Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti

Koran Tempo terakhir berhenti pada tanggal 31 Desember 2020 mengakhiri tahun 2020 yang dipenuhi pandemi. Peristiwa ini mengingatkan saya akan sebuah film, The Secret Life of Walter Mitty (2013).

Film ini diperankan oleh tokoh komedian Ben Stiller sebagai Walter Mitty. Ia bekerja di majalah Life. Mendengar akan menjadi majalah online dan memangkas karyawan–tentu saja–bagian cetak, Walter Mitty diberitahu fotografer majalah life Oconnell, tentang sebuah foto paling spektakuler, dan paling cocok untuk edisi terakhir majalah Life. Namun foto itu sudah lama hilang dan sulit ditemukan.

Melalui hidupnya yang putus asa, Mitty melakukan petualangan untuk mencari foto tersebut. Dari Afganistan hingga Greenland. Melalui petualangan ini, mitty mendapatkan makna dari kehidupan masa lalunya. Singkat kata, ia gagal menemukannya. Namun apa dikata. Saat edisi terakhir terbit, justru wajah Mitty yang duduk kelelahan dekat gedung tempatnya bekerja adalah cover foto majalah tersebut. O’connell yang mencuri pandang lelaui lensa kameranya.

Ternyata, edisi terakhir majalah life dipersembahkan bagi Mitty. Sosok yang mewakili pekerjaan masa lalu. Jika kita perhatikan, para pelukis digantian fotografer, para fotografer analog kini mengeluhkan fotografer digital, dan para fotografer digital mulai diampit untuk memiliki kemampuan software editing dan seterusnya. Mesin cetak dikubur oleh media online. Dan seterusnya dan seterusnya.

Semua pekerjaan tersebut sebenarnya sangat bergantung pada teknologi, oleh sebab itu mudah bagi perubahan zaman melindas mereka. Apa yang dilakukan pelukis selama berhari-hari diselesaikan oleh fotografer hanya dengan bantuan jepretan cahaya dan dengan tingkat akurasi–menurut Barthes–imitasi yang sempurna.

Oleh sebab itu saya selalu mengulang apa yang dikatakan oleh Albert Einstein, “Perkembangan teknologi seringkali menyebabkan lebih banyak pengangguran daripada meringankan beban pekerjaan (Why Socialisme, 1949).”

Baca Juga:  Corona: Legenda Hutan yang Hilang

Jika, seluruh pekerjaan kita tergantung pada teknologi, kita tidak memiliki waktu untuk mengejar karena teknologi terus berkembang tiap detiknya dan selalu mencoba melampaui dirinya sendiri. Manusia, terbatas. Tidak ada orang yang bisa meloncati dirinya sendiri kata seorang filsuf. Kecuali teknologi.

Setiap teknologi memiliki algoritma. Di Barat, Teknologi berpihak pada liberalisasi namun tidak bisa lepas dari nilai-nilai Barat. Pernahkah anda bertanya. apakah sesuatu yang objektif lambang menu window Microsoft berada disebelah kiri bawah?

Kenapa jendela berada dipojok bawah?

Mengapa tombol apple di Macbook ada dipojok kiri atas?

Mengapa tidak mudah untuk bermigrasi dari Microsoft ke Apple?

… dan seterusnya dan seterusnya. Sebab setiap desain teknologi terbatas pada ruang, waktu dan budaya.

Cultural studies mampu menangkap fenomena ini. Oleh sebab itu teknologi selalu memiliki ciri-ciri kultural. Kita yang percaya teknologi objektif dan bisa digunakan secara universal tentu terlalu menyederhanakan persoalan. Suatu produk budaya bisa diterima oleh kebudayaan lain tentu dengan penetrasi-penetrasi yang cukup intens.

Kita menyukai MCD karena cabang restoran mereka di Indonesia telah melakukan penyesuaian lidah dan membentuk ayam goreng yang ramah terhadap lidah Indonesia. Begitupun Mie Korea. Penetrasi budaya telah dilakukan secara masif melalui K-Drama, seolah-olah mie Korea sangat cocok bagi kita. Harapan kita yang tinggi atas imajinasi tersebut mempercepat penetrasi sehingga mudah saja bagi kita menerimanya.

Berbicara teknologi, Internet di China berpihak pada keputusan partai komunis, oleh sebab itu di Barat sering dicibir sebagai ‘Intranet.’ Transaksi data, bukannya menyebar keluar tapi terpusat dan bisa dikendalikan pemerintah. Tentu setiap bangsa berhak membentuk teknologi sesuai ekosistem mereka masing-masing.

Para guru berkali-kali ditawari berbagai perangkat teknologi, namun WhatsApp tetap menjadi andalan. Bukan karena para guru tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan aplikasi-aplikasi terbaru. Tapi secara kultural beberapa teknologi mesti melakukan penetrasi. Misal WA sudah menjadi bagian kehidupan jauh sebelum pandemik dan masuk era zoom-zooman.

Baca Juga:  Dorong Santri Kuasai Media, DINUN Adakan Pelatihan Konten dan Videografis

Saya kira, mengikuti teknologi ada batasnya. Dan kita yang membatasi diri pada apa-apa yang bisa kita terima secara kultural dan karena itu kita ngotot untuk mencari yang paling ‘fit’ untuk kita (lihat, Origin of Species), tentu saja, kita tidak akan mudah begitu saja ‘diombang-ambing’ oleh perubahan zaman. Ketika saya menulis ini, teknologi yang saya sebut sedang berubah memperbaiki dirinya terus menerus. Kita menamakannya ‘Kecerdasan Buatan.

Iman Zanatul Haeri
Guru Sejarah MA Al-Tsaqafah Said Aqil Siroj Foundation, Alumnus Universitas Negeri Jakarta.

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini