Tafsir Surah Al-A’raf Ayat 17 dan Bahaya Ego Trap: Sering Terjadi Tapi Tidak Kita Sadari

Melawan kapitalisme dan oligarki yang mengeksploitasi rakyat lewat banyak wacana dan aksi itu hal terpuji, tapi kalau kemudian menganggap melek isu ekopol sebagai satu-satunya standar “perjuangan” dan “luas wawasan”, ada yang salah di sana.

Ah, iya. Ego trap namanya.

Sebagaimana kita baca, term ego trap ini menunjuk pada jebakan yang terbungkus rapi dalam satu hal (yang seolah) baik, padahal tidak sama sekali. Iya, jebakan itu berasal dari ego kita sendiri. Menganggap hal yang kita lakukan sebagai standar tunggal perjuangan, kebaikan, kemuliaan, lebih dekat dengan Tuhan, dsb.

Contoh kasus di atas, saya saksikan sendiri saat jadi Kru Magang di LPM Fakultas. Sebagai maba utun lulusan pesantren yang babar blas tidak tahu wacana kitab putih, saya tentu manggut-manggut saja ketika salah satu senior di LPM (waktu itu) menjadi pemantik diskusi dan nyeletuk;

“Sebagai umat muslim, tentu kita menyayangkan saat Islam berada dalam abad kegelapan, di Barat sedang gegap dalam abad pencerahan. Tapi jangan kemudian kita anti Barat”

Sampai sini saya masih manggut-manggut. Kemudian mas-mas ini melanjutkan dengan begitu heroik;

“Seharusnya ini menjadi pemantik bagi kita semua untuk mengejar ketertinggalan, tapi awak dewe masih saja mbulet bahas kesetaraan laki-laki dan perempuan” ungkap blio sambil memegang papan putih kecil beserta spidolnya.

Wait, sepertinya ada yang salah. Kok tendensinya seperti meremehkan edukasi isu gender & perempuan ya? seolah-olah melek isu gender itu sama sekali bukan suatu kemajuan. Kata hati saya waktu itu yang hanya mampu saya dengar sendiri.

Setelah saya perhatikan, memang mas pemantik diskusi ini punya fokus di isu ekonomi-politik dan Hak Asasi Manusia. Tapiii, ada tapinya. Sayang sekali, ilmu dan pengetahuan yang ia punya malah membawa pada jebakan egonya sendiri, menganggap bahwa isu gender tidak lebih penting dari apa yang ia wacanakan itu.

Baca Juga:  Perilaku Menyebalkan "Salah Ora Gelem Ngaku Salah"

Padahal, kalau kita ulas lebih dalam, isu perempuan itu bukan sekedar isu “Keperempuanan” tetapi “Kemanusiaan”. Sebab apa? perempuan juga subjek yang utuh dalam kehidupan.

Ketika kita masih menganggap masalah perempuan itu semata urusan “Keperempuanan”, berarti kesadaran kita akan kemanusiaan perempuan memang masih sangat rendah.

Lebih jauh, Engineer dalam bukunya “Islam and Liberation Theology” mengungkapkan bahwa spirit Islam yang dibawa Nabi Muhammad sebagai teologi “pembebasan” itu juga meniscayakan perempuan untuk keluar dari kerangkeng patriarki dan mendapat akses yang sama dengan laki-laki.

Masih menurut Engineer, gerak pembebasan dalam konteks dunia modern, bahkan sekarang kita berada di zaman post-modern, tidak akan berhasil tanpa disertai dengan pembebasan perempuan.

Untuk itu, edukasi gender khususnya keadilan gender Islam, dalam konteks ini kami sebagai mahasiswa uwin, sebenarnya juga sama pentingnya.

Bukan masalah kalau kita suka baca buku-buku progresif, tapi ketika kita mulai meremehkan dan menganggap orang yang suka baca novel romance itu nggak lebih baik dari kita, nggak ada faedahnya, nggak guna, nah, itu ego trap.

Atau kamu suka baca buku kiri, merasa edgy, lantas menganggap penikmat sastra itu sama sekali nggak berkontribusi dalam kemajuan bangsa dan negara, itu juga ego trap.

Begitulah, ego trap dan perasaan superior dari yang lain sebab standar tunggal yang kita bangun sendiri memang begitu halus menjebak bahkan seringnya tak terasa. Apalagi di bulan Muharram begini snap whatsApp hingga instagram full pamflet amal.

Enggak papa dan bukan masalah ketika kita mengejar banyak pahala, hlaa wong itu memang dianjurkan di bulan mulia. Tapi jadi berbeda, ketika ibadah yang kita jalani menjadikan kita merasa lebih “dekat dengan Tuhan”, lebih saleh, lebih berpahala, dan lebih lebih lebih dari pada yang lain.

Baca Juga:  Mempercayai Hal-Hal yang Ghaib

Betul, ego trap bahkan bisa masuk dalam ranah spiritualitas. Hal tersebut sudah dikabarkan dalam surat Al A’raf: 17;

“Kemudian pasti aku (iblis) akan mendatangi mereka (manusia) dari depan, belakang, kanan, dan kiri mereka. Dan engkau (Allah) tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”

Jika kita baca ayat sebelumnya, ayat ini berkaitan dengan janji dan tujuan utama iblis untuk menyesatkan manusia sebab rasa iri dan sombong yang ada padanya. Menyesatkan dari arah kanan, Menurut Zamzam A.J. Tanuwijaya, seorang Mursyid Thariqah Qudusiyah yang juga dosen fisika di Institut Tegnologi Bandung (ITB) adalah menyesatkan melalui amal kebajikan.

Bagaimana bisa iblis menjerat manusia melalui amal kebajikan yang ia lakukan?

.

.

Dengan menjadikan pelakunya merasa lebih baik dari yang lain.

.

.

“Ih cah kae kok gak tau nderes yo, opo gak eman-eman posone”

(Dia kok nggak pernah baca Al Qur’an ya, apa nggak sayang pahala puasanya?)

.

“Jilbabnya dipanjangkan ya, Ukh. Seperti yang saya pakai ini, biar Allah rida sama kita”

.

Dua contoh kalimat yang saya kira sangat relate dan dekat dengan hati serta kehidupan kita. Mentang-mentang bisa istikamah nderes Qur’an, lantas melihat orang yang tidak nderes seperti dirinya kurang “berpahala”.

Sudah pakai jilbab Panjang, kemudian menjadikan jilbab panjangnya sebagai standar tunggal kesalehan. Begitulah jebakan ego kita bekerja. Ego trap dalam istilah Kiai Taufiq Damas adalah;

“Merasa diri lebih selamat di hadapan Allah dibanding orang lain; merasa diri bagian dari kelompok Allah dan sambil menuding orang lain sebagai bagian dari kelompok setan.”

Masih menurut Kiai Taufiq Damas, kalau dianalogikan sebagai pakaian, ego trap adalah manipulasi amal yang mewujud pakaian dan membawa pemakainya merasa lebih beriman dari yang lain, membuat pemakainya merasa punya hak untuk julid terhadap pakaian orang lain.

Baca Juga:  Hidayah (Tafsir surat Al-Baqarah ayat 16)

Termasuk ego trap, ketika kita menjadikan ngaji dan mondok sebagai standar tunggal kebaikan, kemudian menganggap bahwa yang tinggal di kos-kosan itu nggak syar’i dan jauh dari Tuhan. Padahal kita tidak tahu kondisi tiap orang, sangat mungkin yang tinggal di kosan itu sedang berusaha mencukupi hidupnya sendiri dengan bekerja.

Suatu privilese bagi anak pondok yang bisa fokus ngaji dan memperkaya diri dengan ilmu dan amal. Saya tidak sedang berkata bahwa kos-kosan itu lebih baik dari pada Pesantren maupun sebaliknya.

Hal yang ingin saya sampaikan, terkadang, bahkan seringkali, perasaan pernah nyantri atau sedang nyantri itu membuat kita merasa lebih dari yang lain. Menganggap pesantren sebagai satu-satunya medium Tuhan menebar kebaikan.

Padahal, sebagaimana kita tahu dalam ngaji ushul fikih itu, ada maslahah mursalah yang bisa kita maknai secara lebih jauh dengan: kebaikan itu tidak hanya ada dalam tembok dan pagar atas nama agama, ia ada dan tersebar di mana saja, fii kulli zaman wa makan.

Mengapa hal ini penting untuk diangen-angen? Supaya nggak terjebak dalam ego trap!

Nah, mumpung bulan Muharram, inilah momen paling tepat untuk ngerogoh jitok kita masing-masing. Jangan sampai ingin jadi pahlawan, eh jebule gur dadi setan!. []

Fia Maulidia
Kuliah di LPM Justisia. Santri bodoh yang tak kunjung pandai. Keep in touch.

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini