Di tengah minimnya pembahasan tentang ketokohan perempuan Muslimat NU, terdapat sosok Ibu Asmah Sjachruni, perempuan yang sering disebut Singa Podium oleh sahabat-sahabat nya ketika ia bergelut di organisasi perempuan Muslimat NU maupun ketika ia memilih untuk menjadi anggota DPR RI.

Perempuan kelahiran 28 Februari 1927 di Rantau, Kandangan Kalimantan Selatan ini, berasal dari keluarga sederhana yang kuat memegang tradisi serta kuat akan pemahaman keagamaannya, khususnya Nahdlatul Ulama (NU). Di daerahnya, NU dianggap pas karena ajaran NU selalu mengikuti petunjuk Ulama dan tidak mengekang wanita. Itulah yang kemudian membuatnya yakin untuk aktif di Muslimat NU sejak tahun 1952, di usianya yang ke 25 tahun.

Sebagai anak pertama dari ke sembilan bersaudara, Asmach dari muda sudah terbiasa untuk membantu adik serta keluarganya untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada. Beruntungnya juga, Asmach mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) selama 5 tahun di samping Ayahnya yang juga selalu mengajarkannya tentang Ilmu Fiqih dan Tauhid dasar. Termasuk salah satu pengajar di SR tersebut adalah Bibi nya sendiri yang seorang nasionalis tulen. Asmach dan Bibinya menyukai sastra, mereka sering bersyair bersama, syair itu berjudul Di Timur Matahari yang berbunyi Di Timur Matahari, Mulai Bercahaya, Bangun dan berdiri kawan semua, Marilah mengatur barisan kita, Pemuda pemudi Indonesia.

Nama Sjachruni ia dapat dari suaminya yang bernama Sjachruni, yang masih merupakan keluarganya juga. Kedua orang tua mereka dari pihak ayah mereka masih sepupu. Mereka menikah setelah 6 (Enam) bulan mereka bertunangan.

Sosok yang Gigih

Pada saat ia muda, adalah saat dimana pendidikan untuk perempuan dianggap sebelah mata, yang membuat perempuan sulit untuk mendapatkan hak dalam berpendidikan. Itu karena, Pertama, anggapan sebuah keluarga yang menganggap bahwa pendidikan itu tidak penting bagi anak perempuan. Kedua, tenaganya diperlukan untuk bekerja di sawah oleh karenanya perempuan harus segera dicarikan suami untuk menambah tenaga kerja untuk keluarga. Ketiga, adalah aib kalau perempuannya tidak segera menikah. Dan itu mungkin memang sengaja diciptakan oleh Bangsa Penjajah agar orang pribumi tidak maju dan berkembang. Sebaliknya, anak pejabat yang bekerja pada belanda diperbolehkan sekolah sampai MULO (sekarang SMA).

Baca Juga:  Bangga Berproses di IPNU IPPNU

Tapi hal itu tidak berlaku bagi Asmah, sebagai pemuda pribumi yang ingin maju dia sangat teguh untuk mengenyam pendidikan di sekolah umum. Beruntung, kakeknya Iskandar yang seorang tokoh membuatnya mempunyai kesempatan untuk mengikuti kelas. Ketika dia kelas 4, Asmah mulai merasa memiliki pandangan yang tidak sama dengan orang tuanya. Pandangannya jauh ke depan, meski dia perempuan dia harus menikmati pendidikan. Memang pertentangan dari keluarga Sang ayah muncul karena masih menganggap tabu perempuan berpendidikan. Akhirnya Asmah lulus kelas lima pada usianya yang ke 14 tahun. Seusai menikah, Ashma menjadi guru. Peranannya sebagai guru tidak hanya sebagai panggilan nurani untuk mengajar dan memberantas kebodohan, namun juga dipakai untuk menjadi penghubung antara pasukan di pedalaman dan orang-orang kota.

Berjuang di Muslimat NU

Setelah melakukan perjuangan panjang, akhirnya Muslimat NU diterima dengan suara bulat pada tanggal 19 Maret 1946 saat Muktamar NU di Purwokerto. Kelahiran Muslimat NU merupakan bentuk kepedulian Ulama Perempuan Nahdlatul Ulama yang berasal dari kalangan pesantren juga tidak kalah dengan pejuang-pejuang perempuan Indonesia lainnya.

Sosok Asmach Sjachruni hadir di lingkungan Pengurus Pusat (PP) sejak Kongres Muslimat NU di Solo tahun 1962. Namanya Ny. Mahmudah Mawardi perempuan kuat yang sudah 28 tahun memimpin Muslimat NU (1952, 1956, 1959, 1962, dan 1967). Ny Mahmudah meletakkan jabatannya pada Kongres Muslimat di Semarang tahun 1979, dan Asmah Sjachruni menggantikannya pada periode selanjutnya.

Asmah membawa Muslimat NU pada organisasi perempuan Muslimah yang tegas, dia mempunyai motto: Jangan meminta jatah atau keistimewaan karena kodrat perempuan kita. Tapi kita harus menuntutnya jika memang layak untuk kita. Jadi, ada perjuangan. Kalau perlu kita rebut posisi itu dengan argumentasi yang tepat. Itu namanya berjuang. Jangan sekali-kali berharap diberi. Tak bakalan wanita akan diberi hak-hak yang lebih tinggi oleh kaum pria.

Baca Juga:  Kiai Irfan Bin Musa dan Tradisi Pesentren Salaf di Kaliwungu

Menjadi Anggota Parlemen

Menjadi Pimpinan Muslimat NU sekaligus menjadi anggota parlemen memang banyak mendatangkan manfaatnya. Suami juga ikut pindah ke Jakarta demi memberikan dukungan penuh terhadap Asmah. Akses yang dimiliki Asmah dipergunakan penuh untuk kepentingan Muslimat dan masyarakat. Ia membentuk Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM) yang bergerak di bidang sosial.

Rapat-rapat di DPR dulu juga ada yang hingga larut malam. Terutama panitia anggaran. Karena rumahnya dekat, hal itu tidak menjadi masalah. Asmah biasanya diantar dan dijemput suaminya dengan menaiki Becak. Maklum, saat itu DPR masih miskin dan tidak ada jatah mobil. Gaji sekitar Rp 1.050 yang dipotong untuk organisasi, buat Muslimat dan juga buat NU.

Peristiwa G 30 S/PKI membuat situasi politik kacau balau. Hingga akhirnya Asmah dan KH Ahmad Widjaja ditunjuk sebagai perwakilan dari Fraksi NU sebagai juru bicara. Sidang istimewa MPRS di tengah situasi politik memanas tahun 1965. Pidato yang disampaikannya antara lain meminta pertanggungjawaban Bung Karno terhadap peristiwa tersebut. Dan dinilai pidato dari Asmah lah yang paling menukik tajam dari pada fraksi-fraksi yang lain. Hingga julukan “Singa Podium” yang sering diberikan orang untuknya.

Meski lahir dari keluarga sederhana, sosok Asmah dengan kegigihannya belajar dari kecil hingga ia menjadi pucuk pimpinan Muslimat juga sebagai anggota Dewan menunjukkan betapa hidup seorang Asmah Sjachruni memang digunakan untuk mengabdikan diri kepada Muslimat dan Masyarakat kecil. Keadaan yang tidak serba hedon tidak membuatnya mengeluh dan berhenti atas ketidakstabilan keadaannya. Ia justru bangkit dan menginspirasi banyak perempuan-perempuan Muslimat NU untuk tidak berdiam diri, namun justru berjuang melawan ketidakadilan melalui organisasi Nahdlatul Ulama.

Asmah Sjachruni di Mata Gus Sholah

Baca Juga:  Sobat Ambyar: Anak Muda dan Bahasa NU

Ibu Asmah memulai karir betul-betul dari bawah. Beliau tidak berasal dari keluarga yang mempunyai nama besar. Jadi dapat dikatakan bahwa keberhasilan yang diraihnya adalah betul-betul mengandalkan dirinya sendiri. Bu Asmah menjadi pimpinan Muslimat Nu di usia yang relatif muda pada 25 tahun.

Para kader sudah semestinya meniru jejak Ibu Asmah yang pendidikan formalnya tidak tinggi tetapi bisa menunjukkan bahwa Islam pada dasarnya tidak menghambat kemajuan perempuan. Latar belakang sosial budaya dan tingkat pendidikanlah yang menimbulkan penafsiran yang kurang mendukung untuk kemajuan Muslimat.

Tokoh Muslimat masa kini, tentu harusnya bisa lebih leluasa dan lebih kaya wawasan dalam memberikan penafsiran yang sesuai dengan konteks zaman, tanpa harus meninggalkan esensi pesan Al quran dan Hadis Nabi.

*Pernah dimuat di Majalah Tebuireng Edisi 49 tahun 2017

Rifatuz Zuhro
Pegiat Konten Keislaman dan Keindonesiaan, serta Redaktur Pesantren.ID

    Rekomendasi

    1 Comment

    1. […] hutang bagi siapa saja yang mau bergabung dengan gerakan keagamaan ini. Menurut Hj. Azizah, anggota Muslimat NU yang kepincut pada aliran ini memang sedang terjerat hutang akibat bisnisnya yang […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Perempuan