Nama KH. Hasyim Wahid atau dikenal dengan Gus Im tidak semasyhur kakak-kakaknya, misalnya Gus Dur atau Gus Sholah. Bahkan bila kita mencari berita mengenai beliau di dunia maya, akan bisa dipastikan pemberitaan tentang beliau sangat minim sebab beliau lebih banyak berkontribusi bagi bangsa dan NU di belakang layar alias tidak tertarik sering menampakkan diri di ruang terbuka. Kontribusinya selalu senyap menyapa forum-forum kritis anak muda secara diam-diam.

Namun, bagi kader-kader pergerakan dan kader-kader muda NU, nama Gus Im tidak begitu asing sebab pikiran dan gagasannya selalu menjadi injeksi pergerakan agar setiap kader muda Nahdliyin selalu terbuka wawasannya dalam memahami keislaman dan kebangsaan, bahkan tentang jati diri pergerakan. Kritisisme beliau dalam membaca isu-isu terkini sangat tajam menandakan pergaulan Gus Im sangat luas, bukan hanya komunitas NU melainkan komunitas lintas aliran dan ideologi bahkan dari komunitas nasional hingga global. Pastinya, buku-buku yang dibaca juga sangat luas, dan sangat mungkin jarang dikenal di komunitasnya sendiri, pesantren dan NU.

Karenanya, ketika setiap memberikan pencerahan, Gus Im selalu menyuguhkan pemikiran yang baru dengan analisis yang tajam dan kritis. Tidak jarang analisisnya berbeda dengan kebanyakan analisis para insan akademik yang hanya berpatokan pada prinsip-prinsip teoritis. Analisis Gus Im lebih banyak diperoleh dari pergaulan lintas aliran dan ideologi, di samping kecedasan bawaannya sejak kecil tumbuh dalam ruang pergerakan tokoh-tokoh penting NU.

Dua Sisi Menarik

Ada dua hal penting dan menarik membaca peran Gus Im dalam perspektif kalangan Muda NU. Pertama, daya kritisisme Gus Im menarik tidak hanya dilakukan untuk perbaikan di luar, tapi juga ke dalam, khususnya NU. Untuk NU bukan dalam rangka “meracuni” dari dalam perjuangan organisasi yang didirikan kakeknya, tapi sebagai refleksi bagi pelanjut juang perjuangan di NU agar tidak lepas kendali dari khittah perjuangan yang telah dititahkan para muassisnya, apalagi jika dikaitkan dengan Indonesia, NU dan keterlibatan pihak asing.

Bagi aktivis pergerakan, buku tipis berjudul “Telikungan Kapitalisme Global dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia telah menginspirasi banyak aktivis lintas ideologi. Penulis yakin, buku yang berjumlah 52 halaman terbitan LKiS tahun 1999 masih menghiasi rak ruang baca para aktivis era 90an akhir atau awal 2000an. Buku tipis, dengan penyuguhan yang matang dan kritis dalam membaca sejarah bangsa dan keterlibatan konspirasi kapitalisme global.

Salah satu tesis Gus Im dalam buku ini menyebutkan bahwa keberadaan bangsa Indonesia sebagai sebuah negara bangsa adalah berkat dari peran kapitalisme global. Karenanya, perlu peran strategis-ideologis ke depan dengan penguatan jadi diri dari semua anak bangsa agar tidak terulang kembali sebagai obyek permainan global. Tidak ada jalan lain, peran itu harus dimulai dari lingkungan NU. Jadi, menurut penulis, buku ini layak dibaca bagi kader-kader muda pergerakan, terlebih kader milenial, agar kiranya memiliki daya kritis dalam membaca isu-isu keislaman dan kebangsaan dalam konteks masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan berpijak pada warisan kritisisme Gus Im.

Kedua, al-hamdulillah, berkat sahabat Abdul Quddus Salam, penulis diberi kesempatan mengikuti “kilatan Ngaji pergerakan” bertajuk Membaca Peran pesantren dalam perspektif Global kepada Allah yarham Gus Im bersama KMNU se-Jatim di Pondok Pesantren Mojosari desa Ngepeh Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk sekitar pertengahan tahun 2000an. Penulis sangat terkesan dengan forum ini yang dilaksanakan tiga hari walaupun sudah 20tahun yang lalu sebab bisa belajar, sekaligus nyarkub ke makam pendiri Pondok Pesantren Mojosari, yakni KH Zainuddin Mojosari Loceret, salah satu kiai kharismatik di Nganjuk yang menjadi rujukan tokoh-tokoh pesantren dalam menimbah ilmu dan mengasah keberkahan.

Menariknya, walau Gus Im adalah putra kiai besar, yakni KH. Wahid Hasyim yang cukup dikenal perannya bagi NU dan bangsa, beliau sangat enjoy dengan penampilan apa adanya, bahkan tetap gayeng bersama panitia dan peserta. Namun, diskusi kritis yang dibawakan hingga larut malam banyak menyadarkan kader-kader muda NU, setidaknya penyadaran tentang pentingnya penguatan jati diri berbangsa dan menjadi kader NU sampai mati. Di samping, keharusan kader muda NU memahami segala bentuk “konspirasi jahat” agar setiap pergerakan bisa tepat sasaran dan tidak menjadi obyek pihak luar.

Akhirnya, Gus Im meninggalkan kita semua; tepatnya hari Sabtu 01 Agustus 2020 atau bertepatan dengan 11 Dzulhijjah 1441 H. Panjenengan mugi dilapangkan kuburnya Kiai bersama kakak, ayah, dan kakek seiring jasa panjenengan cukup besar bagi NU dan Bangsa, khususnya dalam memompa semangat kader muda NU untuk selalu kritis membaca dan memahami keadaan berbangsa dan bernegara dalam bingkai penguatan jati diri. Selamat jalan Kiai, Gus dan Guru Pergerakan. Lahul fatihah…[AH].

Dr. Wasid Mansyur
Kader NU Jawa Timur, Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya

    You may also like

    Tinggalkan Komentar

    More in Ulama