Dedikasi untuk Institusi

Meraih sukses dalam bekerja dan berjuang itu menjadi dambaan setiap orang. Banyak hal yang dilakukan untuk meraih sukses. Pengorbanan fisik dan mental juga dilakukan. Demikian juga dedikasi perlu ditunjukkan. Dedikasi bisa dialamatkan untuk diri sendiri, kelompok, dan institusi. Setiap orang memiliki pilihan sendiri-sendiri. Dedikasi kepada siapa yang menjadi obsesi.

Kemajuan institusi sangat tergantung pada orientasi dedikasi. Warga mengorbankan energi dan apapun yang dimiliki untuk kejayaan institusi. Mereka jadikan institusi sebagai pusat perhatian untuk mengabdi. Jika ini terjadi institusi akan terus bisa meraih maqam yang lebih tinggi. Namun sebaliknya jika pribadi sebagai orientasi dedikasi, yang terjadi semua aset institusi akan berkurang untuk memuaskan diri sendiri. Tidaklah heran dapat dijumpai praktek korupsi semakin tak terkendali.

Puaskah pribadi-pribadi yang memiliki orientasi dedikasi untuk diri sendiri? Memang orientasi pribadi itu pada saat tertentu bisa merasa tercukupi walaupun tidak harus berhenti. Karena bisa saja orientasi dedikasi bergeser ke kelompok yang memiliki mimpi sendiri. Pada kondisi ini anggota kelompok yang sevisi seringkali berani tunjukkan perilakunya dengan menjadikan institusi sebagai objek untuk bisa mendongkrak keagungan kelompok dan setiap orang yang ada di dalamnya. Tidak jarang kelompok lemah lainnya menjadi korbannya. Jika kondisi kelompok yang mendominasi, maka bisa jadi berbuat tirani.

Memang kekuatan pada tingkat kelompok itu jauh lebih kokoh dan efektif. Pribadi-pribadi yang ada di dalamnya bisa saling menguatkan. Yang semakin sulit ditaklukan. Dedikasi untuk kelompok memang ideal. Lebih banyak disukai. Apalagi bisa membuat kemasan bahwa kelompok yang didukung mayoritas bisa juga mengklaim seakan-akan mewakili institusi. Yang demikian sah sah saja. Apapun kondisinya, kelompok ya tetap kelompok. Dengan begitu dedikasi kelompok tidak selalu bisa diklaim sekaligus dedikasi untuk institusi.

Dedikasi untuk pribadi dan dedikasi untuk kelompok versus dedikasi untuk institusi pada hakekatnya tidak bersifat mutlak. Semuanya sangat tergantung pada yang memaknai. Namun umumnya sulit dilakukan, karena prakteknya dedikasi untuk pribadi dan dedikasi untuk kelompok ya berhenti sampai di situ. Bahkan tidak mau peduli terhadap institusi.

Dedikasi untuk institusi adalah sesuatu yang ideal. Yang memang menjadi keinginan semua. Dengan dedikasi untuk institusi, berarti tidak hanya akhir dari pengabdian itu dapat berdampak positif terhadap institusi saja, tetapi dalam waktu sama juga dapat berdampak terhadap kelompok dan pribadi. Dalam kondisi kepemimpinan institusi seperti ini lebih mudah memberikan jaminan berlakunya kepemimpinan yang adil dan inklusif.

Akhirnya agar bisa mewujudkan dedikasi untuk institusi, kita harus bisa mulai dengan meluruskan hati. Bersihkan niat untuk mengabdi. Kita seharusnya mengubur ambisi kelompok dan pribadi. Semuanya ditransformasi menjadi institusi. Pada hakekatnya dedikasi untuk institusi adalah cerminan dari amanah khalifah filardhi. Kita harus bisa menguasai diri. Mengendalikan diri. Memupuk sifat terpuji. Abdikan dedikasi untuk institusi dan negeri yang Insya Allah diridhoi oleh Ilahi Rabbi. []

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini