rasa Inferioritas

“The superior man blames himself. The inferior man blames others.” – Don Shula

Manusia itu diciptakan Tuhan dalam bentuk yang terbaik. Namun tidak berarti bahwa manusia itu sempurna, karena yang sempurna itu hanya Al Khaliq. Manusia juga tempat berbuat salah dan lupa. Juga menusia diciptakan dalam kondisi keluh kesah. Atas dasar itulah manusia memiliki sifat inferior dan superior. Diharapkan sifat-sifat ini bisa dimanaj dengan baik sehingga dapat berkontribusi untuk survive dan berkontribusi.

Menurut Alfred Adler, seorang ahli Psikologi Individual bahwa inferioritas menunjukkan situasi bahwa kita merasa tidak sebaik orang lain. Kita tidak memiliki nilai yang setinggi individu lain. Dengan kata lain kita merasa lebih rendah daripada orang lain.

Inferioritas dapat dikatagorikan menjadi dua, yaitu rasa inferioritas dan kompleks inferioritas. Bahwa rasa infrrioritas itu bersifat universal yang bisa menjadi kekuatan yang mampu memotivasi. Sedangkan kompleks inferioritas meruoakan suatu kondisi yang relatif jarang muncul yang cenderung lebih melemahkan daripada memotivasi.

Walaupun jarang muncul, jika kompleks inferioritàs tidak bisa dimanaj sengan baik, dampak negatif yang muncul terlalu banyak dan berat. Yang kadang-kadang bisa membuat gagal studi, karir, dan bahkan hidupnya. Lain halnya dengan rasa inferioritas, merupakan kondisi yang bisa mendorong hadirnya suatu kekuatan. Yang tidak hanya mampu membuat survive, melainkan juga mampu mendobrak dan memotivasi diri untuk meraih prestasi yang lebih gemilang. Inilah bagian dari kompensasi untuk menuju superioritas.

Memang kita sangat tidak dibenarkan berdiam diri dan mengisolasi diri dalam posisi inferioritas. Tindakan yang demikian akan membuat kita terancam eksistensi diri dan tidak survive. Karena itu sangat bisa difahami dan diterima adanya sejumlah kasus yang memiliki disabilitas dan kelemahan diri berhasil melakukan kompensai secara positif, sehingga berhasil spectakuler.

Baca Juga:  Mengapa Tuhan Tidak Menjauhkan Keburukan dari Kita?

Atas dasar itulah mari kita cermati beberapa orang dan tokoh terkenal yang mengalami inferior dan dapat melakukan kompensasi, sehingga mampu meraih superioritas yamg menyejarah.

Pertama, Napoleon Bonaparte (15 Agustus 1769 – 5 Mei 1821) yang badannya kecil dan pendek, yang sering dihina dan diabaikan atau dipinggirkan. Dengan kesadaran penuh atas kelemahannya itu, dia berhasil mengeksplorasi diri dan mengembangkan potensinya secara optimal, sehingga beliau berhasil menjadi raja Perancis yang berhasil membuat kerajaan Perancis berjaya, sehingga disegani oleh seluruh negara di dunia.

Kedua, Adolf Hitler (20 April 1889 – 30 April 1945) adalah yang dalam posisinya sebagai pribadi yang memiliki kelemahan di bidang sexual, importen, tidak memiliki nafsu seks normal. Kelemahan ini tidak berarti membuat inferior dan tak berdaya. Justru dia ingin tunjukkan bahwa dia bukan orang lemah, melainkan memiliki kemampuan dan kekuatan yang luar biasa. Akhirnya dia menjadi seorang politisi Jerman dan ketua Partai Nazi, menjabat sebagai Kanselir Jerman sejak 1933 sampai 1945 dan diktator Jerman Nazi, Hitler menjadi tokoh utama Jerman Nazi, Perang Dunia II di Eropa, dan Holocaust.

Ketiga, Helen Adams Keller (27 Juni 1880 – 1 Juni 1968) seorang penyandang tunanetra dan tunarungu (buta dan tuli) sejak kecil. Dengan keterbatasannya dia menutupi kekurangannya hingga meraih gelar doktor. Selanjutnya di menjadi seorang penulis, aktivis politik dan dosen Amerika. Pemenang dari Honorary University Degrees Women’s Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom, The Lions Humanitarian Award, bahkan kisah hidupnya meraih 2 piala Oscar. Dia menulis artikel serta buku-buku terkenal, diantaranya The World I Live In dan The Story of My Life (diketik dengan huruf biasa dan Braille), yang menjadi literatur klasik di Amerika dan diterjemahkan ke dalam 50 bahasa.

Baca Juga:  Belajar Menjadi Manusia Seutuhnya dari Saadi Shirazi

Keempat, Stephen William Hawking (8 Januari 1942 – 14 Maret 2018) mengalami sklerosis lateral amiotrof (ALS) yang lambat, dini, dan langka (juga dikenal sebagai penyakit saraf motorik atau penyakit Lou Gehrig) yang melumpuhkan tubuhnya secara perlahan selama puluhan tahun. Sepanjang hidupnya, ia berkomunikasi menggunakan satu otot pipi yang tersambung dengan alat bicara. Dari kelemahannya itu dia berhasil mengkompensasi berdasarkan potensinya dia bisa tunjukkan superioritasnya yang diwujudkan sebagai fisikawan teoretis, kosmologi, pengarang, dan Direktur Penelitian Centre for Theoretical Cosmology di Universitas Cambridge. Karya-karya ilmiahnya meliputi kolaborasi bersama Roger Penrose tentang teorema singularitas gravitasi dalam kerangka relativitas umum dan prediksi teori bahwa lubang hitam mengeluarkan radiasi (biasa disebut radiasi Hawking). Hawking adalah orang pertama yang memaparkan teori kosmologi yang dijelaskan dengan menggabungkan teori relativitas umum dan mekanika kuantum. Ia adalah pendukung interpretasi multidunia teori mekanika kuantum.

Inferioritas pada diri seseorang tidak boleh dibiarkan, karena merugikan dan mematikan diri sendiri dan orang lain. Namun jika inferioritas itu bisa dimana dengan baik, maka bisa menjadi kekuatan yang mampu menopang untuk meraih kesuksesan yang tak ternilai. Demikian juga superioritas yang dibiarkan dapat menimbulkan kehancuran karena bisa melupakan diri atas kekuasaan Tuhan yang menyertainya. Karena superioritas patut disyukuri, dengan memanfaatkan kekuatan dan superioritas untuk kemaslahatan banyak pihak.

Akhirnya mari kita menata hati dan pikiran kita dalam menerima anugerah Allah swt, Tuhan Yang Maha Kuasa, berupa kelemahan dan kelebihan secara bijak, sehingga mampu menjadikan inferioritas menjadi kekuatan dan menjadikan superioritas menjadi kemaslahatan yang memberkahi. Baik kelemahan dan kekuatan menjadi ujian yang bisa dihadapi dengan rasa kesabaran dan kerendahan hati. Dengan begitu kita menjadi orang yang tegar dan tawadlu. [RZ]

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini