Parents teach children discipline for two different, indeed diametrically opposed, reasons: to render the child submissive to them and to make him independent of them. Only a self-disciplined person can be obedient; and only such a person can be autonomous.” – Thomas Stephen Szasz

Kedisiplinan merupakan kata lama, salah satu karakter penting dalam kehidupan manusia. Kata yang membuat orang terpuji dan terhormat baik di mata orang lain maupun di mata Tuhan. Bahkan disiplin dapat menyelamatkan seseorang dari berbagai kegagalan dan bisa berkontribusi secara signifikan untuk meraih keselamatan dan keberhasilan. Betapa berartinya seseorang yang terbiasa hidupnya disiplin dengan ketat.

Menyadari akan makna disiplin dalam kehidupan, kini di era Covid-19, disiplin memiliki makna yang lebih strategis dan dahsyat. Karena disiplin bisa menjadi faktor yang sangat penting, utamanya dalam pencegahan penyebaran Covid-19. Setiap insan diharapkan siap memasuki kehidupan dengan tatanan Normal Baru. Kini dengan cepat diharapkan kita bisa merubah gaya hidup sesuai dengan tatanan Normal Baru, baik terkait dengan aspek kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial, maupun aspek lainnya. Upaya ini tidaklah mudah, sangat dibutuhkan perubahan mindset dan karakter serta kesiapan untuk berubah.

Kita sering kali mengamati dan merasakan sendiri. Bahwa karena tidak disiplin, kita ketinggalan kereta atau pesawat. Karena tidak disiplin, kita tidak bisa masuk kelas ikut pelajaran dan tidak bisa mengikuti ujian. Karena tidak disiplin, lamaran pekerjaan kita ditolak. Karena tidak disiplin, kita gagal meraih juara. Karena tidak disiplin, kita mendapatkan kecelakaan. Karena tidak disiplin, kita ditimpa musibah penyakit yang kronis. Karena tidak disiplin, kita menjadi orang yang melupakan ibadah sholat. Masih banyak lagi kerugian baik berupa materiil maupun immateriil yang menimpa diri kita, jika kita tidak disiplin.

Baca Juga:  Tren Pengajian Online Pasca-Covid

Dengan memegang teguh sikap disiplin dan berperilaku disiplin, ada sejumlah keuntungan yang dapat dipetik, di antaranya adalah (1) bisa memudahkan dalam mencapai tujuan, (2) meningkatkan harga diri (Self-esteem), (3) mempengaruhi kehidupan orang lain, (4) menjamin keberhasilan yang lebih besar, dan (5) menikmati kehidupan yang menyenangkan. Sebaliknya jika kita tidak bisa tunjukkan, maka akhirnya kita (1) tidak akan mencapai tujuan kita, (2) tidak akan merasa ada kebaikan pada diri kita, dan (3) kehilangan respek dari orang yang biasa bergantung pada diri kita.

Kehadiran Tatanan Normal Baru bisa merupakan konsekuensi logis dari hadirnya era Covid-19. Walaupun ada yang kontra. Namun harus diakui bahwa Covid-19 secara langsung atau tidak langsung berdampak sangat luas terhadap kehidupan manusia di bumi. Pola hidup menjadi lain. Untuk itu dengan rasa optimisme, kita sambut Tatanan Normal Baru Yang membawa perubahan baru.

Agar Tatanan Normal Baru berjalan efektif dan efisien, sangatlah dibutuhkan sikap dan perilaku disiplin. Kita berperilaku sesuai dengan konvensi dan standar baru. Kita tidak hanya mengandalkan instrumen monitoring untuk mengawal implementasi Tatanan Normal Baru melainkan juga yang jauh lebih penting adalah terbangunnya, kesadaran setiap individu akan pentingnya Tatanan Normal Baru. Dengan begitu hidup tertib dan disiplin menjaga protokol kesehatan menjadi kultur baru dan perilaku baru. Disiplin menjadi karakter baru. Pada akhirnya disiplin bukan lagi didasarkan pada ketaatan terhadap peraturan, melainkan sudah menjadi karakter dan kebutuhan.

Akhirnya, ke depan disiplin diharapkan sudah bisa terkondisikan di keluarga, sekolah, rumah ibadah, tempat kerja, dan masyarakat. Jika disiplin di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial, dan agama (ibadah), sudah terjadi sejak anak usia dini, anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia, maka kehidupan setiap insan akan dengan mudah bisa meraih sukses studi, sukses karir, dan sukses hidupnya. Dengan begitu disiplin diharapkan disiplin sudah menjadi identitas, pakaian dan hiasan kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun. [HW]

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini