pentingnya kemurnian niat

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah/98:5).

Dalam menghadapi tugas dan aktivitas hidup ada yang mengawali dengan semangat, ada yang malas. Ada yang bekerja dengan antusias, ada yang tak bergairah. Ada yang menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas, ada yang tidak selesai dan gagal. Kejadian-kejadian ini bisa disebabkan oleh faktor eksternal, apakah bersifat fisik atau sosial. Namun bisa juga, bahkan seringkali yang relatif lebih menentukan adalah faktor internal, utamanya motivasi atau niat.

Niat adalah amalan hati (amaliyah qolbiyah) sehingga hanya Allah swt dan pribadi masing-masing yang tahu soal niat atau motif seseorang dalam berbuat, beramal, atau beribadah. Secara bahasa (Arab), niat adalah keinginan dalam hati untuk melakukan suatu tindakan. Orang Arab menggunakan kata-kata niat dalam arti “sengaja”. Secara istilah menurut Imam Nawawi yang mengatakan niat adalah bermaksud untuk melakukan sesuatu dan bertekad bulat untuk mengerjakannya .”

Dalam konteks aktivitas, niat sangat terkait dengan kesiapan dalam mengawali tugas, semangat dalam mengerjakan tugas dan kemampuan menyelesaikan tugas dengan tuntas dan sukses. Jika tidak ada niat, bisa terjadi tugas tak tersentuh. Kegiatan dijalani secara serampangan dan tak serius. Penyelesaian tugas tidak diberesi hingga tuntas dan dibuat terlantar. Betapa menentukan ke beradaan niat dalam rangkaian aktivitas kehidupan. Jika tidak ada niat, perbuatan hanya berlangsung setengah-setengah dan tidak tuntas.

Dalam konteks beragama, kehadiran niat dapat menentukan diterima tidaknya Ibadah seseorang. Mari kita cermati salah satu sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya amal-amal itu bergantung kepada niatnya. Dan setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nnya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nnya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dikejarnya atau wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia (niatkan) hijrah kepada nya.” (HR. Bukhari-Muslim). Hadits ini mengisyaratkan bahwa setiap amal ibadah yang tidak diawali dengan niat, maka semuanya menjadi sia-sia.

Baca Juga:  Berdakwah dengan Hikmah dan Ahsan

Niat yang fungsional harus dilakukan dengan benar dan ikhlas. Perbuatan ibadah (ibadah khash) yang dilandasi dengan niat yang murni dan ikhlas, akan memiliki makna yang baik dan Insya Allah memperoleh pahala dari sisi-Nya, bahkan perbuatan yang bersifat duniawiyah (ibadah aam), misalnya membuat jalan atau jembatan, tapi diniati dengan baik juga bisa memperoleh paha dari-Nya. Sebaliknya perbuatan ibadah (khash) yang tidak dilandasi dengan niat yang baik dan bersih, misalnya beribadah ingin mendapat pujian, maka semuanya akan sia-sia. Demikian juga melaksanakan pekerjaan duniawiyah yang tidak dilandasi dengan niat yang bersih, bisa jadi pekerjaan tidak diselesaikan secara sungguh-sungguh, bahkan bisa dikorupsi, sehingga kualitas produknya jelek dan di bawah standar.

Untuk menjaga niat itu bukanlah mudah dan sulit sekali dalam prakteknya. Niat baik itu tidak pernah muncul dengan baik, hati kita tidak teguh. Pandangan hidup kita jauh dari idealis, bahkan cenderung pragmatis dan materialis. Demikian lingkungan masyarakat dan institusi serta sistem sosial di mana kita berhikmat tidak mendukung kita untuk bekerja dengan lurus. Betapapun hambatan yang potensial muncul, maka pada akhirnya kembali ke kita sendiri. Bagaimana kita bisa mulai dengan membersihkan dan meluruskan niat. Sekiranya semua di antara kita, berangkat dari masing-masing individu untuk luruskan dan bersihkan niat, maka hidup kita akan baik semua, hidup nyaman, damai dan bermartabat. Ibda’ binafsik. Mulai dari diri sendiri, saat ini, dan dari sini.

Niat yang melandasi ibadah dan pekerjaan kita tidak selalu bisa terjaga dengan baik. Tidak jarang terjadi serangan dari luar diri kita yang bisa mengganggu dan merusak niat kita. Karena itu secara rutin dan periodik perlu kita upayakan penyegaran dan updating niat, sehingga seluruh aktivitas kita tetap kontekstual dan fungsional. Untuk itu dibutuhkan kejujuran, obyektivitas dan keberanian agar tetap bisa memenuhi amanah sebagai hamba Allah dan khalifah fil ardhi. Ihdinash shiraathal mustaqiim. [HW]

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah