Menyelami Samudera Kesepian: Refleksi QS Ali-‘Imran : 191

Manusia adalah ciptaan Allah Swt yang kontradiktif,  ia diciptakan dari tanah tembikar, tetapi memiliki substansi yang mulia yakni Roh Tuhan. Kisah Nabi Adam As adalah landasan manusia dalam memahami hakekat dalam dirinya. Tanah dan Roh Tuhan merupakan simbol metaforis dari Al Qur’an itu sendiri dalam membedah esensi manusia. Istilah tanah disimbolkan dengan simbol kerendahan, kasar, kokoh, tetapi simbol Roh Tuhan dimaknai dengan simbol kemuliaan keagungan, keilmuan. Dua elemen tersebut sangat kontradiksi, lantas bagaimana kita untuk memahami hakikat sejati manusia?

Kedua sifat tersebut sebenarnya menyadarkan kita akan penuh kehati- hatian dalam menjalani hidup, Jika para sosiolog mengatakan “Tiada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri”. Patut kita pegang sebagai manusia, bahwa ia terus bergerak dan memiliki kehendak bebas untuk memilih posisi derajat diatas malaikat atau setan. Kombinasi Tesis (Roh Tuhan) dan Antitesis(Tanah) menegaskan secara eksplisit bahwa manusia adalah makhluk yang selalu tetap bergerak(Homo Moves). Dengan gerakan  fisik maupun metafisik itu semua adalah perjuangan manusia untuk mempertahankan hidupnya, di dunia maupun di yaumul qiyamah.

Dengan bantuan Roh Tuhan manusia akan mengalami mikraj, yakni terbang tinggi bersama imannya melalui kemuliaan. Tetapi untuk melakukan hal tersebut manusia harus menyelami samudera kesepian. Terus untuk apa melakukan hal tersebut? Artikel ini akan menjawab pertanyaan tersebut dengan Radix (dalam).

Kesendirian adalah Doa

Kehidupan membuat kita lelah, letih, lesu akan nafsu untuk tujuan kita, kita mencari apa, dan bagaimana terkadang membuat kita sering putus asa. Padahal Allah sendiri menyindir kita dengan mengatakan “Laa Tahzan, Innallaha Ma’ana” jangan bersedih aku bersama kalian. Terminologi “Aku” dan “Bersama kalian” adalah bentuk muhasabah kita, atas kehendak kita dengan memakai esensi Roh Tuhan atau Tanah. Kesendirian itu adalah “Miftahul Hikmah” gerbang untuk membuka Kebijaksanaan (Sophos). Ingat firman Allah dalam QS Ali-‘Imran ayat ke 191 yang berbunyi

Baca Juga:  Refleksi Tahun 2020 & Taushiyah Kebangsaan Nahdlatul Ulama Memasuki Tahun 2021

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّار

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Kata يَذْكُرُوْنَ merupakan fi’il mudhori’ dan jama’ mudzakkar yang memiliki arti eksplisit, orang- orang yang mengingat (dzikr). Mengingat tersebut makna utama adalah dzikir dan membaca Al-Quran tetapi secara luas dan filosofis, mengingat juga dimanifestasikan dengan berjuang untuk kemanusiaan, mengingatkan kejahatan, mempertahankan kebenaran dan keilmuan. Tetapi praktek mengingat Tuhan bukanlah dengan selalu menyendiri dengan memperbanyak mengingatnya, Tuhan sudah besar dengan AsmaNya. Tugas utama manusia adalah mengkorelasikan tindakan sesuai firman nya. Tetapi itu hal yang sulit, manusia tidak akan pernah tahu kapan ia membangkang.

Tetapi kesendirian itulah yang akan menyebarkannya, bahwa sendiri itu adalah doa, yakni harapan untuk tetap berjalan diridhoiNya, mungkin kesalahan tidak akan pernah terhindar darinya. Tetapi Raja’ dan Khauf adalah sifat utama yang harus dimiliki manusia, kita adalah boneka Tuhan yang harus tetap terjalin benang dengan penggerakNya.

Maqam Asbab dan Maqom Tajrid adalah Sebuah Perjuangan

Pergulatan eksistensial manusia antara keburukan dan kebaikan adalah hal yang keniscayaan yang pasti kita tidak bisa menghindari dosa, dan adanya dosa pun bukan kita selalu menyendiri merasa bersalah atas diri sendiri, kata Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah Al Iskandari mengatakan

رادَاتُكَ التَّجْرِيد مَعَ اِقَامَةِالّلهِ اِيَّاكَ فِى الْاَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ ، وَاِرَادَتُكَ الْاَسْبَابَ مَعَ اِقَمَةِاللّهِ فِى التَّجْرِيْدِ اِنْحِطَاطٌ عَنْ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

Baca Juga:  Tafsīr Al-Ijāz Fi Taisīr Al-I’jāz Al-Anbiya: 44-45

Keinginanmu untuk ber-Tajrid (Mengkhususkan ibadah dan meninggalkan usaha mencari rejeki)  sedangkan Allah menempatkanmu di dalam al-asbab (sebab akibat , melakukan usaha mencari rejeki) adalah termasuk ke dalam syahwat yang tersembunyi . (Hikam)

Ahlul Asbab maupun Ahlul Tajrid itu semua adalah kemuliaan Allah yang diberikan kepada kita, keinginan kita untuk menjadi salah satu, padahal kita sudah ditakdirkan dalam maqam tersebut, itu merupakan syahwat yang tersembunyi, seolah- olah kita tidak mempercayai diri sendiri dan Tuhan, karena pada dasarnya Tuhan selalu membersamai kita dalam setiap perjuangan. Dengan kesendirian manusia akan mengerti juga tentang tipologi akal menurut Al- Jabiri, yakni akal pembentuk, akal yang murni dari usaha dirinya sendiri untuk memahami realitas yang terjadi, dan akal membentuk yang diperoleh dari lingkungan yang membentuk kebudayaan dan pemikiran yang ia sumbangsihkan untuk masyarakat.

Di depan Publik maupun dibelakang layar, bukan menjadi orientasi, tetapi gerakan yang membawa kita kepada tujuan yang mulia itulah value dari manusia. Tetapi tajrid atau asbab terkadang keduanya akan saling menemui kita dalam fenomena yang terjadi. Disaat itulah kesendirian akan sangat bermakna selain mengetahui penerimaan diri dan takdir (Amor Faith), kesendirian juga mengajari kita untuk dikotomi kendali, maksudnya kebahagiaan yang terjadi, yang mana kita bisa membedakan kejadian itu dari diri dalam diri sendiri atau hal eksternal.

Misalnya sebuah penghianatan, cemoohan, diskriminasi, itu merupakan bentuk eksternal yang kita tidak bisa kendalikan, maka management diri merupakan bentuk hal yang urgen untuk membentuk karakter sabar yang universal. Selain itu dengan kesendirian kita akan diajari tentang makna kejadian yang terjadi. “Guru yang paling berharga adalah diri sendiri”, Hidup adalah rangkaian susunan acara, maka nikmatilah prosesnya sampai doa (harapan), untuk cita- cita (himmah) kita yang belum terealisasikan, dan diteruskan oleh generasi kita. Sekian semoga bermanfaat. []

Baca Juga:  Tafsīr Al-Ijāz Fi Taisīr Al-I’jāz Al-Anbiya': 38-39

 

Sumber Referensi:

Syariati Ali, Sosiologi Islam: Pandangan Dunia Islam dalam Kajian Sosiologi Untuk Gerakan Baru(Rausyan Fikr Yogyakarta November 2011).

Al Hikam Ibnu At-thoillah Al- Iskandary

Arip supraseptio, https://www.jejakonline.com/tajrid-atau-asbab-anda-yang-mana/

Aksin Wijaya, Menalar Islam: Menyingkap Argumen Epistemologis Abdul Karim Soroush(IRciSoD Yogyakarta Desember 2021).

Krisna Wahyu
Mahasiswa UIN SATU Tulungagung, seorang penulis buku Mahabbatul Haqq, Kekasih Mimpi Dalam Doaku.

    Rekomendasi

    Minder Beragama
    Opini

    Minder Beragama

    Ada dua gejala minder dalam beragama. Dua pola ini berawal dari tengok-menengok agama ...

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini