Fardhu Kifayah Jakarta
Saat tadi menyambut rombongan Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an Kudus, Bapak KH Dr. Ahmad Fathoni, pakar Qiraat IIQ Jakarta, bercerita tentang kisahnya dengan Mbah Kiai Arwani Amin Said, pendiri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Kudus, sambil beberapa kali menyeka dan menahan air matanya.
Pada tahun 1980-an, Pak Kiai Fathoni merupakan satu-satunya Dosen Ilmu Qiraat di IIQ, bahkan mungkin juga satu-satunya di Jakarta. Saat itu, kajian Qiraat masih sangat langka, tidak seperti sekarang, yang mulai diminati banyak orang. Referensi pun masih terbatas. Atas dasar itu, kemudian Pak Kiai Fathoni berinisiatif untuk sowan Kiai-kiai Ahli Qur’an. Karena beliau dulu ngajinya di Krapyak, Musyafahah kepada Kiai Ahmad bin Munawwir, beliau pun sowan ke beberapa Kiai di Yogyakarta, antara lain ke: Mbah Kiai Nawawi Pengasuh PP An-Nur Ngrukem dan Mbah Kiai Najib Abdul Qadir Munawwir cucu Kiai Munawwir Pengasuh PP Al Munawwir Krapyak. Dari kedua Kiai ini, Kiai Fathoni menemukan manuskrip Kitab “Faidhul Barakat fi Sab’il Qiraat” karya Mbah Kiai Arwani, yang merupakan salinan ngaji Qiraat Sab’ah Kiai Nawawi dan Kiai Najib kepada Mbah Arwani. Dulu, sebelum Kitab Faidhul Barakat dicetak, di dalam proses setoran Qiraat Sab’ah kepada Mbah Kiai Arwani, ada proses menyalin naskah Faidhul Barakat yang dilakukan oleh murid-murid beliau sebelum menyetorkannya kepada Guru.
Saat melihat naskah Faidhul Barakat tersebut, Kiai Fathoni terkesima dan takjub. Beliau pun ngendika kepada Kiai Nawawi dan Kiai Najib, bahwa beliau ingin menyalin atau memfotokopi  naskah itu untuk dijadikan pegangan dalam mengajar Ilmu Qiraat di IIQ Jakarta. Namun, keduanya tidak berani memberikan izin, sebab naskah itu, pada saat itu, hanya boleh diakses oleh para santri Qur’an yang sudah setoran Sab’ah kepada Mbah Arwani atau kepada Murid beliau, padahal Pak Kiai Fathoni belum pernah setoran ngaji Sab’ah kepada Mbah Arwani. Keduanya pun menyarankan Kiai Fathoni agar sowan langsung kepada Mbah Arwani.
Akhirnya, Kiai Fathoni memberanikan diri untuk sowan Mbah Arwani. Saat menceritakan kisah pisowanan ini, beberapa kali Kiai Fathoni menyeka dan menahan air mata, terkenang sekali kenangan beliau saat sowan dan bertemu untuk yang pertama kali dengan Mbah Kiai Arwani. Teringat kenangan, beliau diajak makan bareng, bahkan sampai diminta menginap di kediaman Mbah Arwani. Saat Kiai Fathoni matur bahwa beliau ingin mendapatkan naskah Faidhul Barakat fi Sab’il Qiraat dan memohon izin serta ijazah dari Mbah Arwani, Mbah Arwani hanya berkata singkat; “Fardhu Kifayah Jakarta!”.
Mbah Arwani lalu mengijazahkan Kitab Faidhul Barakat dan mengizinkan Kiai Fathoni untuk menyalin kitab tersebut, serta menjadikannya sebagai salah satu referensi pegangan dalam mengajar Ilmu Qiraat Sab’ah di IIQ, yang waktu itu masih sangat langka peminat dan pengkajinya. Belakangan beliau baru menyadari, bahwa ternyata maksud daripada dhawuh Mbah Arwani tadi adalah bahwa: hukumnya beliau mengkaji dan mengajarkan Ilmu Qiraat Sab’ah di IIQ Jakarta itu Fardhu Kifayah. Ketika sudah dilaksanakan, maka Ngaji Ilmu Qiraat bagi orang Islam se-Jakarta telah gugur kewajibannya. []
*Dalam Foto: Pak Kiai Fathoni tengah, Dosen Senior Ilmu Qiraat IIQ, bersama Rektor IIQ Ibu Hj Dr Nadjmatul Faizah, Penulis Mambaul Barakat Bu Dr. Romlah Widayati dan Bapak Direktur Pascasarjana IIQ Dr. M Azizan Fitriana
Kagem Mbah Kiai Arwani, Mbah Kiai Nawawi, Mbah Kiai Najib, Al Fatihah.
Sahal Japara
Penulis adalah Pemerhati Ilmu Qiraat, Abdi Ndalem Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an 1 Pati

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini