kudus) dan Kiai A Mukhit (Sidoarjo).

Pada waktu itu Serikat Islam (SI) berkembang pesat dan Mekah menjadi tempat paling strategis karena banyak sekali orang Indonesia berhaji dan bermukim di sana. Beliau sempat menjadi komisaris Serikat Islam di Mekah. Dalam beragama beliau sering mengambil pendapat yang paling hati-hati (ihtiyāt) seperti pendapat tentang seorang laki-laki yang memakai pakaian jubah terbuat dari sutra. Sayyid Husein Bek dari Mesir mengemukakan pendapat asal sutra tersebut bukan menjadi tujuan utama dan kuantitasnya tidak lebih dominan, maka diperbolehkan. Namun Kiai Asnawi tetap melarang seorang laki-laki memakai jubah terbuat dari sutra. Perdebatan berlangsung selama delapan tahun hingga akhirnya dimenangkan oleh beliau setelah tim peneliti turun ke pabrik pembuat jubah dari sutra dan pihak pabrik membenarkan bahwa kandungan sutra dalam jubah itu dominan.

Fatwa lain beliau yang masih terkenal sampai sekarang adalah fatwa haram memakai celana dan dasi karena jenis pakaian tersebut adalah identitas Belanda. Pemikiran-pemikiran inilah yang mempengaruhi murid-murid beliau seperti KH Bisri Syansuri (Denanyar), KH. Arwani Amin (Kudus), KH. Turaichan Adjuri (Kudus), KH. Ma’mun Ahmad Balaitengahan Kudus dll. Tradisi kehati-hatian dalam hukum ini adalah tradisi dari Sunan Kudus maka tidak heran Sunan Kudus mendapatkan gelar “Waliyyul Ilmi” tradisi ini sampai sekarang masih dilanjutkan oleh para ulama-ulama dan santri di daerah Kudus.

Pada tahum 1916 M. Raden Asnawi kembali ke tanah air dan menggalang konsolidasi dengan H. Agus Salim, Tjokroaminoto, Sama’un dan tokoh-tokoh lainnya untuk melawan Penjajah. Berkat pidato-pidatonya Raden Asnawi berkali-kali didera hukuman denda. Pada zaman penjajah Jepang pernah dituduh menyimpan senjata api rumah dan pesantrennya dikepung dan beliau ditangkap dan dipenjara di Pati.

Pada akhir abad 19, gerakan pembaruan Islam di Mekah oleh Muhammad Abdul Wahab dan di Mesir oleh Muhammad Abduh dan Sayid Rasyid Ridha dapat dirasakan pengaruhnya hingga di Indonesia. Pada tahun 1921 ada Kongres Islam di Cirebon yang berlangsung tanggal 31 Oktober hingga 2 November 1922, di mana di sana terjadi perdebatan yang sengit mengenai cara berinteraksi umat Islam Indonesia pada masa selanjutnya. Perdebatan terjadi antara ulama tradisional (diwakili oleh KHR Asnawi dan KH Wahab Hasbullah) dan ulama Muhammadiyah-al-Irsyad (diwakili Kiai Ahmad Dahlan dan Ahmad Surkati). Pihak Muhammadiyah mengecam cara beragama kaum tradisionalis yang yang berpegang pada mazhab sebagai sebab jumudnya gerakan Islam. Sebaliknya, ulama tradisionalis menganggap Muhammadiyah mau membuat mazhab baru dan seenaknya menafsirkan Alquran dan hadis tanpa merujuk ulama terdahulu.

Semenjak itu hubungan ulama tradisional dan ulama modern menjadi kurang harmonis dan di sisi lain pada tahun 1923 terjadi pertempuran antara pasukan Ibnu Saud (Wahabi) melawan pasukan Syarief Husein sebagai pemegang kekuasaan di kota suci Mekah. Yang akhirnya dimenangkan oleh pihak Ibnu Saud yang mempunyai pandangan wahabi.

Pada tanggal 25 Desember 1942 diadakan Kongres Islam Luar Biasa yang membicarakan tentang delegasi dari Indonesia ke Kongres Khilafah sedunia yang akan diadakan di Mesir Maret 1925. Kemudian Kongres al-Islam Central Commite Chilafah di Yogyakarta. Pada waktu itu KH Wahab Hasbullah wakil dari ulama tradisionalis mendesak agar delegasi yang dikirim nanti meminta Raja Ibnu Sa’ud untuk memberlakukan kebebasan bermazhab di tanah suci. Usul kiai wahab tidak ditanggapi oleh peserta kongres yang sebagian besar adalah kaum pembaru.

Untuk menyalurkan aspirasi itu dibentuklah Komite Hijaz (Cikal Bakal NU) selanjutnya 16 Rajab 1344H./31 Januari 1926. KH Wahab Hasbullah bersama KHR Asnawi, dan Hadrotusyeikh Hasyim Asy’ari mengundang seluruh ulama se-Jawa dan Madura melakukan Muktamar di Surabaya serta menetapkan Komite Hijaz untuk berangkat ke tanah suci. Terpilihlah KHR. Asnawi dan KH Bisri Syansuri dengan tugas utama meminta Raja Ibnu Sa’ud agar memberikan kebebasan bermazhab di tanah Hijaz dan tidak memaksakan paham wahabi. Namun akhirnya bingung atas nama apa mereka berbicara? Akhirnya Kiai Mas Alwi mengusulkan nama Jamiyyah Nahdlatul Oelama (ejaan lama). Dan hari itulah hari lahirnya jamiyyah Nahdlatul Ulama.

KHR Asnawi tercatat sebagai pendiri NU dan Mustasyar pertama bersama Syeikh Ahmad Ghanaim Almisri. Pada muktamar NU ke 3 ada keputusan Majelis Khamis untuk membentuk “Lajnah Nasihin” yang bertugas mensyiarkan NU ke seluruh nusantara bersama kesembilan kiai antara lain: Hadrotusyeikh Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KHR. Asnawi, KH. Bisri Syansuri, KH. Mas Alwi, KH. Maksum, KH. Mustain, KH. Abdul Halim, Ustaz Abdullah Ubaid.

Sejak itu beliau selalu menjadi ulama yang mensyiarkan NU dan tidak pernah absen menghadiri Muktamar NU (kecuali ketika beliau sakit) dan pada tanggal 25 J. Akhirah 1378H /26 Desember 1959M. Pukul 03.00 wib KHR. Asnawi berpulang ke hadirat Allah dalam usia 98 Tahun di dimakamkan di kompleks pemakaman Menara Kudus.

Beliau seorang ulama yang sastrawan. Sajak-sajak beliau banyak yang berbahasa Arab dan juga Bahasa Jawa, karya tulis beliau “Fasholatan” menjadi rujukan oleh umat Islam dalam melaksanakan ibadah salat sampai saat ini. Pengalaman penulis ketika mondok di Kudus sering menggunakan shalawat beliau yang berjudul “sholawat Asnawiyah” sebagai pujian-pujian di antara azan dan ikamah. Aman-Aman-Aman-Aman BiIndonesia Raya Aman.

Al-fātihah untuk beliau dan para ulama-ulama Nahdlatul Ulama di seluruh dunia. Artikel pertama kali diterbitkan di https://arrahim.id [HW]

Abdulloh Hamid
Co-Founder Pesantren.id, founder Dunia Santri Community, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di pengurus pusat asosiasi pesantren NU (RMI PBNU)

You may also like

Tinggalkan Komentar

More in Ulama