Pustaka

Resensi Buku: Menjadi Generasi Optimis dan Nasionalis

Generasi muda abad ini sangat akrab dengan teknologi, tidak jarang kepiawaian anak SD zaman sekarang menggunakan gadget, jauh lebih pintar daripada orang tuanya sendiri. Keadaan sekilas terlihat ada kemajuan di satu sisi, namun sejatinya ada kemunduran yang lebih berbahaya bagi kehidupan mereka di sisi lain. Semakin terjaminnya akses internet dengan gadget, semakin tinggi pula tingkat ketergantungan mereka terhadap teknologi ini. Sehingga, candu generasi muda pada gadget terus mengakar dan mengancam masa depan mereka.

Ketidaksadaran generasi muda yang diperbudak oleh teknologi, menjadikan mereka lebih banyak menghabiskan mayoritas waktunya untuk kesenangan sementara. Akibatya, bukan hanya depresi berlebihan yang terjadi ketika tidak mengecek gadget, lebih dari itu sikap apatis juga tertanam dalam diri mereka. Padahal, kegigihan merupakan salah satu syarat utama untuk mewujudkan target, harapan dan cita-citanya. Proses kesungguhan yang dilakukan seseorang, menjadi salah satu penentu keberhasilan dalam menggapai tujuan.

Optimisme sangat penting bagi setiap orang, terutama generasi muda. Menjadi generasi optimis berarti sikap seorang pemuda yang penuh percaya diri dalam mencapai tujuan maupun menghadapi suatu masalah. Pemuda optimis selalu mempunyai kecenderungan untuk mengambil pandangan positif dan memiliki keberanian mengambil resiko demi mewujudkan cita-citanya. Tentunya, sikap optimis harus tetap dibatasi, optimisme yang hati-hati, bukan optimisme yang menghalalkan segala cara.

Kemudian, kecintaan pada negeri mulai hilang pada sebagian pemuda saat ini. Anggapan mereka, bahwa kehidupan adalah hak diri sendiri tanpa perlu memberi kontribusi bagi negara maupun lingkungan di sekitarnya. Lebih parah lagi, maraknya dogma radikalisme yang masih tersebar di sosial media justru didominasi oleh kalangan generasi muda. Hal ini tentunya sangat mengganggu stabilitas negara dan ancaman yang bisa berujung pada perpecahan.

Baca Juga:  Mendidik Buah Hati

Sejalan dengan dinamika kehidupan pribadi maupun sosial pada generasi muda, buku Menjadi Generasi Optimis & Nasionalis hadir untuk mengajak generasi muda dalam membangun kecintaan pada negara, serta gigih untuk mencapai tujuan dan cita-cita. Pemuda dahulu telah membuktikan sikap nasionalisme dengan memperjuangkan kemerdekaan dari belenggu penjajah. Oleh karena itu, ekspresi nasionalisme pemuda sekarang adalah menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.

Optimisme dalam Pandangan Islam

Kegigihan merupakan elemen penting dalam proses mewujudkan tujuan. Ketika manusia kehilangan sikap optimisme dalam dirinya, maka hidupnya akan berlangsung monoton tanpa dorongan semangat. Sikap optimis sejalan dengan aliran psikologi positif yang digagas oleh Martin Seligman, seorang psikolog Amerika Serikat yang aktif menyuarakan penerapan ilmu psikologi bagi tubuh manusia yang optimis dan mempunyai mental positif dalam menjalani hidup. Jauh dari prasangka negatif seorang manusia tentang depresi, apatis, pesimis dan sejenisnya.

Psikologi positif memasukan nilai-nilai religius sebagai faktor yang membangkitkan pengaruh progresif dalam diri manusia. Pemuda yang optimis akan menularkan semangatnya terhadap lingkungan sekitar. Begitu juga dengan pemuda yang pesimis, ia akan menyebar virus kemalasan kepada sekelilingnya. Disinilah peran agama sangat penting dalam membangun semangat dalam mencapai tujuan di dunia dan alam setelahnya.

Islam mengajarkan manusia bersikap optimis terhadap masa depannya. Optimisme menjadi faktor penting dalam menggerakan roda kehidupan manusia demi kemashlahatan dan kebahagiaan banyak orang. Sehingga bisa mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Al-Qur’an menerangkan kepada umat Islam untuk bersikap optimis:

“Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan”( Al-Insyirah ayat 5-6).

Dalam kandungan ayat ini, Allah menerangkan bahwa setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan secara bersamaan, bahkan sampai dua kali. Hal ini menyadarkan manusia terutama bagi pemuda agar siap untuk menghadapi kesulitan dengan keyakinan serta tetap berdoa kepada Allah SWT. Karena setelah kesulitan, akan datang kemudahan. Harapan yang sungguh-sungguh untuk kebahagiaan hidup di dunia dan alam kekal di akhirat menyebabkan manusia berprilaku positif sebagai generasi Islam. Pondasi optimisme yang sesuai dengan ajaran Islam diekspresikan dengan memperbanyak berbuat baik, sehingga bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Baca Juga:  Membina Rumah Tangga Samawa, Berikut Penjelasan Imam Ghazali

Sikap optimis juga tercermin dari tauladan Nabi Yusuf yang dimasukan kedalam sumur oleh para saudaranya. Dalam situasi yang sulit pun, Keyakinan Nabi Yusuf kepada Allah tetap kuat, sehingga Allah SWT menyelamatkannya dari dalam sumur. Pada akhirnya, saudara-saudaranya yang berbuat zalim pun mendapat balasan yang setimpal akibat tindakannya.

Al-Qur’an menegaskan akan pentingnya bersikap optimis dalam surat Al-Hijr ayat 56 “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”. Allah menegaskan dalam firman-Nya bahwa umat Islam dianjurakan untuk tetap berusaha dan jangan berputus asa, karena pemuda yang pesimis sejatinya bukan ciri-ciri umat Rasulullah Saw.

Percaya Terhadap Ketetapan Tuhan

Setiap manusia memiliki seni kehidupan yang berbeda, ada yang terlahir ke dunia dengan keadaan yang serba kecukupan, ada juga yang terlahir dengan keadaaan tidak mampu dan serba kekurangan. Banyak orang yang terlahir dengan nikmat fisik yang sempurna, namun tidak sedikit juga yang terlahir dengan kondisi fisik kurang sempurna.

Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, sejatinya hanya titipan dari tuhan. Semua pasti ada maksud tersendiri yang sudah ataupun belum disadari. Apapun pemberian Tuhan, satu hal yang perlu diyakini bahwa semua itu pasti ada hikmahnya.

Apapun kekurangan yang dimiliki, jangan lantas membuat kesimpulan untuk menyerah dengan keadaan. Pesimisme tidak bisa langsung dikubur sampai hilang total dari dalam diri, namun itu bisa ditutupi dengan sikap optimis yang terus ditumbuhkan lewat upaya yang maksimal serta menjalin hubungan yang baik dengan Allah SWT. Terlebih bagi manusia yang diberikan nikmat fisik sempurna dan akal yang sehat, sehingga tidak ada alasan untuk bermalas-malasan demi mencapai keinginan.

Ketika generasi muda sudah bisa mengubur hambatan sikap pesimisnya, selanjutnya membiasakan untuk bersikap optimis, sampai titik ketika optimisme menjadi karakter dan kebiasaan setiap hari. Generasi muda yang mempuyai motivasi positif akan mampu mengembangkan seluruh potensinya dan sangat mungkin untuk melampaui hambatan keterbatasannya. Manusia bisa merencanakan, namun tetap tuhan yang menentukan. Oleh karena itu, harus tetap berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT apapun hasil yang diterima, karena Allah SWT lebih tahu apa yang manusia butuhkan, bukan apa yang manusia inginkan.

Febi Akbar Rizki
Santri Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek, Alumnus S1 UNISMA Malang, Penulis Buku Menjadi Generasi Optimis dan Nasionalis, Ketua PKPT IPNU Unisma, Pengurus PC IPNU Kota Malang, Penggerak Gusdurian, Penyunting Buku Dzikir Pena Santri, Penyunting Buku Khutbah Jum'at 7 Menit (KH Marzuki Mustamar), dan Editor Penerbit Literasi Nusantara.

Rekomendasi

Fakhri Al-Razi
Kisah

Fakhri Al-Razi (4)

Ulama Rasionalis-Progresif Membaca karya-karya Fakhri al-Razi yang membentang luas, berjilid-jilid dan bermacam-macam itu, ...

Tinggalkan Komentar

More in Pustaka