Akhir-akhir ini, saya seringkali dicurhati teman tentang permasalahan hidup. Terutama masalah ekonomi. Entah karena memang saya yang sudah mulai tua dan dianggap sesepuh, atau memang teman sebaya saya yang memang sedang masanya berjuang dalam tataran tersebut. Saya hanya bisa membantu mendengarkan saja, dan saling membagi pengalaman usaha. Entah itu usaha dhohir, ataupun usaha khofi. Dan dihampir semua sesi berbagi cerita ini, seringkali berujung pada pertanyaan: amalan atau wiridan apa yang bisa dengan cepat menyelesaikan permasalahan hidup, terutama masalah ekonomi ini?

Tidak hanya teman yang sudah pulang, bahkan banyak dari santri sekarang yang juga mempertanyakan hal sama. Banyak dari mereka yang minta ijazah yang paling ampuh, dan bisa menjadikan mereka sukses seketika. Kesuksesan versi anak muda, tidak jauh dari berlimpahnya harta dan kepopuleran saja.

Setelah beberapa kali saya berfikir, saya tidak bisa langsung menjawab bila ditanya seperti itu. Namun semua pertanyaan itu bisa sedikit saya urai ketika mendengar bapak ngendikan di beberapa kesempatan. Beliau yang sudah dianggap oleh beberapa kalangan adalah contoh santri sukses, pasti sering sekali ditanya amalan apa yang membuat beliau bisa seperti ini. Dan bapak pasti tidak pelit memberikan amalan apa yang beliau istiqomahkan. Apapun yang beliau amalkan, tidak pernah disembunyikan. Semua diberikan kepada siapapun yang meminta. Namun bapak tidak lupa memberikan pesan:”amalan niku butuh wektu, wong nandur kelopo mawon butuh bertahun-tahun damel panen, nopo maleh wiridan seng panene seumur hidup(setiap amalan itu pasti butuh waktu untuk berhasil. Sedangkan menanam pohon kelapa saja butuh bertahun-tahun untuk memanen, apalagi menanam wiridan yang panennya nanti seumur hidup)”.

Bapak juga kadang guyon dengan santri:“lek dungone njenengan ndang dikabulne sakniki, mangke pondoke gak cukup damel parkiran mobil. Hehehe(kalau semua doa anda segera dikabulkan saat ini, nanti pondoknya tidak cukup buat parkiran mobil. Hehehe)”. Guyonan ini muncul karena bapak berfikir bahwa banyak dari santri Kwagean yang sangat mungkin doanya minta alphard, pajero, fortuner, atau mobil-mobil impian yang lain. Yang mana, bila semua doa ini dikabulkan sekarang, ya pondoknya tidak cukup menampung.

Baca Juga:  Dua Kitab Syaikhona Kholil Bangkalan akan Diterbitkan Ulang

Jadi, pesan bapak bagi para santri:”pun sakniki dungo mawon. Wiridan mawon damel nyuwon nopo mawon. Nyuwon dunyo geh mboten nopo-nopo. Wong tingkatane nembe semonten. Mbuh mangke terkabule kapan, niku kersane gusti Allah(sudah, pokoknya sekarang lakukan saja berdoa meminta pada Allah. Wiridan apapun demi hajat apapun. Meskioun itu meminta dunia, tidak masalah. Karena memang tingkatannya baru segitu. Entah kapan terkabulnya doa, itu semua terserah Allah)”.

Terutama bagi yang masih dipondok, bapak berpesan:”Dados wong ngaji niki rumangsane kulo barokahe ketok. Lek ten pondok dereng ketingal, kalah karo kiaine. Tapi lek wes neng omah mulai ketok. Geh ngoten niku(jadi santri yang mau mondok, dan ngaji dipondok itu pasti nanti barokahnha kelihatan. Ketika masih nyantri dipondok belum kelihatan, kalah sama kiainya. Tapi kalau sudah dirumah, akan mulai kelihatan. Ya memang seperti itu biasanya)”.

Pesan terakhir ini, menurut saya pribadi sangat cocok dengan apa yang terjadi dengan saya sendiri, dan juga terhadap banyak alumni Pondok yang saya kenal. Bahwa kebarokahan ngaji, amalan, dan wiridan yang sudah diusahakan sejak dipondok, perlahan memperlihatkan barokahnya saat dirumah. Jadi, sabar saja berproses, jangan memaksa segera memanen. Dan bagi yang belum pernah menanam, jangan protes bila tidak pernah panen.

Bagi anda yang ingin memanen, belum ada kata terlambat menanam. Dimananpun sekarang anda berada, mulailah menanam. Bila nanti bukan anda yang memanen, pasti akan dipanen oleh anak keturunan anda. Menurut keterangan ulama’, bisa dipanen sampai tujuh turunan. Wallahu a’lam.

#salamKWAGEAN

Muhammad Muslim Hanan
Santri Alumnus PIM Kajen dan PP Kwagean Kediri

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Doa