Mensyukuri Nikmat Hidup

Hari ini, 10 Januari 2021 adalah hari sangat-sangat penting bagi semua anak Adam yang injakkan kaki di bumi Allah swt sekian tahun yang lalu dan khususnya saya 64 tahun yang lalu. Saya sangat bersyukur dan terima kasih telah dilahirkan dari seorang wanita, Ibunda Maimunah dan Ayahanda Abdul Wahab tersayang di Desa Blimbing, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa Timur.

Walau saya hanya satu tahun dalam pelukan kasih sayang dan balutan doa Ibu, di samping bimbingan dan didikan serta doa yang terus mengalir dari ayah hingga usiaku menginjak 30 tahun, di tahun 1987. Semoga Allah swt selalu mengampuni dan mengasihsayangi keduanya. Aamiin.

Mensyukuri usia yang dapat menginjak hari ini patut diikhtiarkan dan dijalankan. Apalagi jika melakukan flashbak bahwa ada sahabatku waktu belajar di MI/SD, SMP/PGA 4 th, PGA 6 th, SGPLB, S1, S2, dan S3 yang sudah kembali ke rahmatullah.

Demikian juga ada teman seangkatan prajabatan waktu awal bekerja di IKIP YOGYAKARTA/UNY yang juga sudah kembali kepada-Nya, hingga di usia ini sudah injak 36 tahun mengabdi di UNY, bahkan telah abdikan sebagai pimpinan UNY di usia 52-60 tahun. Suatu karunia Allah swt yang sungguh-sungguh mulia dan besar artinya yang patut disyukuri.

Tidak terasa selama 64 tahun saya telah hirup udara tiada henti. Siang dan malam telah kulalui dengan ragam kegiatan. Bermain, belajar, beraktivitas, dan istirahat kulalui dengan silih berhenti.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya:”… dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, (Qs. An-Naba: 9-11).

Kenikmatan yang tiada terhingga telah saya rasakan, baik di saat kecil, usia anak-anak, remaja, dewasa awal, dewasa akhir, maupun di usia lanjut ini. Begitu banyak macam kenikmatan itu, sehingga sangat wajar ketika Allah Ta’ala mengulang-ulang kalimat فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَان “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” sebanyak 31 kali dalam QS Ar Rahman sebagai sebuah penekanan dan peringatan terhadap berbagai nikmat yang telah diberikan-Nya agar manusia bersyukur dan berterimakasih.

Jika saya renungi bahwa kegiatan belajar telah saya lalui sejak usia kecil melalui belajar di TK dengan segala kesederhanaannya di kampung saat itu yang dari keramaian hingar bingar kota. Juga belajar mengaji di masjid kampungku dengan lampu ublik. Dengan adanya semangat belajar yang tinggi, membuat saya belajar keras dan tekat yang kuat di tengah-tengah keterbatasan saat itu.

Baca Juga:  filsafat Hidup

Saya merasakan betul, keterbatasan bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai tantangan untuk maju. Dengan kesungguhan itu kutembus beasiswa untuk studi sejak S1, S2, hingga S3 baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Jenjang pendidikan setinggi apapun yang saya capai tidak akan berarti jika tidak dapat mendidik saya untuk ingat pada masa depan, utamanya kematian. Hal ini menguatkan saya kepada sabda Rasulullah saw yang artinya :

”Bersama sepuluh orang, aku menemui Nabi SAW lalu salah seorang di antara kami bertanya, ‘Siapa orang paling cerdas dan mulia wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab, ‘Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat’.” (HR Ibnu Majah).

Selain orang yang cerdas juga yang penting dalam hidup adalah orang yang baik. Karena itu saya terus bertekad ingin menjadi orang yang baik dalam mengisi usia ini. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

‎خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Alhamdulillah saat ini saya merasakan panjang usia tidak hanya dibandingkan dengan teman-teman saya yang sebaya, tapi juga yang lebih muda daripada saya. Bahkan saya sudah melebihi setahun dari usia Rasulullah yang 63 tahun.

Mari kita renungkan firman-firman Allah sebagai berikut: “Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (nya). Maka, apakah mereka tidak memikirkan.” (QS Yaasiin : 68).

Bila mengacu pada Rasulullah saw beliau wafat di usia 63 tahun, maka dapat dikatakan bahwa umur pertengahan saat dewasa adalah 40 tahun. Mari cermati dan renungi firman Allah swt; “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga bila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS Al-Ahqaaf : 15).

Baca Juga:  Berhenti Insecure dengan Bersyukur

Bagi kita yang menuju usia senja banyak dihadapkan berbagai penyakit, baik yang mudah diobati maupun yang sulit. Bahkan dengan obat yang tersedia ada yang tidak mempan. Yang terjadi kita hanya semakin mendekati usia akhir. Jika kita mati dan akhirnya kita memasuki yaumil hisab maka yang akan kita hadapi adalah mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lalui di bumi. Rasulullah saw bersabda ;

‎لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ)

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).

Menyadari akan Hari Hisab, maka kita senyampang masih menikmati usia yang tersisa ini, kita upayakan untuk memperkuat dan memperbanyak amalan yang berpotensi dapat mengalirkan pahala walau kita sudah wafat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Jika mati anak Adam terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang berdoa kepada ibu bapaknya.” (HR. Muslim).

Dengan kondisi usia yang memasuki lanjut, maka tidak bisa dipungkiri, kekuatannya semakin hari semakin melemah. Kita tidak bisa pungkiri. Sebagaimana Allah Swt berfirman, “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, (bayi) kemudian dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, (dewasa) kemudian dia yang menjadikan kamu sesudah kuat lemah kembali (tua) dan beruban. Dia yang menciptakan apa yang dikehendakiNya. Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. ar-Rum: 54).

Jadi perubahan diri secara evolusioner ini merupakan sunnatullah. Karena itu sisa-sisa usia perlu dimanaj dengan baik sehingga berakhir dengan baik pula. Di ujung usia ini yang kita hadapi adalah saat-saat kematian. Kita tidak memiliki kemampuan dan kewenangan untuk menentukan, karena semuanya ada di tangan-Nya. Sebagaimana firman Allah swt :

‎فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Baca Juga:  Mensyukuri Nikmat di Musim Pandemi Covid-19 Tanpa Mematikan Kepekaan Terhadap Sesama

“Apabila telah tiba waktu ajal yang ditentukan bagi mereka, tidaklah bagi mereka dapat mengundurkannya barang sesaat dan tidak pula mendahulukannya.” (QS. An Nahl: 61).

Semua orang tentu menginginkan wafat dalam keadaan husnul khatimah (penutup yang baik). Allah swt juga mengingatkan untuk mengakhir hidup dengan husnul khatimah melalui firman-Nya, yang artinya; Ya Allah, Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.” (QS. Yusuf :101). Juga Rasulullah saw
mengajarkan sebuah doa memohon husnul khatimah yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani. Berikut doa yang diajarkan Rasulullah SAW:

‎اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِيمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ

Artinya:
Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadap-Mu.

Adalah sangat disadari bahwa Hari Kiamat adalah hari akhir yang belum diketahui pasti waktunya. Sebelum menuju ke alam akhirat semua insan harus menunggu di alam kubur. Nabi saw bersabda, “Kubur itu boleh menjadi sebagai taman surga dan boleh menjadi sebagai lobang neraka.” (HR. Tirmizi). Terkait kematian, Saidina Ali ra berkata, “Dunia pasti ditinggalkan pergi, sedangkan akhirat sudah siap sedia menanti.” Katanya lagi, “Kematian terus mendekati kita.”

Karena itu untuk mendapatkan kehidupan yang baik untuk seterusnya, mari kita upayakan sisa-sisa lebih banyak berbuat kebaikan, daripada berbuat kemaksiatan. Memang tidak mudah, karena syaitan pun selalu menggoda kita tanpa lelah. Badan atau fisik kita boleh semakin lemah, tetapi mental dan spiritual kita harus semakin menguat. Fastabiwul khairat, Fafirruu ilallaah, dan taqarrub ilallaah. Akhirnya semoga kita termasuk golongan orang-orang yang berjiwa tenang. (Yaa ayyuhan nafsul muthmainnah irji’ii ilaa rabbika raadliyatam mardliyyah fadlhulii fii ‘ibaadii wadkhulii jannatii).

Akhirnya dengan penuh rasa tawadlu, saya mohon maaf atas segala kekhilafan dan hal-hal yang kurang berkenan selama ini dan menghaturkan banyak terima kasih atas semua kebaikan para sahabat fb yang telah memberikan banyak masukan baik langsung maupun tidak langsung, sehingga saya bisa memasuki usia 64 tahun dalam keadaan baik. Demikian juga saya masih bisa berhikmat untuk sharing Ilmu Allah swt, semoga bisa bermanfaat. Juga semoga saya masih bisa istiqamah untuk berbagi. Aamiin yaa mujiibas saailiin. []

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    1 Comment

    1. […] kita hidup hanya untuk mempertahankan hidup. Semua orang ingin dan sangat berambisi untuk mencari kenikmatan hidup selama-lamanya di sini, meski tahu itu tak mungkin. Setiap yang hidup pasti akan mati. Semuanya […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah