Mencapai Hakikat Hidup yang Bahagia dalam Islam dengan Tidur yang Berkualitas

Mencari kebahagiaan dan mendapatkan kebahagiaan adalah pencapaian yang diinginkan manusia. Menurut Imam Al-Ghazali sendiri puncak kebahagiaan manusia adalah jika kita sebagai insan sudah mencapai tahap makrifat, yaitu telah mengenal Allah SWT. Sebab, ketahuilah bahwa kebahagiaan itu datang jika kita merasakan kenikmatan dan rasa senang dengan rasa syukur yang  luas terhadap apa yang sudah Allah berikan. Sedangkan kita tahu bahwa kesenangan setiap individu mempunyai standar dan kadarnya masing-masing.

Dimulai dari hal terkecil yang dapat kita rasakan yaitu nikmat tidur. Sekitar seperempat hingga sepertiga hidup manusia waktunya digunakan untuk tidur. Sehingga, tidur sebagai salah satu bagian terpenting pola hidup manusia. Pengertian tidur tersebut adalah suatu keadaan relatif tanpa kesadaran yang penuh ketenangan dan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda (Tarwanto&Wartonah, 2006).

Maka, bila kualitas tidurnya bagus maka akan bagus pula pola hidupnya yang akan menunjang untuk mencapai kebahagiaan. Manfaat tidur sendiri merupakan bagian dari proses mempertahankan fungsi fisiologis agar tetap normal. Tidur juga merupakan waktu yang diperlukan tubuh untuk memperbaiki dan menyiapkan energi yang akan dipergunakan setelah periode istirahat. Penggunaan energi secara penuh perlu diganti dengan istirahat pada waktu malam hari dengan tidur yang berkualitas dengan tujuan agar dapat beraktivitas dengan optimal dan produktif keesokan harinya.

Kualitas tidur menunjukkan adanya kemampuan manusia untuk tidur dan memperoleh jumlah istirahat yang sesuai dengan kebutuhannya. Namun tetap dalam durasi yang dibutuhkan manusia yaitu 5-8 jam perhari. Tak jarang, banyak diantara kita yang tidur lebih banyak  dari waktu yang seharusnya dibutuhkan dan sebagai konsekuensinya hal tersebut malah membuat waktu dalam hidup kita seakan terbuang begitu saja bahkan sampai melewatkan waktu kita untuk beribadah kepada Allah SWT.

Baca Juga:  Fikih Berkurban

Sebagaimana Firman Allah SWT: “Dan Kami jadikan tidurmu untuk beristirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan“ (An-Naba’/78: 9-11) .

Maka, kualitas tidur adalah suatu keadaan saat tidur yang dijalani seorang individu menghasilkan kesegaran dan kebugaran disaat terbangun.

Berikut hal yang dapat meningkatkan kualitas tidur:

  • Nyenyak dalam tidur, ada kesempatan pada tubuh untuk terlelap dan tidur REM (Rapid Eye Movement)
  • Waktu tidur yang tepat, kurang lebih 5-8 jam dalam sehari semalam. Bahkan, kekurangan jam tidurpun dianggap sebagai utang dan harus ditebus.
  • Memulai tidur dan bangun lebih awal, Ini sesuai sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Terlebih, tidur lebih awal memungkinkan proses detoksifikasi lebih optimal.
  • Merasa segar dan badan fit setelah terbangun dari tidur, dimana badan kita seperti ter-refresh ulang dan siap menjalani aktivitas sehari-hari.

Maka dari itu kualitas tidur berhubungan dengan meningkatnya rasa kebahagiaan. Tidur yang baik menjadikan seseorang merasa nyaman dan bahagia. Tidur yang buruk menjadikan seseorang merasa lelah, mudah marah, dan mudah terkena depresi (Khavari, 2002). Secara fisiologis, kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan individu dan meningkatkan kelelahan atau mudah letih. Secara psikologis, rendahnya kualitas tidur dapat mengakibatkan ketidakstabilan emosional, kurang percaya diri, impulsif yang berlebihan bahkan kecerobohan.

Fungsi dari tidur sendiri sangat berpengaruh terhadap pencapaian kebahagiaan yang hakiki baik dalam keberlangsungan hidup maupun dalam beribadah. Termasuk korelasi manfaat tidur dengan beberapa aspek kehidupan, salah satunya yaitu:

  • Tidur dan prestasi belajar: Kualitas tidur berhubungan secara positif dengan prestasi belajar. Kondisi fisik yang Kelelahan, meningkatnya stres, kecemasan serta kurangnya konsentrasi dalam aktivitas sehari– hari adalah akibat yang sering terjadi apabila waktu tidur tidak tercukupi dimana hal tersebut dapat menggangu pembelajaran.
  • Tidur dan pengendalian diri: Tidur berhubungan secara positif dengan pengendalian diri seseorang. Tentunya, otak memiliki sejumlah fungsi, struktur, dan pusat-pusat tidur yang mengatur siklus tidur dan terjaga. Ketika dilepaskan ke dalam aliran darah akan membuat mengantuk. Jika proses ini diubah oleh stres, kecemasan, gangguan, depresi dan sakit fisik maka dapat mengalami berbagai gangguan tidur lainnya yang berakibat dapat mengganggu kesehatan fisik maupun psikis.
Baca Juga:  Neoplatonisme (4)

Sebagaimana Allah SWT berfirman: “(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu tidur (mengantuk) sebagai penentraman dari-Nya” (Al-Anfal/8:11). Maka, tidak ada salahnya kita memulai sunnah-sunnah sebelum tidur ala Rasulullah SAW agar terciptanya kualitas tidur yang baik dan tercapainya hakikat bahagia dalam islam.

  1. Mengintrospeksi diri sebelum tidur. Bisa menjadi waktu yang tepat untuk diri sendiri dalam hal mengevaluasi diri, memaafkan kesalahan, dan mengikhlaskan dimana hal tersebut bisa menjadi sarana meditasi psikis.
  2. Dianjurkan berwudhu’ sebelum tidur, berdasarkan hadits Rasulullah SAW: “Apabila engkau mendatangi tempat tidurmu maka hendaklah engkau berwudhu seperti wudhumu untuk shalat…“. HR. Bukahri no: 247, Muslim no: 2710
  3. Berbaring di atas bagian tubuh yang sebelah kanan, dan meletakkan pipi di atas tangan yang sebelah kanan. Tidur di atas bagian tibuh yang sebelah kanan mempunyai manfaat, yaitu: Membuat seseorang lebih cepat terjaga sebab hati tergantung dengan arah sebelah kanan maka dia tidak menjadi berat karena tidur
  4. Membaca wirid-wirid yang sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW, seperti: ayat kursi, surat al-Ikhlash, dan al-Mu’awwidzataini (al-Falaq dan al-Nas) lalu meniup padanya, membaca surat al-Kafirun, lalu membaca sebagian doa dan dzikir…)

Dari pemaparan diatas semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua dan dapat kita implementasikan dikehidupan guna mencapai kebahagiaan dengan hal sederhana yang sudah mulai kita perhatikan. []

DAFTAR PUSTAKA

al‐Usyan, M. b. (2009). ADAB TIDUR dan BERMIMPI. Indonesia: Islamhouse.

Arroisi, J. (2019, Maret). Bahagia dalam Perspektif al-Ghazali. Kalimah: Jurnal Studi Agama-Agama dan Pemikiran Islam, 17.

Nasution, I. N. (2017, Agustus). HUBUNGAN KONTROL DIRI DENGAN PERILAKU SULIT TIDUR. PSYCHOPOLYTAN (Jurnal Psikologi), 1.

Sofia, N., & Sari, E. P. (2018, Juli). Indikator Kebahagiaan (Al-Sa’adah) dalam Perspektif Alquran dan Hadist. PSIKOLOGIKA: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 23, 91-108.

Sulistiyani, C. (2012). Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Kualitas Tidur Pada Mahasiswa. JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, 01, 280 – 292.

Wishiyanti, K., N.W.Ariawati, & Rusitayanti, N. (2017, Juni). PEMBERIAN BACK MASSAGE DURASI 60 MENIT DAN 30 MENIT. Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi, 03, 9-18.

Fatimah Azzahra Putri
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang

    Rekomendasi

    Khotbah

    Sumbangsih Wakaf dalam Pembangunan Nasional

    اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ شَرَع َالْإِنْفَاقَ لَنَا إِعْظَامًا وَتَكْرِيْمًا، أَشْهَدُ اَنْ لَا ...

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini