Satu Hari Akhirat Sebanding dengan Seribu Tahun di Dunia

Satu hari akhirat sebanding dengan seribu tahun di dunia. Ayat ini membuat Khatib al-Baghdadi merenung, apakah seribu tahun ini berlaku untuk orang kafir saja ataukah juga untuk orang beriman? Ia masih merenunginya.

Sewaktu hendak mandi sunnah Jumat, Khatib al-Baghdadi turun ke sungai. Istrinya berpesan untuk mandi lama-lama, biar setelah mandi bisa langsung mencicipi makanan yang sedang ia masak. Ia pun menyelam ke dalam sungai. Usai menyelam, keajaiban terjadi. Pakaian dan handuknya hilang. Kondisi di sekitar sungai juga berubah drastis.

Ia lalu berjalan menuju rumah, tapi rumahnya hilang entah kemana. Istrinya juga hilang. Ia pun menuju masjid untuk Jumatan dengan pakaian pemberian dari orang.

Di Masjid, rupanya tuan khatib tidak hadir. Khatib al-Baghdadi pun maju menjadi khatib dadakan. Usai salat Jumat, masyarakat banyak yang menyukainya. Khutbah yang ia sampaikan memukau. Ia kemudian di tokohkan di masyarakat yang asing baginya.

Hingga akhirnya ia hidup di lingkungan istana. Raja menghadiahi Khatib al-Baghdadi seorang gadis cantik untuk dijadikan istri. Dari pernikahan ini ia mempunyai beberapa anak.

Kehidupannya berjalan dengan damai. Hidupnya bahagia bersama istri dan anak-anaknya, hingga ia juga punya banyak cucu. Semua keluarganya dihormati orang. Dan kehidupan ini berjalan sekitar 50 tahun setelah ia mandi di sungai yang saat itu baju dan handuknya hilang.

Di suatu Jumat yang lain, ia rindu mandi di sungai. Karena sejak 50 tahun terakhir ia mandi di istana. Ia pun turun lagi ke sungai dan menyelam. Usai menyelam, ia dapati pakaian dan handuknya dulu ada di batang. Kondisi sekitar pun kembali seperti dulu, tak ada perubahan. Lalu ia menuju rumahnya. Ia dapati rumahnya masih ada, dan istrinya yang sedang memasak pun ada. Istri bilang, “Kok mandinya sebentar, ini masih belum matang masakannya”.

Khatib al-Baghdadi langsung mengucap Subhanallah walhamdulillah, karena telah menjadikan waktu menyelam sekejap terasa 50 tahun. Ia pun menyimpulkan, di padang mahsyar yang terik itu hanya sebentar bagi orang yang beriman, dan lama bagi orang kafir dan pendosa.

Dikutip dari kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin al-Qalyubi. [HW]

Nur Hidayatullah
Alumni PP Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai Kalsel, Penulis Buku KH Idham Khalid Dimensi Spiritual & Negarawan Agamis, Dosen Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini