Mengenal Lebih Dekat Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili

Nama lengkap Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili adalah Taqiyyuddin Abu al-Hasan Ali (Ibn Athaillah, 2008). Nama Asy-Syadzili ini merujuk pada sebuah nama daerah di Afrika, sebuah kota yang bernama Syadzilah (Asy-Syadzili, 2017). Beliau lahir pada tahun 593 Hijriyah atau 1196 Masehi di desa Syadzilah, sebuah desa di negara Ghamarah Afrika, yaitu sebuah negara yang berada di ujung barat Benua Afrika yang sekarang dikenal dengan negara Maroko (Irawan, 2016; Mahmud, 2017). Beliau adalah seorang Imam al-Quttub yang memiliki nasab mulia dan termasuk golongan As-Sayyid Al-Habib karena nasab beliau bersambung sampai kepada Rasulullah SAW (Asy-Syadzili, 2017; Dalhar, 2007).

Abul Hasan Asy-Syadzilli merupakan pendiri tarekat Syadziliyah. Sebuah tarekat yang sangat masyhur dan tarekat ini memiliki jumlah murid yang sangat banyak sehingga menyebar ke seluruh dunia. Beliau dikenal sebagai tokoh sufi yang sederhana, tawadhu’, dan juga santun. Pengetahuan dan pemahaman beliau mengenai Islam sangat luas dan dalam.

Tarekat Syadziliyah memulai kemunculannya saat berada dibawah salah satu dinasti Al-Muwahhidun, yaitu Hafsiyyah di Tunisia. Kemudia tarekat ini berkembang di Mesir dan Timur dibawah kekuasaan dinasti Mamluk. Dalam perkembangannya, para penerus Asy-Syadzily memimpin dan membawa tarekat ini keluar daerah Timur dan mulai berkembang pesat seiring dengan penyebarannya. Di Indonesia sendiri, tarekat Syadziliyah ini berkembang pesat, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tarekat Syadziliyah ini memiliki lima prinsip yang disebut dengan istilah Al-Ushul Al-Khamsah yang dimana prinsip itu berisi :

  1. Ketakwaan kepada Allah secara lahir dan batin yang diwujudkan dengan sikap wara’ dan istiqomah dalam menjalankan setiap perintah Allah SWT.
  2. Konsisten mengikuti Sunnah Rasul, baik dalam ucapan maupun perbuatan.
  3. Hatinya berpaling dari makhluk, baik dalam penerimaan maupun penolakan dengan cara berlaku sadar dan berserah diri kepada Allah SWT (tawakkal).
  4. Ridha kepada Allah SWT, baik dalam kecukupan maupun kekurangan yang mereka wujudkan dengan menerima apa adanya (qana’ah)
  5. Kembali kepada Allah dalam keadaan apapun, senang maupun susah.
Baca Juga:  KH Maimoen Zubair, Waliyullah Asal Tanah Jawa (2)

Menurut Asy-Syadzili, kesufian seseorang bukan terlihat dari pakaian yang compang-camping, dan hal ini berbeda dengan kebanyakan pandangan pengamal thariqah yang lain. Asy-Syadzili menggunakan pakaian yang bagus dan berkualitas, menunggangi kuda yang perkasa, serta bekerja di ladang sebagaimana kebanyakan orang. Padahal ia adalah seorang sufi yang imannya sangat kuat, sangat wara’, ahli ibadah, dan juga istiqomah dalam membaca wirid. Semua harta yang dimilikinya bukan untuk dirinya, akan tetapi untuk orang lain. Beliau memiliki harta, tetapi harta tidak bisa memilikinya. Ini menjadi bukti kuat bahwasanya zuhud bukanlah meninggalkan dunia dari kehidupannya, akan tetapi zuhud adalah ketika dunia tidak masuk kedalam hati seseorang.

Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili menjelaskan kepada murid-muridnya tentang konsep dasar bagi seorang sufi, bahwa jalan menuju Allah ada empat hal, yaitu :

  1. Barangsiapa dapat menempuhnya maka salik (orang yang berjalan menuju Allah) termasuk orang yang shiddiq
  2. Apabila yang dapat ditempuhnya tiga, maka ia termasuk Wali Allah
  3. Apabila yang dapat ditempuhnya dua, maka ia termasuk orang yang tergolong Syuhada
  4. Apabila yang dapat ditempuhnya satu, maka ia termasuk hamba Allah yang saleh.

Maksud dari empat hal diatas itu adalah zikir, tafakur, fakir, dan cinta. Itulah yang disampaikan beliau kepada para murid-muridnya mengenai konsep dasar bagi seorang sufi. Hal ini mengingatkan akan pentingnya empat hal tersebut dalam perjalanan seorang sufi, sehingga hatinya selalu merasa tersambung dengan Allah, agar lebih cepat dalam menggapai tingkatan ma’rifat (Asy-Syadzili, 2008).

Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili menyatakan bahwasanya hendaknya tekad seorang manusia terfokus kepada tiga hal, yaitu tobat, takwa, dan waspada. Kemudian tekad ini diperkuat dengan tiga hal, yaitu : zikir, istighfar, dan diam sebagai bentuk penghambaan terhadap Allah SWT. Dan enam perkara tadi dibentengi oleh empat hal, yaitu cinta, ridha, zuhud, dan tawakal.

Baca Juga:  Berita Duka, KH Nawawi Abdul Djalil Sidogiri Wafat

Dalam usaha untuk mendidik dan mengarahkan murid-muridnya, Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili menghendaki semua mukmin dapat mi’raj sesuai dengan persiapan dan kemampuannya masing-masing, sehingga tujuan seorang murid untuk mencapai tingkatan derajat yang dituju. Beliau menjelaskan siapa saja yang telah mencapai titik puncak mereka dalam mi’raj adalah Ahlullah dan orang-orang khususnya.

Berbagai pengajaran dan pengetahuan yang diberikan Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili kepada para muridnya berdampak besar bagi keilmuan yang sekarang dipelajari melalu tarekat Syadziliyah. Salah satu murid beliau yang sangat masyhur dan ahli di bidang tasawuf adalah Ibn ‘Athaillah. Ibn ‘Athaillah banyak mengarang kitab-kitab yang bertema-kan tasawuf, bahkan karyanya itu menjadi induk dalam pengajaran ilmu tasawuf. Salah satu kitab karangan beliau yang terkenal adalah kitab Al-Hikam, yang dimana kitab itu populer di kalangan ulama tasawuf sebagai kitab yang membahas ajaran-ajaran tasawuf secara hakikat.

Ibn ‘Athaillah merupakan seorang Syekh pertama dari tarekat Syadziliyah yang menuliskan ajaran, pesan-pesan, doa-doa Asy-Syadzili. Beliau juga yang menyusun berbagai aturan tarekat ini dalam bentuk buku-buku dan karya-karyanya yang tak ternilai untuk memahami perspektif Syadziliyah bagi pengikut selanjutnya. Berkat beliau lah ilmu-ilmu yang Asy-Syadzili turunkan bisa terelisasikan sampai sekarang sehingga khazanah keilmuan tarekat Syadziliyah tetap terpelihara (Al-Taftazani, 1985, hal. 239-240).

Kitab Risalatul Amin fi Wusuli Li Robbil ‘Alamin Karya Abu Hasan Asy-Syadzili

Karakteristik dari Kitab Risalatul Amin fi Wusuli Li Robbil ‘Alamin adalah Tasawuf Aplikatif dengan menggunakan Akhlak-Sufistik. Bab-bab yang dibahas dalam kitab ini mencakup pembahasan mengenai amaliyah-amaliyah, akhlak, nasehat dan petunjuk yang mengandung unsur sufistik/tasawuf atau cara-cara membersihkan diri dari hal duniawi, adab, amalan-amalan, serta kondisi ruhaniyah para tokoh sufi, mulai dari Takhalli, Tahalli, dan Tajalli (konsep tasawuf akhlaki), Dan juga menjelaskan mengenai Syari’at, Thariqat, Ma’rifat, dan Hakikat (konsep tasawuf ‘amali).

Baca Juga:  Menjadi Indonesia

Kitab ini di tahqiq oleh Syekh Ahmad Farid Al-Mazidi yang kemudian diterbitkan oleh Darul Haqiqah di Kairo, Mesir. Sistematika penulisan di dalam kitab Risalatul Amin fi Wusuli Li Robbil ‘Alamin masih berupa manuskrip, yang maksudnya adalah belum terklasifikasi berdasarkan konsep tasawuf akhlaki maupun tasawuf ‘amali, karena kitab ini masih bersifat kumpulan-kumpulan dari ceramah-ceramah yang disampaikan oleh Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili.

Kitab ini menggunakan konsep pendekatan Tasawuf Akhlaki, yaitu ajaran tasawuf yang membahas tentang kesempurnaan dan kesucian jiwa yang dikaitkan dengan pengaturan sikap mental dan kedisiplinan tingkah laku serta menggabungkan dengan konsep Tasawuf ‘Amali, yaitu membahas tentang bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah dengan mengetahui bahwasanya tarekat memiliki aturan, prinsip, dan sistem khusus.

Materi dalam kitab ini mencakup maklumat dalam pencarian ilmu khususnya ilmu ruhaniyah. Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili menjelaskan bahwasanya ilmu dibangun atas empat dasar, yaitu melalu jalur isyarat, melalui jalur tatap muka, melalu jalur pemahaman, atau melalui jalur pendengaran. Hal ini menunjukkan bahwasanya ilmu khususnya dalam bidang sufistik tidak disandarkan hanya pada akal saja, akan tetapi lebih dari itu. Bahkan ilmu sufistik juga diperoleh dari ilham yang diberikan Allah SWT (Asy-Syadzili, 2008). []

REFERENSI

Ansori, M. R., Ibrahim, D., & Munir, M. (2019). Konsep Pendidikan Sufistik Menurut Syeh Abu Hasan Asy-Sadzily (Tela’ah Kitab Risalatul Amin Fi Wusuli Li Robbil Alamin). Muaddib: Islamic Education Journal, 2(1), 60-69.

Rizak, M. T. Konsep Ma’rifat Syekh Abu Hasan Asy-Syadzily dalam Buku Risalatul Amin Fi Al-Wushul Li Rabb Al-Alamin.

Muhammad A’dzomu Darojatan Indallah
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Ulama