Kala muslimat NU kepincut paham radikal

Humor ini didapat saat penulis melakukan penelitian tentang peran strategis Muslimat NU dalam menetralisir paham-paham ekstremisme agama di Madura. Saat itu obyek yang diwawancarai adalah Hj. Sitti Azizah yang menjabat ketua ranting Muslimat NU Desa Jarin Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan-Madura.

Pada sesi wawancara ini, Hj. Azizah  bercerita seputar keberhasilannya menggagalkan niat anggotanya yang ingin keluar dari barisan Muslimat NU dengan alasan telah menemukan paham Islam baru yang amalannya jauh lebih kaffah dibanding NU. Anggota Muslimat NU ini menilai jika praktik keberagamaan di NU kurang Islami.

Ketertarikannya terhadap aliran keislaman di luar NU ini mulai dirasakan semenjak dia diajak sepupunya berkunjung ke salah-satu kegiatan rutin suatu aliran keagamaan di sebuah kecamatan di Kota Kediri. Sesampainya di lokasi ia terpesona dengan para anggotanya yang menurutnya berpenampilan serba ‘islami’.

Mereka yang hadir ke acara itu rata-rata bergamis, berkerudung panjang, dan bahkan ada juga yang bercadar bagi jamaah muslimahnya. Sedangkan bagi jamaah muslimin, mereka rata-rata menggunakan jubah, berjenggot lebat, berjidat hitam, dan dikelilingi sorban di sekujur tubuhnya.

Hal yang lebih menakjubkan baginya adalah tausiyah tokoh agamanya yang menjamin kelancaran rezeki dan terbebas jeratan hutang bagi siapa saja yang mau bergabung dengan gerakan keagamaan ini. Menurut Hj. Azizah, anggota Muslimat NU yang kepincut pada aliran ini memang sedang terjerat hutang akibat bisnisnya yang bangkrut.

Selain dijanjikan terbebas hutang, mereka yang hadir di forum itu juga dijamin akan langsung mendapat tiket surga disebabkan oleh keberadaan aliran ini yang murni bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah serta terbebas dari unsur-unsur syirik dan bid’ah.

Mendengar alasan yang disampaikan anggotanya itu, Hj. Azizah dengan santai menjawab, “Bu, kalau sekedar membayar hutang, semua orang, apalagi yang beriman, akan mudah membayar hutang jika ia mau bekerja keras dan senantiasa berdoa kepada Allah, hutang tidak akan mungkin lunas hanya gara-gara masuk aliran islam tertentu”.

Baca Juga:  Ketua Umum PBNU Tegaskan R20 Bukan Sekadar Agenda, melainkan Gerakan Global

Hj. Azizah kemudian melanjutkan jawabannya, “Perihal jaminan masuk surga, semua muslim memang ditakdirkan masuk surga, jikalau mengakhiri hidupnya dengan jalan husnul khatimah. Jika banyak dosanya tentu akan dicuci dulu di neraka sampai bersih, baru diangkat ke surga. Kalau hanya berdiam diri dan tidak pernah salat, puasa, dan zakat, lalu ada jaminan surga, itu yang tidak masuk akal. Kurang tahu kalau di surga dia punya ‘orang dalam’ (reng dalem)”.

Ungkapan ‘kurang tau kalau dia punya orang dalam’, adalah naluri cerdas Muslimat NU yang mencoba menjawab persoalan serius dengan nada humor. Keberadaan surga dan neraka adalah sesuatu yang sakral dalam beragama, tetapi oleh kaum nahdhiyyin malah dibuat guyonan dengan mendeskripsikannya terhadap fenomena masa kini seputar mudahnya seseorang diterima kerja atau lolos dalam suatu seleksi disebabkan keberadaan ‘orang dalam’.

Terkait jubah dan jenggot, Ketua Muslimat Ranting NU itu menjawab dengan bernas: “Kalau sekedar jenggot yang lebat, jangan terlalu heran deh bu, di zaman sekarang di pasar sudah banyak obat-obatan pelebat bulu, dan jubah pun sudah banyak dijual di pasar, bahkan kalau ibu mau, akan saya belikan dan silakan dibagikan ke suami, biar ibu kagumnya cukup ke suami saja, bukan sama orang lain di luaran sana”.

Jawaban ini seolah menegaskan jika mode berpakaian jubah dan tradisi melebatkan jenggot bukanlah sesuatu yang istimewa dalam beragama, sebab semua orang sudah bisa secara bebas membelinya di pasar. Jubah tak ubahnya seperti model-model pakaian lainnya sebagai penutup aurat saat melangsungkan ibadah salat.

Disamping itu, penegasan agar kagumnya hanya kepada suami adalah ajaran kesetiaan para Muslimat NU pada sosok suaminya. Ajaran setia kepada suami adalah ajaran mulia Islam tentang pentingnya membina harmonisme dalam kehidupan berkeluarga. Ajaran ini tentu lebih mulia dari sekedar mode berjubah dan berjenggot dengan deretan ‘selir’ di sampingnya. [HW]

Muwaffiq Jufri
Dosen Hukum Tata Negara Universitas Trunojoyo Madura; Kader Penggerak NU Kabupaten Bangkalan; Alumni Pondok Pesantren Matsaratul Huda Pamekasan, Madura.

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini